Abah Guru Sekumpul Sang Matahari Zaman

Abah Guru Sekumpul umpama matahari zaman, tidak semua yang memiliki mata sanggup memandang, hanya orang-orang yang telah ditentukan Tuhan

Oleh: Muhammad Bulkini )*

“Matahari ketika tengah hari”, begitu ungkapan Syekh Shiddiq Al Madani menggambarkan kemasyhuran Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani. Metafora itu dipakai untuk menunjukkan betapa terkenalnya Syekh Samman di zamannya.

Saat peringatan haul Syekh Samman, kita sering diingatkan dengan ungkapan ini oleh si pembaca manaqib. Namun tidak semua kita dapat menggambarkan permisalan, “Matahari ketika tengah hari” pada sosok manusia di masa ini. Hingga kita dipertemukan dengan Haul Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).

Pada haul Abah Guru Sekumpul, salah seorang pewaris kemursyidan Thoriqoh Sammaniyah –tarekat yang dinisbatkan pada Syekh Samman-, kita bisa melihat perumpamaan itu. Saat menghadiri haul beliau, seolah ‘kaset’ Syekh Samman diputar ulang dengan wujud Abah Guru Sekumpul. Abah Guru Sekumpul adalah matahari zaman ini.

Beruntunglah orang yang berniat hadir, beruntung orang yang hadir, beruntung orang yang menjamu, dan beruntung orang yang dijamu.

Abah Guru Sekumpul layaknya matahari yang memancar di tengah hari, begitulah hati-hati manusia tersinari. Di penjuru mana pun dia berada dan terkena sinarnya, maka dia terseret rindu untuk menemuinya, seperti benda angkasa yang berputar mengitari Sang Surya.

Orang-orang berdatangan hanya dengan mengetahui waktu peringatan haulnya, padahal di antara yang datang tak pernah bertemu muka dan menghadiri majelisnya. Tidak ada undangan. Tidak ada minta sumbangan. Puluhan ribu orang kemudian menjadi relawan. Selain mengatur jalan dan keamanan, mereka juga menyediakan penginapan dan konsumsi gratis pada tamu haul yang jumlahnya jutaan.

Di zaman ini, belum diketahui ada peringatan haul dengan jumlah orang yang hadir sebesar ini. Getaran cinta sang ulama benar-benar menggetarkan setiap hati. Hanya dengan menyaksikan ceramah beliau di internet, orang bisa jatuh hati. Lihat, betapa mudahnya beliau dicintai.

Lantas mengapa ada saja orang yang menghinanya dan mendustakannya?

Ketahuilah, tidak semua yang memiliki mata sanggup melihat siang, hanya orang-orang yang ditentukan. Sebuah perkataan ulama mengumpamakan orang yang tak dapat sinaran matahari:

“Bukan siang yang tak tampak, mata kelelawarlah yang tak sanggup menatap.”

Walhasil kita patut bersyukur, karena dihidupkan sezaman Abah Guru Sekumpul serta diberikan cinta kepada beliau. Semoga semua orang mendapat keberkahannya. Berkah yang disebutkan dalam syair karya Guru Hakim Kampung Melayu, Martapura:

“Berkat Guru Sekumpul, Kami Semua Ngumpul
Mohon Syafaat Rasul, Dalam Surga terkumpul.”

)* Penulis adalah orang yang jatuh hati sejak lama.

Baca Juga: Kisah Ketaatan Abah Guru Sekumpul terhadap Orangtuanya.

Simak Manaqib Abah Guru Sekumpul:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *