Tasawuf, Sufi dan Mutasawif, Mengenal Lebih Dalam (2)

Banua.co – Bagaimanapun, pengetahuan yang benar selalu datang secara bertahap ke dalam hati orang-orang yang ingin membersihkan jiwanya. Mengenal lebih dalam lagi tasawuf, sufi dan mutasawif. Kelanjutan dari tulisan sebelumnya, Tasawuf, Sufi dan Mutasawif (1).

Hariansyah 2 150x150 - Tasawuf, Sufi dan Mutasawif, Mengenal Lebih Dalam (2)Oleh: Hajriansyah (Budayawan dan Penulis Kalimantan Selatan)

Sebagian pengamat lebih suka menyebut tasawuf dan Sufisme sebagai mistisisme Islam, karena memang secara kerohanian ada banyak “rahasia” yang disimpan dalam tradisi ini. Bukan karena takut, dalam pengertian pengecut, namun karena jenjang-jenjang spiritual itu sendiri menurut para guru sufi harus dilewati secara bertahap, dari satu pengetahuan yang bersifat umum ke pengetahuan yang bersifat khusus. Sehingga, setiap salik diberikan pengetahuan sedikit demi sedikit sesuai kadar amal dan kedudukannya.

Jenjang pengetahuan yang demikian lazim disebut Maqamat (jamak dari Maqam), ia bersifat tetap dan dilalui setahap demi setahap, biasanya, dari Tobat hingga Qurbah. Beberapa guru sufi berbeda dalam menyebutkan tingkatan maqamat, as-Sarraj dalam al-Luma’ misalnya menyebut tujuh jenjang. Dimulai dari Taubat, lalu Wara’, Zuhud, Faqr, Sabar, Tawakal, dan Ridha.

Sedangkan Muraqabah (mawas diri), Qurb (dekat), Mahabbah (cinta), Khauf (takut), Raja’ (pengharapan), Syauq (rindu), ‘Uns (keakraban/ keintiman), Thuma’ninah (ketentraman), Musyahadah (penyaksian), dan Yaqin (kemantapan), menurut Ali Abu Nashir as-Sarraj masuk dalam kategori Ahwal (jamak dari Hal)—keadaan yang bersifat temporer yang dialami para salik. Beberapa teoretisi sufi lain ada yang memasukkan khauf dan raja’, atau mahabbah, sebagai maqam, dst.

Maqamat dan ahwal ini adalah keniscayaan yang dialami setiap orang yang ingin membersihkan dirinya (tazkiyatun nafs), dan ingin berada sedekat mungkin dengan pengetahuan (Ma’rifah) Tuhannya. Seperti sering diucapkan dalam setiap awal niatan mereka, “Ilahi anta maqsudi wa ridhaka mathlubi, a’thini mahabbataka wa ma’rifataka.” Lalu apakah sedemikian rumit dan sulitnya, atau sedemikian sesatnya, dunia tasawuf itu?

Habib Luthfi bin Yahya, Ketua Umum dari perkumpulan tarekat mu’tabarah Indonesia (Jam’iyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdiyah atau biasa disingkat JATMAN), mengatakan tarekat (tasawuf) harus dikenalkan sejak dini, agar terbiasa dengan amaliah rohani sejak kecil, dan kemudian menyempurnakan syariahnya dengan pemahaman (faqih) dan amaliah yang benar.

Selain diamalkan tasawuf juga dipelajari dan dikaji sedemikian rupa. Tak kurang dari para sufi sendiri, yang memiliki tingkat pendidikan yang baik, menulis tentang apa dan bagaimana tasawuf. Bagaimana keadaan para pejalan rohani itu, apa yang mereka dapatkan dalam setiap stasiun rohani (maqam), dan etika yang mengikat mereka dalam hubungan dengan Sang Pencipta dan makhluk-makhluknya.

Dalam barisan ini, sejak awal perkembangannya kita mengenal al-Qusyairi dengan Risalah Qusyairiyah-nya, Abu Thalib al-Makki dengan Qutul Qulub-nya, al-Hujwiri dengan Kasyful Mahjub, as-Sarraj dengan al-Luma’, al-Ghazali dengan Ihya’ Ulumuddin, al-Haddad dengan Risalah Mu’awwanah, ad-Dihlawi dengan Hujjatullah al-Balighah, hingga di masa kini kita mengenal Syekh Javad Nurbakhsy, Syekh Ragip al-Jerrahi, Syekh Hisyam Kabbani, Idries Shah, Habib Umar bin Hafizh dan seterusnya yang banyak menulis buku-buku yang berkaitan dengan tasawuf.

Tak ketinggalan para penulis dan peneliti Barat, dari Nicholson, Masignon, Schimmel, Chittick dan lain-lain yang banyak meneliti tokoh-tokoh sufi tertentu. Sebagian dari peneliti ini ada yang tetap berjarak dengan objek kajiannya dan sebagian lainnya ada yang masuk lebih dalam menjadi bagian dari tradisi spiritual sufi, seperti Frithjof Shcuon dan Martin Lings yang kemudian berganti nama jadi Isa Nuruddin Ahmad dan Abu Bakar Sirajuddin.

Mereka yang sebelumnya baru belajar tasawuf, ingin kenal tasawuf, baca-baca dan mengutip hal-hal yang berkaitan dengan tasawuf, untuk kemudian menjalani suluk dan sayr lebih jauh umumnya disebut dengan Mutasawif (Arab, Mutashawwif).

Syekh Javad Nurbakhsy punya pengertian tersendiri tentang mutashawwifah ini. Ia menyebutnya sebagai “Sufiolog”, orang yang mungkin saja memiliki sejumlah besar informasi tentang sifat-sifat sufi. Namun, menurut Syekh Tarekat Ni’matullah ini, sufiolog pada dasarnya sama sekali tidak mengenal kaum sufi. Mereka tidak memiliki sifat-sifat sufi, atau tidak dapat mengetahui sebagaimana para sufi melihat dengan mata hati.

Karenanya, menurutnya, pernyataan mutashawwif semacam ini tentang tasawuf tidak selalu berlaku bagi kaum sufi. Meskipun, apa yang disampaikan boleh saja menarik dari sudut pandang pendefinisian tasawuf. Ini bisa jadi karena mereka tak pernah (dan tak ingin) menjalani satu langkah pun dari pendakian rohani para sufi. Padahal pengetahuan yang benar selalu datang secara bertahap ke dalam hati orang-orang yang ingin membersihkan jiwanya, untuk kemudian secara penuh berserah diri dalam rahmat Allah Rabbul ‘Izzati.

Habis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *