Tasawuf Untuk Generasi Bucin

Banua.co Ada kalimat bijak, “ajarilah anakmu sesuai zamannya”. Bagaimana menjelaskan tasawuf untuk generasi bucin, generasi yang dilingkupi dengan percintaan?

Beberapa waktu lalu sejumlah pelajar SMA mendatangi saya. Mereka menanyakan apa itu tasawuf. Sebagai alumni fakultas Ushuluddin, saya mempelajari tasawuf di ruang-ruang perkuliahan, meski belum pernah menapaki secara langsung jalan spiritual itu. Maka saya mencoba menjelaskannya sesuai apa yang saya ketahui, tentu dengan gaya bahasa seperti di buku-buku.

Mereka nampak bingung demi menyimak penjelasan formal itu. Lalu saya mencoba mencari alternatif lain. Tak berapa lama saya baru sadar bahwa para pelajar itu adalah generasi terkini kita yang hidup dalam ruang lingkup budaya bucin alias budak cinta.

Entah dari mana awalnya budaya bucin tumbuh dan berkembang. Yang pasti budaya itu mempengaruhi nalar generasi zaman sekarang. Mereka memiliki sistem simbol dan sistem bahasa sendiri ala percintaan muda-mudi.

Sistem-sistem itu terwujud dalam beragam ekspresi, mulai dari percakapan sehari-hari hingga cuitan, status dan meme di media sosial. Ekspresi bucin kemudian mempengaruhi rupa-rupa informasi dan pengetahuan, mulai dari tayangan televisi, himbauan tertib lalu lintas hingga ceramah keagamaan.

Saya teringat kalimat bijak, “ajarilah anakmu sesuai zamannya” (ada yang mengatakan itu ujaran Rasulullah, ada pula yang menyatakan itu perkataan Ali ibn Abi Thalib). Karena itu, sebisa mungkin saya mencoba membangun penjelasan sederhana tentang tasawuf untuk generasi bucin. Berikut rekaman uraian singkat saya kepada para pelajar itu.

“Kamu pernah nggak jatuh cinta kepada seseorang?” tanya saya. “Pernah” jawab mereka. “Gimana rasanya?” Dengan cukup bersemangat satu-persatu menggambarkan perasaan mereka itu.

Pertama-tama sosok yang dicinta selalu muncul dalam ingatan. Kemanapun menghadap ada bayangan dirinya. Di manapun kita berada terasa kehadirannya. Telinga mendengar hanya suaranya, lidah menyebut hanya namanya. Bagi kita yang sedang jatuh cinta dirinya istimewa, seakan melebihi dunia dan seisinya.

Hari-hari diisi dengan rindu, ingin bertemu dengan sang pujaan hati. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Kenikmatan-kenikmatan duniawi jadi tak penting lagi. Ketika ada kesempatan bertemu, dada terasa sesak oleh cinta yang meluap-luap. Mulut tak dapat berbicara, mata hanya menatap wajahnya.

Tujuan-tujuan hidup menjurus ke satu titik saja, yakni bercinta dengan sang kekasih sampai habis usia. Namun sembari itu, hati dilanda oleh rasa takut akan perpisahan, dan kehilangan dirinya adalah kehancuran alam semesta. Ketika mabuk cinta sudah mencapai tingkat tertinggi, kita hanya ingin menjalani kehidupan akhirat bersama sang pujaan hati.

Demikianlah yang dirasakan seseorang yang dilanda jatuh cinta dengan segala keindahannya. Jika objek rasa cinta itu diganti, dari manusia kepada Allah, maka itulah tasawuf. Sederhananya begitu.

Bagi seorang yang bertasawuf, hubungannya dengan Allah bukan sekedar hubungan seorang hamba dengan tuannya, melainkan hubungan cinta, hubungan kekasih. Keterpusatan hati, jiwa dan raga kepada Allah Yang Maha Esa adalah ciri khas jalan spiritual ini. Kerinduan, hasrat kebersamaan dan takut kehilangan menjadi pengalaman-pengalaman dalam percintaan dengan Tuhan.

Dengan demikian, rasa atau yang disebut para sufi dengan istilah dzauq adalah sumber tasawuf, bukan akal atau panca indra sebagai sumber pengetahuan biasa. Karena hati, jiwa dan raga terpusat kepada-Nya, rindu pada-Nya membuncah memenuhi kalbu, kita selalu ingin berkomunikasi dengan Allah.

Pada titik ini, segala amal ibadah tak lagi dirasakan sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan. Ibadah lebih berupa kenikmatan ketimbang tuntutan. Seandainya Tuhan sendiri tak lagi mensyari’atkan ibadah-ibadah itu, kita mungkin akan tetap salat, puasa dan berdzikir demi mengingat-Nya. Surga dan neraka akhirnya bukan lagi ukuran, melainkan hasrat percintaan dengan Tuhanlah yang mendorong keimanan.

Seperti halnya orang yang mencintai kekasihnya, secara perlahan kita mengenal Allah lebih dalam lagi. Secara perlahan pula kita akan meresapi sifat-sifat sang kekasih, sehingga perilaku dan perbuatan kita meniru sifat-sifatnya. Kita memakai baju dengan warna kesukaannya, memakan makanan favoritnya, menonton film yang disukainya.

Begitu pula kita meniru sifat-sifat Allah. Karena Allah memiliki sifat-sifat yang baik nan niscaya dan mustahil memiliki sifat-sifat buruk, dengan bertasawuf kita pun akan menjadi pribadi yang penyayang, pemurah, pemaaf dan menjunjung tinggi keadilan. Boleh jadi, karena Allah memiliki sifat mungkin atau ja`iz, kita pun menjadi manusia yang kreatif, bergerak dan membuat perubahan.

Tasawuf, karena itu, bukan sekedar tradisi spiritual, tapi juga penggerak kehidupan. Tasawuf bukanlah membentuk jiwa yang pasif dan pesimis, melainkan justru membentuk kehidupan yang aktif dan optimistis. Bukankah banyak remaja mengaku lebih semangat pergi ke sekolah karena punya pacar?

“Tapi kita kan tidak bisa mencintai seseorang kalau tidak pernah bertemu atau berkenalan dengannya”, sanggah para pelajar tadi. Benar juga saya pikir.

Ada orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi ada pula yang setelah melalui berbagai kejadian dan pengalaman baru muncul benih-benih cinta. Agar merasakan cinta pada Tuhan kita harus berupaya mengenalnya. Karena itulah ulama-ulama mengatakan “awaluddin ma’rifatullah”, prinsip pertama beragama adalah mengenal Allah. Bagaimana caranya?

Tasawuf tak terlepas dari syari’at sebab ia adalah pintu menuju dunia tasawuf. Maka tetaplah kita laksanakan ibadah sesuai aturan-aturan dan petunjuk-petunjuknya, serta tentu dengan penuh kekhusyukan. Lama-lama perasaan cinta kepada Tuhan pun muncul dengan sendirinya. Layaknya kita yang sering belajar bareng, ke perpustakaan bareng, diskusi bareng dengan si dia, lama-lama muncul rasa suka lalu meningkat jadi cinta.

Selain itu, kadangkala kita ingin tahu seluk beluk dirinya, maka kita tanya teman-temannya, membaca tulisan-tulisannya, atau men-stalking akun medsosnya. Untuk mengenal Allah kita perlu membaca kitab-Nya, mempelajari alam semesta karena di situ ada wajah-Nya. Khusus bagi yang serius bertasawuf ada tarekat sufi yang akan membimbing kita untuk ma’rifah kepada-Nya.

Penjelasan tasawuf untuk generasi bucin itu saya akhiri dengan pernyataan bahwa tasawuf itu seni beragama. Jika agama adalah makanan, maka tauhid atau ilmu ketuhanan adalah bahan-bahannya, syari’at adalah cara memasaknya, maka tasawuf adalah rasa makanan itu.

Penulis: Yunizar Ramadhani, Pengurus LTN PCNU Banjar, Guru Ponpes Darul Hijrah Martapura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *