Akal dan Nalar, Urgensinya dalam Beragama

Akal dan nalar sangat urgen dalam meyakini keberadaan Tuhan. Perannya sebagai pilar berlakunya hukum Tuhan, membuktikan bahwa perkara akal bukan hal yang main-main dalam eksistensi keberagamaan seseorang.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Akal dan Nalar, Urgensinya dalam BeragamaSetiap kali belajar tentang “Sifat Dua Puluh”, baik kitab susunan ulama Nusantara yang ditulis dengan huruf Arab bahasa Melayu semisal susunan Al-Habib Utsman Bin Yahya Betawi maupun susunan ulama klasik yang ditulis dengan huruf dan bahasa Arab semisal Ummul Barahin susunan Imam as-Sanusi, ada yang mengusik penulis. Yakni pada bahasan tentang hukum akal yang selalu menempati posisi pertama, sebelum memasuki bahasan utama. 

Penulis juga merenungkan kenapa teori tentang bagaimana bernalar yang benar dibahas Imam Al-Ghazali sebelum memasuki bahasan Ushul Fiqh dalam kitabnya Al-Mustashfa.  Sepertinya, ada urgensi akal dan nalar dalam beragama. Benarkah demikian?

Sebelum mendiskusikan akal dan nalar, perlu kita bertanya, apa sih sebenarnya yang dimaksud “Hukum Akal”.

Berbeda dengan “Hukum Syar’i” yang ditetapkan berdasarkan petunjuk atau dalil syara’ yang dikaji dari teks Alqur’an dan Hadits, “Hukum Aadi” yang dikaji berdasarkan riset atau penelitian atas peristiwa yang terjadi berulang, “Hukum Aqli” alias hukum akal ditetapkan berdasarkan logika pemikiran atau rasional.

Hukum akal tidak sama dengan “Hukum Wadh’i” yang mengkategorikan sesuatu dengan Sebab, Syarat, Mani’ (penegah), Shahih, Fasid. Juga beda dengan “Hukum Taklifi” yang mengkategorikan Wajib, Haram, Sunnah, Makruh,Mubah. Hukum wad’i dan taklifi berada di ranah “Hukum Syar’i”.

Hukum akal juga bukan “Hukum Aady” yang ditetapkan berdasarkan riset korelasi antara Ada dengan Ada, Ada dengan Tiada, Tiada dengan Ada, Tiada dengan Tiada. Hukum aqli menjawab tanya “apakah” dan “adakah”, sementara hukum ‘aady menajawab tanya “bagaimanakah”.

Hukum akal adalah hukum kepastian atau keniscayaan. Sesuatu yang “niscaya ada” disebut “wajib”, sesuatu yang “niscaya tiada” disebut “mustahil”, dan yang “mungkin ada dan mungkin tiada” disebut “Jaiz”.

Keputusan hukum akal bersifat niscaya, tidak bisa dibantah dan pasti dibenarkan oleh orang yang menggunakan akalnya secara sehat dan terstruktur. Bahwa genap ditambah genap niscaya atau wajib hasilnya genap, ganjil ditambah ganjil niscaya atau wajib hasilnya genap, adalah diantara contoh hukum aqli.

Hal ini berbeda dengan “adanya api menghasilkan adanya panas”. Meski sering terjadi, bisa saja api tidak panas, sebagaimana pada kasus Nabi Ibrahim. Adanya panas pada api tidak ditetapkan berdasarkan hukum akal, tapi hukum ‘aady, yaitu terjadinya pengulangan peristiwa.

Meyakini keberadaan Tuhan tidak bisa ditetapkan berdasarkan hukum ‘aady. Karena hukum ‘aady tidak menghasilkan kepastian atau kebuscayaa. Juga tidak bisa berdasarkan hukum syar’i, karena hukum syar’i digali dari wahyu Tuhan. Bagaimana seseorang bisa meyakini sesuatu sebagai wahyu Tuhan bila terhadap keberadaan Tuhan saja ia belum yakin. Keyakinan adanya Tuhan mendahului keyakinan adanya Firman Tuhan, Rasul Tuhan, dan lainnya yang lahir dari meyakini adanya Tuhan. 

Meyakini adanya Tuhan adalah induk. Sedangkan meyakini adanya wahyu Tuhan adalah produk. Produk tidak bisa melahirkan induk. Karena produk tidak mungkin ada tanpa adanya induk. Sebabnya, para ulama menekankan, “Awal beragama adalah mengenal Tuhan”. Tentu saja, untuk mengenal Tuhan harus diawali dengan meyakini keberadaan Tuhan. Untuk meyakini keberadaan Tuhan harus menggunakan akal. Akal hanya bisa digunakan bila manusia menyadari dirinya adalah makhluk berakal. Ringkasnya, “Siapa mengenal dirinya niscaya mengenal Tuhannya”.

Cerita Nabi Ibrahim As menemukan argumen untuk membantah kaumnya yang pagan, diilustrasikan dalam Alqur’an, tepatnya Surah Al-An’am ayat 74 – 78, adalah salah satu contoh bagaimana akal yang bernalar dituntut berperan agar keyakinan atas keberadaan Tuhan bisa ditemukan.

Kaum Nabi Ibrahim bukanlah makhluk yang tidak berakal. Sebagai manusia mereka juga “Hayawaan An-Naathiq” atau “Homo Sapiens”. Hanya saja, mereka tidak menggunakan akalnya untuk bernalar.

Kemudian, peran akal menjadi signifikan bukan hanya dalam pencarian keyakinan ada tidaknya Tuhan, tapi juga menjadi pilar berlakunya hukum Tuhan.

Seseorang menjadi mukallaf (terkena beban syariat) bila memenuhi dua syarat, mencapai usia baligh dan berakal. Sebab itu, seseorang yang akalnya waras dilarang merusak kewarasannya. Karenanya, semua yang dampaknya merusak kewarasan, diharamkan. Meminum minuman yang memabukkan adalah salah satu contohnya.

Akal adalah salah satu di antara lima yang dibentengi oleh syari’at, selain jiwa, agama, harta, dan keturunan. Membentengi lima yang disebut “Kulliyatul Khamsah” inilah yang menjadi tujuan dari dibentuknya syariat alias maqashidusy syariah.

Benar bahwa hukum syariat ditetapkan berdasarkan wahyu Tuhan, baik berupa Alqur’an maupun Hadits Rasul Tuhan. Namun, tanpa peran akal dalam memahami wahyu tersebut, manusia tidak bisa menggali “maksud” Tuhan yang terkandung dalam wahyu. 

Umumnya, wahyu bersifat simbolik dan metafora yang harus dipahami menggunakan akal, tentu saja akal yang telah dilengkapi perangkat untuk memahami dan menggali kandungan hukum di dalamnya. Lebih tepatnya, akal dan nalar.

Sedikit sekali ayat Alqur’an yang isinya “Ayat Ahkaam” alias langsung berbicara hukum. Imam Al-Ghazali berpendapat hanya sekira 500 ayat saja dari 6000-an ayat. Pendapat Imam Al-Ghazali ini adalah yang komposisi terbanyak. Ulama lainnya, misal Syeikh Thantawi Jawhari mengatakan hanya sekira 150 ayat saja.

Urgensi akal dan nalar dalam meyakini keberadaan Tuhan, perannya sebagai pilar berlakunya hukum Tuhan, membuktikan bahwa perkara akal bukan hal yang main-main dalam eksistensi keberagamaan seseorang.

Akal yang waras saja tidak cukup. Karena akal hanyalah alat untuk berpikir. Akal yang waras namun berhibernasi tidak membuahkan hasil. Akal musti bernalar agar bisa berperan. Baik dalam ranah Iman maupun dalam Islam.

Masalahnya kemudian, bagaimana agar akal kita bisa bernalar dengan baik dan benar? Itu PR kita masing-masing.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriiq.

Baca Juga: Peran Akal Pada Orang Beriman.

Baca Juga : Uzlah; Social Distancing ala Sufi

*) Penulis adalah Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Banjar.

2 thoughts on “Akal dan Nalar, Urgensinya dalam Beragama

  • 30 Maret 2020 pada 11:04
    Permalink

    Mantul..barokah full. Lanjut Guru!

    Balas
  • 30 Maret 2020 pada 11:05
    Permalink

    Barokah full..lanjutvGuru

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *