Fikih Alternatif Darurat Corona, Sebuah Gagasan

Semestinya para ahli fikih jaman ini harus memberikan fatwa fikih alternatif darurat Corona, sebagai solusi atas keinginan masyarakat. Bahwa fatwa Sholat Jum’at ditiadakan dengan alasan udzur syar’i ternyata belum memuaskan, harus direspon secara cepat oleh para ulama. Tentunya ulama yang punya empati terhadap kondisi social-religi umat Islam. Disertai kemampuan dan keahlian dalam bidang ilmu fikih.

Oleh : Khairullah Zain *)

IMG 20200227 162525 2 150x150 - Fikih Alternatif Darurat Corona, Sebuah GagasanWabah Virus Corona yang mewabah di berbagai belahan dunia menyisakan perih tersendiri di kalangan umat Islam. Anjuran social distancing melukai perasaan sebagian kaum religius muslim yang ingin melaksanakan Sholat Jum’at. Puncaknya, Jum’at (10/4) kemaren, di kota santri Martapura, sekelompok umat Islam menerobos pagar Masjid Agung Al-Karomah Martapura, untuk melaksanakan sholat Jum’at.

Sementara di Majid Bani Ahdal, Sungai Paring Martapura, aksi heroik terjadi ketika seorang jamaah berteriak keras mengajak jamaah lainnya untuk memasuki masjid yang pagarnya ditutup. Peristiwa di dua masjid ini mengundang tanya kita, ada apa dengan kita?

Sejatinya, perlawanan terhadap larangan berkumpul untuk melaksanakan ibadah tidak hanya terjadi di kalangan umat Islam. Dilaporkan media Internasional, DW, sejumlah gereja di Amerika Serikat melakukan perlawanan atas larangan berkumpul dan menilai sebagai ancaman atas kebebasan beragama. “Kami menolak aturan (karantina), karena perintah Tuhan adalah untuk menyebarkan ajarannya”, kata Toni Spell, seorang pastor asal Lousiana.

Sholat Jum’at bagi umat Islam meniscayakan berjamaah. Tanpa dilaksanakan berjamaah, bukan Jum’at namanya. Secara bahasa, arti “Jum’at” sendiri adalah “Ijtima’” atau berkumpul. Penamaan “Jum’at” terhadap hari ke-6 dalam perputaran hari (dimulai dari Ahad) justeru karena adanya perkumpulan ini. Sebelumnya, pra Islam, namanya adalah ‘Urubah”. Larangan untuk berkumpul kemudian dimaknai sebagian umat Islam sebagai larangan melaksanakan Sholat Jum’at. Ini akar masalahnya.

Menyikapi hal ini, semestinya para ahli fikih jaman ini harus memberikan fatwa fikih alternatif darurat Corona, sebagai solusi atas keinginan masyarakat.

Bahwa ternyata fatwa Sholat Jum’at ditiadakan dengan alasan udzur syar’i ternyata belum memuaskan, harus direspon secara cepat oleh para ulama. Tentunya ulama yang punya empati terhadap kondisi social-religi umat Islam. Disertai kemampuan dan keahlian dalam bidang ilmu fikih.

images 48 - Fikih Alternatif Darurat Corona, Sebuah Gagasan
Sekelompok Umat Islam Memaksa Masuk Untuk Sholat Jum’at di Masjid Al-Karomah Martapura

Baca Kelanjutannya, Klik:

Fatwa Fikih Adalah Responbilitas Ulama

One thought on “Fikih Alternatif Darurat Corona, Sebuah Gagasan

  • 16 April 2020 pada 13:50
    Permalink

    Alhamdulillah barokallah, terima kasih Abah Zain…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *