Halaqoh IPNU Martapura: Dari Fiqih Lingkungan Hingga Pengelolaan Sampah Berbasis Pesantren

Banua.co, MARTAPURA – Fiqih Lingkungan belum menjadi bidang kajian yang populer, khususnya di kalangan pelajar. Padahal, ilmu Fiqih mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam.

Demikian disampaikan Khairullah Zain, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar dalam acara Halaqoh Lingkungan yang digelar Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Pimpinan Komisariat (PK) Ponpes Darussalam di RTH Ratu Zaleha Martapura, Jumat (21/2).

Dalam paparannya, Khairullah Zain yang juga bagian Komunitas Aktivis Muda Nahdhiyyin Banua (Amanna Community) itu menguraikan prinsip maqashid al-syari’ah sebagai nalar pembentuk Fiqih Lingkungan (fiqh al-bi`ah).

Dalam ilmu Syari’at dikenal apa yang disebut dengan maqashid al-syari’ah sebagai landasan hukum syari’at. Dikatakan bahwa prinsip atau tujuan (maqashid) syari’at ada lima, yaitu hifzh al-din (menjaga agama), hifzh al-nafs (menjaga jiwa), hifzh al-‘aql (menjaga akal), hifzh al-nasl (menjaga keturunan) dan hifzh al-mal (menjaga harta).

Akan tetapi, lima tujuan syari’at itu takkan tercapai tanpa memelihara lingkungan. “Bagaimana kita bisa menjaga jiwa dan keturunan kita, misalnya, jika lingkungan malah mengancam keselamatan kita? Jadi sebelum memelihara yang lima itu, terlebih dahulu kita harus memelihara lingkungan,” paparnya.

Sementara itu, Gusti Marhusin, selaku pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PWNU Kalimantan Selatan, menekankan pada perilaku masyarakat dalam menyikapi sampah. Sekarang memang sudah ada program 3R untuk mengelola sampah, yakni Reduce (mengurangi), Reuse (guna ulang), Recycle (daur ulang). Hanya saja, menurut Gusti Marhusin, program itu harus didukung dengan perilaku masyarakat.

“Yang terpenting adalah perilaku kita sebagai anggota masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Program 3R juga tidak akan berguna tanpa perilaku kita yang sadar akan pentingnya mengelola sampah. Jadi mulailah dari diri sendiri”, ujarnya.

Adapun Kisworo Dwi Cahyono, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Selatan menceritakan pengalamannya bersama Walhi Kalimantan Selatan yang selama ini mengawal lingkungan hidup dan melakukan aksi-aksi dan mediasi dengan pemerintah sebagai pemangku kebijakan dalam bidang lingkungan hidup, khususnya dalam mengelola limbah-limbah industri.

Dirinya juga menghimbau kepada seluruh anggota IPNU dan lembaga-lembaga di bawah naungan NU agar turut serta mendorong pemerintah mengelola limbah dan sampah dengan program-program kreatif. “Para santri sendiri bahkan bisa menginisasi program kreatif pelestarian lingkungan, seperti pengelolaan sampah berbasis pesantren. Bukankah menjaga lingkungan juga menunjang pelaksanaan ibadah?” tambahnya.

Editor: Yunizar Ramadhani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *