IPNU Masa Depan NU

IPNU adalah masa depan NU. Karenanya, penulis seringkali menekankan kepada rekan-rekan IPNU agar dari sekarang menyiapkan diri untuk kelak mengisi ruang di tubuh NU. Ada banyak lembaga dan lajnah dalam organisasi yang menanti kader-kader IPNU untuk mengisinya. Tentunya sesuai bidang keahliannya.

Oleh : Khairullah Zain *)

Foto saya 150x150 - IPNU Masa Depan NUHari ini, 66 tahun silam, tepatnya 24 Februari 1954 bertepatan 20 Jumadil Akhir 1373, pada Kongres LP. Ma’arif di Semarang, IPNU resmi dilahirkan.

Sebagai organisasi para pelajar di lingkungan Nahdliyyin, sebelum IPNU sudah lahir beberapa organisasi yang kelak menjadi cikal bakal IPNU. Beberapa diantaranya Tsamratul Mustabidin (1939), Persono (Persatuan Murid NO, 1941), IMUNU (Ikatan Murid NU, 1945), Subahul Muslimin di Medan (1945), Ijtimatul Tholabiyah di Medan (1945), Ikatan Mubaligh NU di Semarang (1950) dan IPINO (Ikatan Pelajar Islam NO).

Setahun berlalu pasca dilahirkan, IPNU melaksanakan kongres, tepatnya 24 Februari – Maret 1955. Terpilih sebagai Ketua Umum KH. Tholchah Mansyur.

Dari rahim IPNU, kelak pada Konferensi Besar I tahun 17 April 1960 lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII.

Tahun 1967, pada Muktamar NU di Bandung, IPNU resmi sebagai badan otonom NU. Dengan demikian, maka IPNU adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan kelompok pelajar. Baik pelajar sekolah umum maupun santri pondok pesantren.

Sebagai organisasi yang isinya para pelajar dan santri, IPNU adalah pondasi awal dan pusat embrio memahami ke-NU-an. Kader IPNU dituntut memahami ke-Aswaja-an, Ke-NU-an, keorganisasian, dan beberapa materi lainnya yang ditanamkan ketika masa pengkaderan.

Ada tiga tahap pengkaderan bagi pelajar untuk menjadi seorang IPNU sejati, yaitu Makesta, Lakmud, dan Lakut.

Pada tahap Makesta atau Masa Kesetiaan Anggota, seorang kader baru belajar ber-IPNU. Pada fase ini, ia mulai belajar memahami akidah, fikrah, amaliah, Siyasah atau politik NU dan lainnya. Untuk kemudian berbaiat atau janji setia sebagai seorang pelajar NU.

Tahap selanjutnya, adalah pendalaman atas materi pengkaderan Makesta, juga latihan terapan bagaimana sejatinya kader IPNU. Pengkaderan ini disebut Lakmud atau Latihan Kader Muda.

Untuk menjadi seorang yang berkarakter pemimpin, seorang kader IPNU harus melewati tahapan pengkaderan yang bernama Lakut atau Latihan Kader Utama. Disinilah ia dikader untuk menjadi seorang pemimpin. Seorang yang mengikuti proses pengkaderan Lakut dituntut untuk membentuk idealisme dirinya dan anggotanya sehingga mampu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan skill organisatoris secara maksimal.

Pengkaderan semacam ini adalah sesuatu yang sangat penting demi kesinambungan organisasi NU. Tanpa tahapan pengkaderan, NU akan diisi oleh orang-orang yang tidak paham ke-NU-an, ke-Aswaja-an, pun juga keorganisasian.

Hadirnya orang-orang yang tidak memahami NU secara fikrah, harakah, dan siyasah -meski ia sama seperti NU dalam amaliah- menduduki posisi strategis dalam kepemimpinan di organisasi NU, akan riskan membawa NU lepas dari relnya.

Bahwa NU bukan hanya sebatas amaliah Aswaja, sebagaimana disangka sebagian orang, hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah mempelajari ke-NU-an. Terkhusus mereka yang telah menjalani tahapan pengkaderan.

Masalahnya, hari ini tidak semua pengurus adalah orang yang benar-benar mengerti dan memahami NU. Tidak sedikit, karena faktor tertentu, justeru kepengurusan diisi oleh orang yang awam NU. Problema ini urgen untuk diatasi, dibenahi, dan dicarikan solusi.

Di sisi lain, mereka yang memahami Ke-NU-an, baik karena telah mempelajarinya ataupun sebab telah mengikuti tahap demi tahap pengkaderan, tidak menyiapkan diri dengan skill yang dibutuhkan untuk mengisi ruang-ruang organisasi. Sehingga mereka tidak bisa ditempatkan sesuai keahliannya untuk ikut mengelola organisasi NU. Ini adalah dilema serius, bila kita memikirkan masa depan NU.

IPNU adalah masa depan NU. Karenanya, penulis seringkali menekankan kepada rekan-rekan IPNU agar dari sekarang menyiapkan diri untuk kelak mengisi ruang di tubuh NU. Ada banyak lembaga dan lajnah dalam organisasi yang menanti kader-kader IPNU untuk mengisinya. Tentunya sesuai bidang keahliannya.

Di hari lahir ke-66 ini, selain mengucapkan selamat, penulis ingin mengingatkan, bahwa sebagai kader IPNU, yang harus selalu kalian ingat dan doktrinkan ke diri kalian adalah : Belajar, Berjuang, Bertakwa. Semangat tiga “B” ini bila tidak hadir di jiwa kalian, maka Ke-IPNU-an kalian masih diragukan.

Teruslah belajar, kuasai bidang keahlian sesuai bakat dan minat kalian, jangan lemah semangat dalam berjuang, dan jaga selalu ketakwaan. Karena masa depan NU ada di tangan kalian.

Selamat Hari Lahir IPNU ke-66, Salam Tiga “B”.

*) Penulis adalah Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Banjar, Kalsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *