Pergerakan Mahasiswa ‘Insya Alloh’ Islam

oleh: Azzam Anwar, alumni PMII Jombang 2005-2009.

Saya lupa sejak kapan plesetan dari kepanjangan PMIII ini mulai masuk ke dalam bilik kesadaran. Yang jelas, plesetan ini unik sekali untuk dijadikan bahan rasan-rasan, utamanya menyangkut karakter kader PMII yang seringkali tidak mudah untuk dikategorisasi. Sependek ingatan saya, penyebutan Insya Alloh Islam setidaknya membawa dua makna penting. Secara lebih jauh, dua makna penting itu juga memunculkan dua konsekuensi logis baru. Saya akan mencoba menjelaskannya di bawah ini, dan mendiskusikan relevansinya bagi pembentukan kader PMII ke depan.

Makna pertama, plesetan Insya Alloh Islam adalah bentuk ejekan kepada diri sendiri (self-mockery) tentang kualitas keagamaan kader yang seringkali rendah secara ritual. Kebanggaan PMII untuk mengaku diri sebagai penganut Islam khas Indonesia ini sepertinya tidak berbanding lurus dengan tingkat ketaatan masing-masing anggota dalam menjalankan tuntutan agama Islam. Banyak ditemui kader dan aktivis PMII yang sangat militan, namun sholatnya bolong-bolong, makan dan minum siang hari pas bulan puasa, dan lain-lain kegiatan (juga pemikiran!) yang nyleneh, kalo tidak dikatakan menyimpang dari ajaran agama.

Bagi saya pribadi, kesadaran untuk mengkritisi diri sendiri, ditambahi dengan kenylenehan dan keberanian untuk berbeda adalah modal yang bagus untuk anak muda. Banyak sudah kisah tentang perubahan dunia ini yang digagas oleh anak muda atau orang yang berani menentang arus, meskipun harus mengorbankan banyak hal, termasuk nyawa sekalipun.

Pengalaman hidup Malala Yousafzai, gadis remaja yang mendapat Nobel Perdamaian, adalah salah satu contoh riil. Ia berani merealisasikan ide untuk membuka sekolah khusus anak perempuan, dan akibatnya: terjangan peluru jarak dekat menembus kepalanya tanpa ampun. Kisah heroik semacam ini seharusnya menjadi penyemangat sekaligus pendorong kader muda PMII untuk terus percaya diri dengan eksistensinya dan berusaha keras mewujudkan idealismenya tanpa takut.

Anak muda yang penakut, pengecut atau senang bersembunyi di balik kebesaran orang lain (orang tua, kerabat, senior, finansial, organisasi, dan lain sebagainya) adalah spesies menyedihkan yang tidak sepatutnya ada di dunia ini. Eksistensinya hanya akan menjadi beban saja, bahkan terkadang menjadi sumber masalah.

Keberanian untuk menertawakan diri sendiri adalah salah satu cara efektif untuk mengakui kekurangan diri, sehingga tidak perlu malu untuk mengakui kelemahan masing-masing. Justru, dengan mengetahui kelemahan diri sendiri itu yang seharusnya efektif memacu sang anak muda untuk terus menerus belajar dan tidak cepat berpuas diri. Hasil yang kemudian bisa dicapai adalah adanya peningkatan kualitas tanpa henti, untuk memunculkan rasa percaya diri yang tinggi dalam mengeksekusi ide untuk kebaikan ke depan.

Makna kedua, plesetan Insya Alloh Islam, saya kira, adalah bentuk kritis dari upaya memahami spirit keislaman secara “kreatif”; dalam arti jauh dari ortodoksi dan keilmuan Islam yang mapan. Ia adalah kritikan halus untuk menggedor nalar keagamaan kita yang cenderung ritualistik dan akibatnya beku serta kering dari nilai-nilai atau spirit sejati yang diperjuangkan dalam ajaran Islam.

Kondisi ini membuat Islam hanya untuk Islam itu sendiri, bukannya menjadi Islam yang seharusnya mendorong pengikutnya untuk lebih bermanfaat bagi yang lain. Kesalehan individual adalah sesuatu yang bagus, namun apabila ia tercerabut dari konteks socialnya akan menjadi kesalehan yang impoten. Lebih mengerikan, ia akan menjadi berhala baru yang merusak kebaikan bersama. Bisa juga sebaliknya, ia semakin mengokohkan kondisi yang tidak adil dengan sikap acuh tak acuhnya.

Menurut hemat penulis, kreatifitas sudah seharusnya menjadi salah satu senjata anak muda agar mampu menjadi pionir dalam perubahan sosial yang lebih baik. Anak muda yang baik bukanlah anak muda yang sekedar rajin ke masjid untuk beribadah, namun tidak bisa menjadikan masjid sebagai pusat peradaban baru. Anak muda yang hebat bukanlah anak muda yang sekedar melek teknologi, tapi setidaknya mampu menggunakan teknologi itu untuk kemanfaatan manusia secara lebih luas.

Kreatifitas tidak harus berarti menciptakan sesuatu yang baru, karena sebenarnya tidak ada yang baru di dunia ini. Kreatifitas adalah kemampuan untuk memberikan makna dan menggunakan sesuatu di luar prediksi orang banyak.

Anak muda yang tidak kreatif adalah benalu. Ia hanya menjadi penerima pasif dari segala hal yang ada di sekelilingnya, tanpa ada pretensi untuk aktif terlibat mencari solusi yang lebih baik dari setiap problem yang muncul.

Selain itu, minimnya kreatifitas bagi juga agak berbahaya bagi kelangsungan kehidupan sosial, baik dari sisi individual maupun sosial. Anak muda yang mati gaya, utamanya ketika seruan stay at home menjadi keharusan di era pandemik global ini, biasanya hanya sibuk dengan diri sendiri di rumah. Lama kelamaan, dia merasa bosan dengan keadaan ini dan bingung mengisi kegiatan yang monoton.

Perasaan bosan dalam ritme hidup yang sangat monoton adalah siksaan tak terperikan bagi generasi kekinian (halo warga milenial dan Z!) yang kesulitan berkonsentrasi karena terpapar gadget dan banjir informasi.

Pada akhirnya, plesetan Insya Alloh Islam adalah tuntutan segar untuk selalu bersikap kritis dan kreatif dengan segala keadaan. Ini mengandaikan adanya kesadaran ala Heraklitus yang mendakwahkan realitas sebagai Panta rei, segala hal selalu mengalir, tidak ada yang mandeg.

Secara individual, ini adalah cara yang baik untuk selalu sadar dengan tuntutan zaman yang tidak pernah ajeg. Secara sosial dan organisasional, ini menjadi mekanisme tak berkesudahan untuk terus menerus berdialog dan menemukan titik temu yang paralel dengan tantangan kekinian. Eloknya, semua itu bisa dimulai dengan kebiasaan kita untuk pintar menertawakan diri sendiri pada satu sisi dan berusaha kreatif menjawab tantangan zaman yang senantiasa berubah-ubah sesuai konteksnya masing-masing.

Selamat berharlah PMII yang ke-60, semoga kita menemukan kedirian dalam proses dan proyeksinya demi perubahan ke depan yang lebih baik.

Martapura, 17 April 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *