Kartini Sebenarnya, Ingin Menjadi “Hamba Allah”

Kartini menulis, “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya”.

Oleh : Khuzaimah *)

Kartini, siapa yang tidak mengenal namanya. Nama putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang lahir pada 21 April 1879 ini dikenal hampir oleh semua rakyat Indonesia. Mungkin hanya orang yang tinggal di pedalaman dan tidak tersentuh informasi saja yang tidak pernah mendengar namanya disebut.

Wafat dalam usia muda, 25 tahun, Kartini membuktikan bahwa usia panjang tidaklah penting bila tidak membuahkan karya. Karena dengan usia sesingkat itu, Raden Adjeng yang kelak menjadi Raden Ayu ini telah mewariskan semangat juang yang sampai saat ini tidak pernah padam. Berkat kegigihannya, sekolah wanita pertama di Indonesia berdiri, Kartini School, yang didirikan oleh Yayasan Van Deventer pada tahun 1912, 8 tahun pasca wafatnya Kartini pada 17 September 1904.

Raden Adjeng yang menumpahkan pemikiran kritisnya lewat surat-menyurat dengan teman-temannya, yang kelak dibukukan dengan judul “Door Duisternis tot Licht” oleh Mr. J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, dikenal luas namanya dan menjadi tokoh emansipasi wanita Indonesia. 

Diterbitkan pertama kali tahun 1911 oleh G. C. T.van Dorp & Co. dan dicetak sebanyak lima kali, buku Door Duisternis tot Licht kelak diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun  1922 dalam edisi terjemahan bahasa Melayu dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran”.

Pada surat-suratnya, Kartini menuliskan pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, utamanya tentang kaum perempuan pribumi yang terpingit oleh budaya di Jawa yang dinilainya menghambat kemajuan. Kartini menginginkan kaum perempuan memiliki kebebasan untuk menuntut ilmu dan belajar. 

Keinginan Kartini untuk belajar tidak hanya melulu persoalan ilmu dunia. Kegelisahannya tidak sebatas tentang kehidupan dunia. Lebih dari itu, Kartini resah karena sebagai seorang yang lahir dari keluarga Muslim tapi ia tidak memahami ajaran agamanya.

“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”, katanya dalam surat bertanggal  6 November 1899 kepada Stella Zihandelaar.

Kartini protes, kenapa orang cuma diajarkan membaca Al-Qur’an tapi tidak diajarkan pemahaman atas ayat Al-Qur’an.

“Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca”, ceritanya pada Stella.

“Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama saja engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya”, kritiknya.

Kehidupan jaman Kartini adalah kehidupan di mana kesalehan hanya dinilai dari ritual agama, bukan pemahaman. Orang yang rajin mengamalkan ritual akan dinilai saleh meski ia tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ritual tersebut. Kartini protes dengan budaya semacam ini.

“Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”, ia curhat pada sahabatnya.

Protes Kartini tidak hanya sebatas dengan tulisan, tapi ia juga ambil tindakan.

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya”.

Baca Juga : Urgensi Akal dan Nalar dalam Beragama.

Siapa yang mencari akan menemukan. Siapa yang bersungguh akan mendapatkan. Siapa bersabar akan mendapat keberuntungan. Kartini dipertemukan dengan Kyai Sholeh Darat, ketika berkunjung ke rumah pamannya yang menjabat Bupati Demak. Kepada ulama besar yang pernah mengajar di Makkah ini Kartini mengadukan gelisah dan menggantung harapan.

Keinginan Kartini untuk bisa memahami Al-Qur’an dijawab Kyai Sholeh Darat dengan menuliskan tafsir dan terjemah Al-Qur’an, Faidh ar-Rahman. Kita tafsir pertama yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.

Perempuan harus memahami agamanya, agar Islam tidak dipandang rendah oleh penganut agama lain dan tidak dianggap sebagai agama yang meminggirkan kaum wanita.

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai”, tulisnya dalam surat bertanggal 21 Juli 1902, kepada Nyonya Van Kol.

Kartini menjadi bukti bahwa kaum perempuan tidak semestinya diam ketika ia tidak paham ajaran agamanya. Ia harus mencari tahu dan giat bertanya. 

Baca Juga : Ketika Aisyah, Ummul Mukminin, Harus Memilih.

Wanita bisa mencari jalan terbaik untuk ditempuhnya. Tidak mesti harus sekolah agama, wanita bisa belajar kepada orang terdekatnya yang pandai ilmu agama. Suami, saudara, atau kalau tidak ada mencari guru yang berkenan mengajarinya. Wanita harus berilmu dan pintar, itu yang dimaui Kartini.

Kartini menjadi figur bahwa wanita bisa mendapatkan semuanya. Maju dalam pemikiran, juga dalam pemahaman beragama. Dengan semangat dan keikhlasan, tidak ada yang bisa menghalanginya untuk menjadi pengukir sejarah.

Ilmu dan kepintaran yang dicita-citakan Kartini bukan untuk apa-apa. Cita-cita Kartini sederhana, namun justeru inilah yang paling sulit mencapainya.

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah”, katanya kepada Nyonya Abendanon pada surat bertanggal 1 Agustus 1903.

Baca Juga : Hari Kartini dan Refleksi Diri.

Semangat Kartini adalah semangat Belajar, Berjuang dan Bertaqwa dengan keikhlasan.
Selamat Hari Kartini, 21 April 2020.

*) Penulis adalah Ketua Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Banjar Kalsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *