Peringatan Isra Mi’raj Disebut Bid’ah Hasanah, Tepatkah?

Oleh: Muhammad Syarofi *)

Isra Mi’raj merupakan salah satu momen yang sangat penting dalam Islam, yakni sebagai titik awal diwajibkannya salat lima waktu dalam sehari semalam.

Menurut pendapat yang masyhur, peristiwa tersebut terjadi di malam 27 Rajab sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Peristiwa tersebut sangat jelas dinyatakan dalam Alqur’an Surah Al Isra’ ayat 1 dan hadits riwayat Muslim 162. Yakni, perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dan naik dari Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha yang bersifat spiritual dan irasional.

Mukjizat Rasulullah SAW itu selalu diperingati atas dasar keimanan oleh umat Islam. Namun, status peringatan ini masih ramai diperbincangkan banyak orang. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai prilaku bid’ah karena tak pernah dilakukan oleh Rasul dan sahabat.

Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat. Bagi mereka yang membenarkan atas diselenggarakannya peringatan Isra Mi’raj berpandangan bahwa hal yang tidak dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW tidak serta-merta bisa dikatakan salah atau Bid’ah Dlolalah.

Sebagaimana halnya ketika menyikapi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, ulama yang membenarkannya berargumentasi bahwa Peringatan semacam itu merupakan Bid’ah Hasanah, dengan alasan bahwa Bid’ah itu sendiri terbagi menjadi dua bagian, sebagaimana Imam Nawawi berpendapat dalam karyanya Tahdzibul Asma Wallughat:

“Bid’ah menurut syariat adalah pengadaan sesuatu yang baru yang tidak ada di masa Rasulullah Saw. Dan ia terbagi menjadi dua, yaitu Bid’ah hasanah (baik) dan qabihah (buruk).”

Akan tetapi perlu diingat, Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa dalam Islam membuat Sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan Sunnah itu setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa di dalam Islam membuat Sunnah yang buruk, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa sedikit pun mengurangi dosa mereka.” (HR: Muslim: 1017)

Kalangan ulama dalam menyikapi hadist di atas sepakat bahwa yang dipahami sebagai “Sunnah” pada Hadist tersebut ialah memprakarsai suatu perkara yang baik. Sedangkan memperingati peristiwa Isra Mi’raj secara sukacita dengan berbagai perayaan dan jamuan makanan sebagai sedekah merupakan perbuatan yang baik.

Dengan memperhatikan Hadist “Man Sanna Sunnatan Hasanatan” di atas, tentunya bisa dikatakan bahwa peringatan Isra Mi’raj itu merupakan “Sunnah Hasanah” dan sangat jauh dari anggapan yang mengatakan bahwa memperingati peristiwa Isra Mi’raj itu sebagai Bid’ah Dhlolalah dan sebutan lainnya.

Dengan demikian, pastilah orang yang mula-mula melakukan perayaan peringatan Isra Mi’raj mendapatkan pahala setiap kali ada orang-orang yang melakukan peringatan Isra Mi’raj tersebut. Sebab memperingati dan merayakannya merupakan suatu hal yang baik.

Saya sendiri condong untuk mengajak pembaca sekalian untuk menamakan peringatan-peringatan hari besar keagamaan semisal Isra Mi’raj dengan sebutan “Sunnah Hasanah” seperti ungkapan Rasulullah dalam hadits tersebut. Sehingga orang awam tak ragu untuk memperingatinya.

syarofi 300x174 - Peringatan Isra Mi'raj Disebut Bid'ah Hasanah, Tepatkah?

*) Penulis adalah Maha Santri Ma’had Aly Darussalam Martapura.

————————————————————-

*Isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *