Figur Abah Guru Sekumpul, Teladan yang Tak Tergantikan

Figur Abah Guru Sekumpul hadir bukan hanya sebagai guru, tapi juga “Abah” bagi semua orang. Tidak terbatas bagi kalangan santri, tapi siapa saja, dari ragam profesi dan latar belakang.

Oleh : Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Figur Abah Guru Sekumpul, Teladan yang Tak TergantikanKemarin malam, di perjalanan dari rumah menuju RTH Ratu Zalecha, menyaksikan aneka hiasan di jalan menyambut Haul Abah Guru Sekumpul, air mata penulis menetes.

Bukan hanya tahun ini, tahun-tahun sebelumnya pun demikian. Selalu saja mata ini mengalirkan airnya. Terutama di malam puncak haul, di mana penulis sering mencuri waktu untuk menyendiri, melampiaskan emosi yang membuncah, dan hanya reda bila sudah ditandai dengan mengalirnya air mata.

Ada bermacam rasa yang tak bisa dilukiskan dan diceritakan, menggumpal menjadi satu. Rasa yang hanya bisa dinikmati sendiri dan dilampiaskan ketika sendirian.

Hari-hari biasa, meski sudah belasan tahun berlalu, penulis merasa Abah Guru Sekumpul masih ada di tengah kita. Namun pada ketika haul seolah disadarkan, bahwa beliau sudah berlalu. Meninggalkan kita semua.

Mungkin hal ini tidak dialami penulis saja. Ada ribuan manusia lain yang juga merasakannya. Haru, rindu, ingin menyaksikan lagi, ingin berhadapan lagi, membuncah ruah dalam dada. Tak reda bila tanpa air mata.

Bagi penulis, haul bukanlah ajang kita bergembira, tapi ajang kita merenungi dan menangisi ketertinggalan kita.

Ketika haul seolah Abah Guru Sekumpul menampar wajah-wajah kita, apakah ada lagi figur seperti dia.

Baca Juga Haul Abah Guru Sekumpul dan Ekspresi Cinta Kita

Secara pendidikan formal, Abah Guru Sekumpul tidak pernah mengenyam pendidikan umum bahkan setingkat SD sekalipun, hanya melulu di Pondok Pesantren. Santri tulen. Namun, senyatanya mampu membuat orang menjadi doktor, hanya dengan menulis dan meneorikan perjalanan hidupnya.

Beliau bukan alumni luar negeri. Pendidikan formalnya hanya di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Namun, faktanya mampu membuat ulama-ulama negeri lain berdatangan mengunjunginya. Tak sempat selagi masih hidup, minimal ziarah ke makamnya.

Beliau bukan professor ekonomi. Tapi sanggup menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitarnya. Silakan kalkulasi, ada berapa milyar yang tumpah ke Kalimantan Selatan ketika haulnya. Belum lagi di hari-hari biasa.

Beliau bukan ilmuan politik. Bukan pula praktisi politik. Tapi suaranya mampu mempengaruhi kondisi politik. Memberi masukan kepada pemerintah yang akhirnya menjadi kebijakan.

Beliau bukan putra seorang yang terkenal. Ayahnya hanya seorang pekerja miskin yang untuk memberi makan anak-anaknya lebih dari satu kali sehari saja tidak sanggup. Namun mampu menjadi terkenal namanya, diperhitungkan keberadaannya, dirindukan kehadirannya, ditangisi kepergiannya.

Ini adalah tamparan buat kita semua.

Di mana kebanyakan orang sibuk mencari kemuliaan dengan nilai-nilai dari luar dirinya, entah itu gelar pendidikan, jabatan, kekayaan, nama besar orangtua, Abah Guru Sekumpul justeru meneladankan bahwa yang namanya nilai itu adalah yang berasal dari dalam diri.

Bahwa siapapun kita, bisa menjadi bernilai bila mau sadar diri. Sadar bahwa kita bodoh, maka belajar. Sadar bahwa kita hina, maka merendah. Sadar bahwa kita bukan siapa-siapa, maka mengalah. Hal ini nampak terlihat dari perjalanan hidup beliau.

Sesiapa yang menelaah sejarah hidup Abah Guru Sekumpul, pasti akan menemukan nilai-nilai di atas. Di mana beliau pernah dihina, direndahkan, diperlakukan secara kasar bahkan dikeroyok, nama baiknya dijatuhkan, difitnah, dan segala macam ujian hidup lainnya. 

Miskin tidak membuatnya tergoda untuk berhenti menuntut ilmu. Dimusuhi tidak menjadikannya berhenti dalam menyebarkan ilmu. Difitnah tidak menyurutkan langkahnya dalam berdakwah. Diboikot tidak menghentikannya untuk istiqomah.

Figur Abah Guru Sekumpul bukan hanya sebagai guru, tapi juga “Abah” bagi semua orang. Tidak terbatas bagi kalangan santri, tapi siapa saja, dari ragam profesi dan latar belakang. Tentu ini menimbulkan pro dan kontra di jamannya. Tak sedikit yang mencela atau setidaknya mempermasalahkan sikap dan tindakan beliau. Namun, tidak ada satupun yang mampu menghalangi jalan yang ia pilih untuk dilangkah. Tak seorangpun yang bisa menahan caranya berdakwah.

Kini, masihkah ada figur teladan seperti beliau lagi? Wallahu A’lam, mungkin ada mungkin pula tidak. Tapi yang jelas, bagi penulis Abah Guru Sekumpul adalah figur yang tak tergantikan.

Menurut anda?

Baca Juga: Syariat Islam ala Abah Guru Sekumpul.

*) Penulis adalah salah seorang santri yang aktif menghadiri pengajian Abah Guru Sekumpul sejak 1994 hingga pengajian terakhir tahun 2005. 

One thought on “Figur Abah Guru Sekumpul, Teladan yang Tak Tergantikan

  • 27 Februari 2020 pada 09:34
    Permalink

    Ulun kd pernah satu majelis lawan sdn, kd pernah jua umpat pengajian sdn, krena uln lagi halus bnr dlutu dkmpung kd tahu napa2 kmana mana di sariki kuitan, tp pas sdn mninggal mata uln ttangis sorang…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *