Selamat Tinggal Covid-19 Dihapus Oleh Kesucian Ramadan, Ah Yang Bener?

Selamat Tinggal Covid-19 Dihapus Kesucian Ramadhan. Mungkinkah? Fakta lapangan, hingga saat ini jumlah pasein positif Virus Corona di Indonesia terus meningkat tajam. Setiap harinya, ratusan orang dinyatakan positif. Sabtu (11/04) tercatat 3.842 kasus, padahal sehari sebelumnya Jum’at (10/04) masih di angka 3.512. Ada lonjakan 330 pasien positif hanya dalam satu hari. IMG 20200227 162525 2 150x150 - Selamat Tinggal Covid-19 Dihapus Oleh Kesucian Ramadan, Ah Yang Bener?

Oleh : Khairullah Zain *)

Tak lama lagi umat Islam di seluruh dunia akan memasuki bulan Ramadan. Bulan ke-9 pada penanggalan Hijriah berbasis peredaran bulan ini adalah bulan di mana umat Islam diwajibkan berpuasa. Sebuah ritual menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya. Makan, minum, hubungan seksual, adalah diantaranya.

Ramadan adalah bulan yang dianggap suci oleh umat Islam. Beberapa meme beredar di media social. “Selamat Tinggal Covid-19, Dihapus Oleh Kesucian Ramadan”, katanya. Bener nih? Yuk kita telaah bersama.

Fakta lapangan, hingga saat ini jumlah pasein positif Virus Corona di Indonesia terus meningkat tajam. Setiap harinya, ratusan orang dinyatakan positif. Sabtu (11/04) tercatat 3.842 kasus, padahal sehari sebelumnya Jum’at (10/04) masih di angka 3.512. Ada lonjakan 330 pasien positif hanya dalam satu hari. Demikian dijelaskan Ahmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah Khusus Penanganan Covid-19. Dari total tersebut, 286 orang telah dinyatakan sembuh dan 327 orang meninggal dunia. Sementara, total sedunia hingga hari ini, terkonfirmasi 1,8 juta kasus, 402.270 orang berhasil sembuh dan 108.702 orang meninggal dunia.

Jakarta, sebagai ibukota Indonesia, telah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terhitung sejak 10 April 2020, demi menekan lebih jauh penyebaran Virus Corona. PSBB mengetatkan sejumlah aturan pergerakan orang per orang. Pembatasan operasional angkutan umum, hingga pelarangan bagi ojek online mengangkut orang.

Kabarnya, kebijakan PSBB juga akan diterapkan di sejumlah daerah di Jawa Barat. Bogor, Depok dan Bekasi telah mengajukan izin PSBB. Tinggal menunggu keputusan Kementrian Kesehatan.

Wabah Corona telah mengubah wajah dunia. Obatnya yang pasti belum ada. Beberapa jenis obat direposisi atau dimodifikasi sebagai ikhtiar. Hydroxychloroquine yang sejatinya obat malaria disebut-sebut sebagai “game changer”. Meski tidak ada bukti ilmiah berhasil, namun Chloroquine dikatakan dapat memblokir virus dengan mengikat diri ke sel manusia dan masuk mereplikasi. Obat ini juga merangsang kekebalan tubuh. Presiden Jokowi memilih memesan obat ini dan Avigan, untuk Indonesia.

Meski belum tersedia vaksin yang bisa mencegah infeksi Virus Corona, pada prinsipnya manusia masih bisa bertahan hidup menghadapinya, dengan kekuatan daya tahan tubuh alaminya. Karena pada dasarnya, manusia memiliki sistem imun untuk melawan virus dan bakteri penyebab penyakit. Karenanya, angka harapan hidup masih tinggi. Masih banyak yang berhasil sembuh, meski tidak sedikit juga yang harus rela melepas nyawa.

Dr. Nahla Shibab, dalam pemaparannya di Narasi TV menyatakan bahwa seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik kemungkinan gejala yang timbul akibat Virus Corona sangat ringan. Bahkan mungkin tanpa gejala, walaupun virus ada di tubuhnya. Dengan daya tahan tubuh yang baik, seseorang akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Karena pada dasarnya virus itu “self limited disease”. Tubuh kita sendiri bisa membasmi virus, dengan catatan ketika sistem kekebalannya baik. Hal ini juga dijelaskan dr. Frans Abednego dari OMNI Hospitals Pulomas. Bila sistem imun seseorang dalam kondisi optimal, maka tubuh mungkin bisa bertahan dari serangan sampai virusnya sendiri mati. Virus mati karena sistem imun “menelannya” atau dalam dunia medis disebut “fagositosis”.

Menariknya, puasa bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Beberapa peneliti di University of Southern California yang mempelajari kaitan antara puasa dan daya tahan tubuh, menemukan bahwa rasa lapar memicu sel-sel induk dalam tubuh memproduksi sel darah putih baru. Sel darah putih pada tubuh akan melawan virus dan patogen lain yang menginfeksi tubuh dan membentuk kekebalan ketika berhasil memenangkan pertarungan.

Dilansir Kompas Online, para peneliti menyebut puasa sebagai “pembalik sakelar regeneratif” yang mendorong sel induk menciptakan sel darah putih baru. Penciptaan sel darah putih baru inilah yang mendasari regenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh.

Saya kira, di sini kita menemukan kesahihan makna hadits, “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat”. Meski secara sanad, hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ini lemah. Namun secara matn, kita menemukan penjelasan ilmiahnya. Karenanya, bukan mustahil hadits ini shahih, benar-benar diucapkan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaih wa aalih wa sallam.

Kendati demikian, sistem imun tubuh seseorang juga bisa melemah. Stress diantara penyebabnya. Dr. Fatwa Sari, seorang Pakar Promosi Kesehatan Fakultas Kesehatan Universitas Gadjah Mada menjelaskan, stres dapat menurunkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh manusia. Karenanya, untuk menjaga sistem imun tetap optimal, seseorang harus menghindari rasa cemas, khawatir, dan stres. Nah, bagaimana caranya agar kita bisa terhindar dari stress?

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Buletin Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang berjudul “Religiopsikoneuroimunologi Al-Qur’an” telah membahas mengenai terapi Al-Qur’an dan fungsi otak dalam menghadapi stress. Religiopsikoneuroimunologi adalah gabungan antara agama, jiwa, sistem saraf dalam meningkatkan kekebalan tubuh. Penelitian tersebut mengungkap adanya pengaruh luar biasa ketika seseorang membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an terhadap suasana batinnya.

Nah, bulan Ramadan yang beberapa hari lagi akan kita masuki, selain bulan di mana kita diwajibkan berpuasa, adalah juga bulan di mana ayat Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Sehingga banyak umat Islam membiasakan diri memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan ini,juga ibadah-ibadah lainnya.

images 38 - Selamat Tinggal Covid-19 Dihapus Oleh Kesucian Ramadan, Ah Yang Bener?
Ruang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan.

Bulan Ramadan, bila kita jalani dengan puasa secara maksimal, ditambah dengan memperbanyak baca Al-Qur’an dan ibadah lainnya akan menjadikan tubuh kita sehat, karena sistem imun meningkat dengan puasa dan pelemahnya yaitu stres dinetralkan oleh baca Al-Qur’an dan ibadah lainnya. Sehingga tubuh mampu mengalahkan virus dan patogen lainnya.

Tapi tentu saja kita harus tetap melaksanakan aturan protokoler pencegahan Covid-19 yang ditetapkan ahli kesehatan. Tak usah dulu memaksakan Tarawih berjamaah dengan orang banyak seperti Ramadan-Ramadan telah lewat. Toh jaman Nabi Muhammad dan Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq, para sahabat juga tidak melaksanakan Tarawih berjamaah di masjid. Tarawih berjamaah baru dimulai sejak jaman Khalifah Umar Al-Khaththab. Baca Al-Qur’an cukup di rumah masing-masing saja. Selain lebih khusyu juga lebih mudah menghindari sifat riya. 

Bila kita menjalani Ramadan dengan serius sesuai dengan ajaran agama, yaitu hanya fokus pada puasa dan ibadah saja. Tidak stres karena memikirkan menu berbuka yang justeru seringkali merusak makna puasa. Saya kira, meme “Selamat Tinggal Covid-19, Dihapus Oleh Kesucian Ramadan” akan jadi kenyataan.

Namun, bila kita menjalani Ramadan tahun ini tetap seperti tahun-tahun sebelumnya. Di mana Ramadan bukannya menambah ketenangan jiwa, tapi malah menghadirkan stres karena memikirkan dana yang diperlukan untuk memuaskan nafsu ketika berbuka, juga dihantui harus “serba baru” dalam berhari raya, apalagi bila memaksakan diri berkumpul dengan banyak orang yang membuka peluang virus menyebar dengan leluasa, maka bukan mustahil Covid-19 akan mengalami puncak pandemi pada Ramadan ini. 

Pilihan ada di tangan kita. Mau mengucap ‘Selamat Tinggal Pandemi Covid-19’, atau mau apa?

*) Penulis adalah Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar.

Baca Juga: Benak Santri, Ramadhan Bersamaan Pandemi Covid-19.

Baca Juga: Menyukuri Covid-19, Sisi Lain Takdir Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *