Tasawuf, Sufi dan Mutasawif, Mengenal Lebih Dalam (1)

Banua.co – Mengenal lagi lebih dalam tasawuf, sufi dan mutasawif. Meski, cara paling mudah menjelaskan tasawuf, adalah dengan mengajak orang masuk ke dalam (jalan) tasawuf itu sendiri.

Oleh: Hajriansyah (Budayawan dan Penulis Kalimantan Selatan)

Persoalan pengertian apa itu tasawuf, mungkin lebih mudah didekati dari pertanyaan siapa para sufi itu? Ini setidaknya mendekatkan kita dengan subjek yang benar-benar “hidup” di tengah atau bisa jadi ada di antara kita.

Sementara kata tasawuf, secara etimologis (bahasa), dikaitkan dengan shuff (wool kasar, pakaian yang dipakai oleh sebagian zahid atau ahli zuhud pada masa awal perkembangan dinasti Umayyah atau pada masa Hasan al-Bashri), atau ditarik ke (masa) ahlus shuffah (para sahabat yang fakir serta pencinta pengetahuan, tinggal di serambi masjid Nabi, seperti di antaranya Abu Dzar al-Ghifari).

Tasawuf dapat pula dikait-kaitkan lebih jauh dengan kata sophia atau sophos (kebijaksanaan Hellenistik yang mungkin bersumber dari Phytagoras atau lebih jauh Hermes), sebagian orang—yang memang hidup dalam kearifan tasawuf itu sendiri—lebih suka menyebut bahwa pengertiannya sebanyak “jalan” menuju Tuhan. Atau, seperti dikatakan Hujwiri dalam Kasyful Mahjub, seperti diterjemahkan Nicholson dan dinukil kembali oleh Idries Shah, Sufi tidak memiliki etimologi.

Maka cara paling mudah menjelaskan tasawuf, sufi dan mutasawif adalah dengan mengajak orang masuk ke dalam (jalan) tasawuf itu sendiri. Dan ini telah dikampanyekan secara luas oleh para Masyayikh (jamak dari Syekh) Shufiyah di berbagai belahan dunia, tidak saja negeri-negeri kaum muslimin, bahkan lebih luas menyeberangi Afrika, Eropa dan Amerika. Dari yang paling retoris-intelektual hingga yang paling karismatik melalui amal.

Lihat saja video-video para syekh (di Youtube hari ini), dari Syekh Nazhim Haqqani dan penggantinya Syekh Hisyam Kabbani, Syekh Mozaffer Ozak, dst., hingga peran Habib Umar bin Hafizh dan para muridnya di Amerika, Eropa dan Asia.

Para Guru Mursyid ini menjadi seperti magnet yang menarik logam yang saling berdekatan, seperti pusat galaksi yang dikelilingi bintang-bintang yang terus memutarinya. Demikian, seperti dikatakan Syekh Muzaffer Ozak, seorang Pir (mursyid) Tarekat Khalwati al-Jerrahi. Guru, dalam tasawuf, juga adakalanya disebut Murad, orang yang diingini atau dikehendaki ilmunya atau ma’rifah darinya. Dalam beberapa tradisi, seperti telah disebut di atas, ia juga disebut Mursyid, Syekh, Pir.

Sedangkan yang mengingini, lalu mencari (thalab atau thalaba) kepada guru tersebut, biasa disebut Murid atau Salik. Seseorang mencari kebenaran (al-haqq) karena fitrah kebutuhan spiritualnya, yang seperti ini juga kadang disebut faqr, subjeknya disebut Faqir, orang yang (secara rohani) merasa tidak memiliki apa-apa.

Ada banyak kisah pencarian kebenaran, sejak masa Ibrahim bin Adham yang asalnya seorang pangeran lalu menjadi gelandangan karena kebutuhan spiritualnya, karena faqr-nya, hingga menjadi permata berkilauan di antara para sufi. Ada juga yang tak pernah mencari secara sadar, namun ketika bertemu dengan seorang syekh karismatik ia tiba-tiba merasa tersedot ke dalam lingkaran spiritualnya.

Hal ini seperti diceritakan Syekh Ragip al-Jerrahi, seorang psikolog yang asalnya bernama Robert Frager, ketika bertemu gurunya Syekh Muzaffer Ozak dalam momen spiritual yang dirasanya sekejapan mata saja. Ada yang karena bertemu dalam mimpi dan diberi isyarat sedemikian rupa hingga bertemu dalam kehidupan nyata, seperti yang dialami Syekh Ozak sendiri. Namun ada pula yang memang dibimbing secara intens sejak kecil dalam tradisi keluarganya, seperti banyak Masyayikh Tarekat Alawiyah.

Mereka adalah orang-orang yang menjadi saksi sekaligus bukti, bahwa tasawuf atau para sufi adalah ahlus sunnah wal jamaah. Mereka mengikuti sunnah Nabi Saw melalui guru-guru mereka, melalui mata rantai keguruan yang bersambung tak putus, sekaligus selalu berjamaah dalam sebuah komunitas yang lazim kini disebut Tarekat, dari thariqah (jalan atau metode).

Al-Hujwiri sudah mencatat beberapa komunitas semacam ini sejak masa Sahabat, Tabi’in hingga Tabi’ut Tabi’in, salah satunya misalnya ‘tarekat’ Taifuri—yang dinisbatkan kepada nama kecil Abu Yazid al-Bustami. Sementara Abu Yazid sendiri menyebut dirinya Shiddiqi (pengikut Abu Bakar Sidik). Mata rantai keguruan yang melewati Abu Yazid hingga Abu Bakar sampai ke Rasul Saw ini, salah satunya dirujuk dalam Tarekat Naqsyabandiyah.

Beberapa pengamat Barat yang telah bersentuhan dengan tasawuf sejak kolonisasi di Mesir dan negeri-negeri maghrib lainnya suka melebih-lebihkan kesendirian (personalisme) para sufi. Sehingga kemudian, sufi identik dengan gagasan personalitas “Hamba-Tuhan” saja dan melupakan sisi keguyuban mereka di antara sesama ikhwan.

Personalitas demikian-lah yang kemudian disesat-sesatkan sebagian ulama ortodoks seperti Ibnu Taimiyah, hingganya dijadikan penyebab dari kemunduran Islam di Baghdad. Padahal kenyataannya, banyak tarekat sufi yang kemudian menjadi awal berkembangnya kejayaan Islam kembali dalam periode Dinasti Utsmani (Turki), Safawi (Persia) dan Mughal (India).

Tarekat Syadziliah menjadi benteng Dinasti Mamluk di Mesir, Tarekat Futuwwah menjadi cikal bakal Dinasti Utsmani, Tarekat Safawiyah menjadi Dinasti Safawi, dan Tarekat Naqsyabandiyah menjadi tulang punggung tegaknya Dinasti Mughal selama berabad-abad dari sejak berdirinya kekuasaan Islam di India tersebut.

Bersambung ke Tasawuf, Sufi dan Mutasawif (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *