Haul Abah Guru Sekumpul dan Ekspresi Cinta Kita

Bagi penulis, peringatan Haul Abah Guru Sekumpul adalah suatu upaya mengekspresikan cinta atau emosi ketertarikan atas sosok Abah Guru Sekumpul. Ekspresi yang tentu saja tidak bisa disamaratakan pada setiap orang.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Haul Abah Guru Sekumpul dan Ekspresi Cinta KitaSecara bahasa, ekspresi adalah pengungkapan atau proses menyatakan. Sementara, cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi.

Haul Abah Guru Sekumpul, sebagai bentuk peringatan atas hari wafatnya ulama besar Kalimantan, KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang dikenal dengan Abah Guru Sekumpul, adalah suatu upaya mengenang kembali sosok teladan yang telah berkiprah tidak hanya sebagai pembimbing umat, tapi juga sebagai “Abah” atau ayah bagi santri dan muridnya.

Baca Juga Abah Guru Sekumpul, Figur Teladan yang Tak Tergantikan

Mulanya, tahun pertama wafatnya, seingat penulis, menjelang haul muncul sedikit kontroversi apakah akan dilaksanakan dengan banyak orang ataukah tidak. Hal ini karena mengingat wasiat beliau agar tidak usah di-haul-i bila dengan cara meminta sumbangan.

Namun, tidak kurang akal, para murid tetap melaksanakan acara haul dengan swadaya. Tidak meminta sumbangan, pun juga tidak menolak bila ada yang menyumbang. Bukan hanya itu, tapi juga tidak mengundang orang untuk datang. Dalam artian, siapa saja dipersilakan datang, sesuai dengan keringanan hatinya. Baik undangan pribadi ataupun undangan umum. Karenanya, jangan heran bila anda tidak menemukan baliho “Hadirilah Haul Abah Guru Sekumpul” di setiap acara Haul Abah Guru Sekumpul di Sekumpul Martapura.

Metode inilah yang kemudian terus berulang di setiap tiba haulnya. Dari semula jamaah hanya beberapa ribu, terus meningkat setiap tahunnya, hingga pada haul ke-14 tahun kemaren diperkiraan sejuta manusia hadir pada acara puncak haul.

Karena mandiri, tidak berharap apalagi meminta sumbangan, tidak mengundang apalagi promosi agar dihadiri banyak orang, maka acara ini menjadi independen dan bebas dari kepentingan. Kemurnian serta keikhlasan diupayakan terpelihara dan terjaga, hanya demi cinta semata.

Namun, tentu saja kita tidak bisa menjaga seratus persen acara ini dari orang-orang yang mencoba merusak kemurnian tersebut. Pasti ada orang-orang yang berupaya menyusupkan kepentingan pribadi ataupun kelompok di perhelatan besar ini. Entah itu demi popularitas, ataupun kepentingan lainnya. Karenanya, tidak heran bila anda menyaksikan adanya laku aneh sebagian orang, mendompleng acara haul ini. Laku yang kemudian viral dan melahirkan keterkenalan.

Tapi, kita tidak sedang dalam upaya mengkritisi hal tersebut. Biarlah semuanya kembali ke pribadi masing-masing. Toh, dalam Al-Qur’an sudah ditegaskan, bahwa setiap orang akan menerima balasan atas apa yang ia lakukan. Pun juga dalam hadits kita diingatkan, bahwa setiap perbuatan dinilai berdasarkan niatnya.

Bagi penulis, peringatan haul adalah suatu upaya mengekspresikan cinta atau emosi ketertarikan atas sosok Abah Guru Sekumpul. Ekspresi yang tentu saja tidak bisa disamaratakan pada setiap orang.

Sebagai sebuah ekspresi atau ungkapan, maka emosi yang semula abstrak ternyatakan dan bisa disaksikan. Dari yang semula terpendam, menjelma dalam sebuah laku dan perbuatan.

Tentu saja, ekspresi ini kemudian berkelindan dengan latar belakang, pengalaman hidup, pendidikan, lingkungan keluarga, status sosial, ekonomi, pun juga kadar cinta subjek pecinta.

Seorang ahli ibadah misalnya, ia akan mengekspresikan cintanya dalam bentuk memperbanyak ibadah untuk kemudian dihadiahkan pahalanya kepada Abah Guru Sekumpul. Seorang pengkaji ilmu, ia lebih tertarik mengkaji dan menggali keilmuan serta keteladanan Abah Guru Sekumpul. Seorang berharta, ia akan mempersembahkaan hartanya. Seorang berpangkat, ia akan menggunakan pangkatnya. Semua bentuk ini dalam rangka mengejawantahkan emosi ketertarikan dan kesukaan yang bernama cinta. 

Ini pula yang terjadi pada Haul Abah Guru Sekumpul. Karenanya, tidak perlu heran atas aneka bentuk laku para pecinta beliau dalam memperingati haulnya. Semua hanyalah ekspresi dari rasa cinta yang coba dilahirkan dalam bentuk nyata.

Hanya saja, alangkah baiknya bila ekspresi cinta ini tidak keluar dari landasan utama kita, sebagai umat yang bergama Islam, yaitu norma-norma syariat dan aturan-aturan fikih. Pun juga, tidak terlepas dari apa yang pernah beliau ajarkan dan teladankan pada kita semua.

Bukankah Allah pernah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menegur orang-orang yang mengaku mencintaiNya bahwa bila benar mencintai Allah, maka ikutilah Nabi Muhammad sebagai RasulNya?

Maka, patut kita merenung, bila benar-benar mencintai Abah Guru Sekumpul, sebagai ekspresinya apa yang sepatutnya kita lakukan?

Karena, alangkah rugi bila ternyata ekspresi cinta kita justeru tidak sesuai dengan apa yang beliau inginkan. Apa artinya kita mengaku cinta namun justeru membuat beliau tidak suka?

Sekedar mengingatkan, para ulama sebagaimana dikutip Ibn Katsir dalam Tafsirnya mengatakan, “Bukanlah tujuan supaya kamu mencinta, tapi yang sebenarnya adalah bagaimana supaya kamu dicinta”.

Ini PR kita bersama…!

*) Penulis adalah santri yang pernah berjiran dan rutin hadir di pengajian Abah Guru Sekumpul sejak 1994 hingga wafatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *