Mozaik Perilaku Ulama Nusantara di tengah Wabah Covid-19

Mozaik Perilaku Ulama Nusantara di Tengah Covid-19 mengulas respon ulama terhadap Covid-19. Juga santrinya. Ada yang langsung menuduh ini rekayasa pihak luar. Tuduhan komunis pun merebak. Kebetulan Covid-19 ini episentrum-nya dari Wuhan, China. Kebetulan di China sedang ada masalah pada etnik Uighur. Kebetulan etnik Uighur itu muslim. Kebetulan pula secara formal China itu negara komunis. Kebetulan orang komunis (PKI) pernah melakukan kudeta di negeri ini tahun 1965. Kebetulan rezim Soeharto selama 32 tahun berkuasa mengkampanyekan jeleknya orang komunis. Maka lengkaplah sudah alasan menuduh bahwa Covid-19 ini memang kerjaan orang komunis, dan China-lah yang menjadi kambing hitamnya.

Oleh : M Syarbani Haira *)

IMG 20200406 105550394 1 150x150 - Mozaik Perilaku Ulama Nusantara di tengah Wabah Covid-19Dalam perspektif muslim, wabah covid-19 yang menghebohkan ini, dapat dipandang dalam 3 sudut pandang. Pertama, ia dapat dianggap sebagai tazkir, peringatan. Dengan begitu, covid-19 ini dapat dilihat sebagai teguran pada manusia. Ini dimaksudkan agar manusia bisa melakukan introspeksi diri, mana yang baik dilakukan, mana yang harus ditinggalkan. Kedua, covid-19 ini bisa dipandang sebagai ujian, cobaan. Seberapa jauh umat sebagai hamba, makhluk yang diberi kehidupan, tetap taat dan bisa menghadapi secara sabar, tawakkal pada Allah SWT. Ketiga, covid-19 ini bisa juga semacam bala pada manusia di bumi ini. Karena perilakunya yang telah terlalu jauh melanggar dan berkelindan dalam suasana yang serba jauh dari norma, aturan Allah SWT.

Tentu sebagai makhluk berakal, terdidik, kita tak serta merta memvonisnya dalam salah satu dari 3 pilihan itu. Apalagi untuk yang terakhir, bala. Itu nampaknya sudah terlalu jauh. Meski demikian banyak sekali umat menganggap covid-19 ini sebagai hukuman. Atau bala khususnya bagi China, karena sudah berbuat dholim, dan ingkar. Covid-19 ini merupakan hukuman, bala bagi China, yang telah melakukan pendholiman, setidaknya pada kaum muslimin di Uighur. Belakangan tuduhan itu menurun, setelah sejumlah negara muslim terkena imbas. Bahkan kini, seluruh negara yang berjumlah 213 terkena imbas, entah itu  yang muslim, nashrani, yahudi, komunis, athies, dan sebagainya.

Mereka mungkin lupa, atau tidak tahu jika Rasul SAW, sang penyebar Islam pada semua manusia di mana saja, saat isra mi’raj, pernah mengajukan 3 permohonan. Pertama, agar Allah SWT tak lagi menurunkan bala bencana, atau hukuman, pada umat-Nya, seperti yang dialami umat terdahulu. Kedua, agar Allah SWT berkenan memuliakan umat-Nya. Ketiga, memohon agar umat-Nya terjaga ukhuwahnya, bisa hidup damai dan berdampingan.

Terkait permohonan pertama dan kedua disetujui. Seperti diketahui, di antara umat nabi ada yang ditenggelamkan, ditarik ke dalam perut bumi, diturunkan wabah, dan sebagainya. Sejarah umat Nabi Nuh alaihi as-salatu wa as-slam, umat Nabi Musa AS, umat Nabi Luth AS, dan umat nabi lainnya sebelum kerasulan Muhammad SAW menjadi saksi nyata. Sejarah membeberkan betapa umat terdahulu itu berkali-kali mendapatkan hukuman, bala bencana. Sehingga umat tersebut harusnya habis, tak bersisa. Namun nyatanya, meski sudah diturunkan bala, minimal perilaku dan budayanya tetap eksis hingga kini. Artinya, hukuman berupa bala yang diturunkan bukan pilihan. Karena perilaku umat yang tak berubah itulah Rasul memohon agar tak ada lagi bala seperti pernah diturunkan pada umat terdahulu.  

Terkait permohonan kedua, rasul minta agar mengangkat dan memberikan kemuliaan pada umat-Nya. Permohonan ini dipenuhi. Sehingga, kemuliaan umat Muhammad tak habis-habis. Orang yang sudah wafat sekalipun tetap dimuliakan, untuk diteruskan syiar, ditindak-lanjuti perilakunya. Tak hanya itu, ulama yang masih hidup pun dimuliakan. Mereka dihormati sebagai panutan dan rujukan keagamaan. Doa rasul ini luar biasa. Orang-orang mulia itu dihormati saat hidup, hingga meninggal dunia. Banyak contoh nyata ulama seperti itu. Ulama abad awal-awal Islam hingga kini selalu dihormati, kuburnya selalu dijiarahi. Ulama nusantara pun demikian. Sekian tahun jasadnya sudah rata dengan tanah, sangat dihormati, selalu diziarahi. Ini artinya doa rasul dikabulkan.

Bandingkan dengan raja-raja, atau para sulthon yang hanya bermodalkan kekuasaan dan kekayaan. Mereka dihormati hanya saat hidup, saat menjabat. Pasca kematiannya, malah ada yang tak tau di mana kuburnya. Jauh sekali dijiarahi, atau menyalin ilmunya, melanjutkan keteladanannya. Kecuali para raja atau sulthon itu sekaligus sebagai ulama, maka penghormatan umat juga tak ada habisnya. 

Permohonan ketiga tak diterima. Kenapa Allah SWT tak menerimanya? Inilah misteri, hanya Allah SWT yang tahu. Namun sebagai muslim, kita sudah diberi wanti-wanti, koridor, untuk mampu menciptakan kerukunan sesama manusia. Ini berarti ujian, atau cobaan. Bisa nggak manusia yang pinter cerdas itu, yang sudah dididik hingga ke Arab Saudi misalnya, atau di mana saja, mampu membangun tradisi ukhuwah. Menjalin semangat kekeluargaan, walau berbeda latar belakang.

Untuk itu, agar ukhuwah tetap terjaga, semuanya kembali pada umat itu sendiri. Bukan semuanya didatangkan oleh Allah SWT. Nyatanya, di antara umat yang memiliki jiwa pemersatu (muwahid), tak ada masalah. Mereka justru bisa hidup rukun bersama, meski berbeda asal-usul, berbeda etnik, berbeda latar belakang, berbeda status dan kedudukan. Ukhuwah nyatanya bisa oke. 

Nampaknya, covid-19 ini sebetulnya cuma ujian, semacam tazkir bagi manusia, termasuk umat Islam. Terlebih mereka yang bergelar, berstatus sebagai ulama. Toh ulama itu kan sama saja dengan manusia lainnya, sama-sama Hamba Allah SWT, dan sama-sama Umat Nabi Muhammad SAW.

Bedanya, karena keilmuannya, ulama terdidik, sedang rakyat jelata tidak, atau kurang terdidik. Ulama bisa naik harkatnya, dimuliakan (baik semasa hidup atau sesudah wafat). Sedangkan rakyat jelata umumnya biasa saja, bahkan banyak yang sengsara baik saat hidup atau setelah wafat.

Lantas siapa sesungguhnya ulama itu ? Ini yang belum tuntas batasannya. Bagi publik nusantara, seseorang ulama kadang kerap dipandang dari sisi penampilan. Mulai dari baju yang dikenakannya, sorban yang dipakainya, exciting jenggotnya, serta hal yang bersifat fisik lainnya. Termasuk kompetensi (bakatnya) sebagai orator ulung, yang membuat audiance begitu terpesona dengan gaya pidato serta kelembutan bicaranya.

Ironinya, jika seseorang sudah masuk kategori demikian, maka audiance atau pengikutnya begitu membabi buta membelanya. Siapa saja yang berani mengkritisinya, sudah dianggap musuh. Bukan cuma musuh ulamanya, melainkan juga dianggap musuh agama, bahkan musuh Islam.

Bicara ulama, ilmuan kerap merujuk potongan al-Qur’an (al-Ahzab : 39), yang berbunyi : “yaitu orang-orang yang menyampaikan risalah Allah dan hanya takut kepada-Nya, tidak ada sesuatu pun yang mereka takutkan selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemberi perlindungan”.

Memang, fakta ayatnya seperti itu. Tapi banyak orang lupa, jika belajar al-Qur’an tak cukup hanya karena mengerti bahasa arab. Belajar di al-Qur’an perlu ilmu tafsir, dan perlu ilmu pendukung lainnya. Landasan beragama sendiri tak cuma al-Qur’an, melainkan ada al-Hadist, Ijma’ dan Qias. Maka itu, jika sesuatu yang tak jelas dalam al-Qur’an, bisa dibahas dengan pendekatan al-Hadist. Jika tak jelas juga didekati lagi melalui ijma’ (para ulama), termasuk qias yang juga hasil ijtima’ para ulama. 

Baca Juga : Belajar dari Abah Guru Sekumpul, Moderat dalam Tradisi Ibadah Nisfu Sya’ban.

Inilah mozaik perilaku ulama nusantara yang terlihat dari dalam menyikapi wabah Covid-19. Sudah banyak petunjuk ulama al-Azhar Mesir, ulama Arab Saudi, MUI, untuk menyelematkan umat dari wabah corona. Di antaranya untuk tak berkerumun, sedang sholat Jumat berkerumun. Juga untuk tak tarawih beramai-ramai, dan sebagainya.

Respon ulama terhadap Covid-19 ini beragam. Juga santrinya. Ada yang langsung menuduh ini rekayasa pihak luar. Tuduhan komunis pun merebak. Kebetulan Covid-19 ini episentrum-nya dari Wuhan, China. Kebetulan di China sedang ada masalah pada etnik Uighur. Kebetulan etnik Uighur itu muslim. Kebetulan pula secara formal China itu negara komunis. Kebetulan orang komunis (PKI) pernah melakukan kudeta di negeri ini tahun 1965. Kebetulan rezim Soeharto selama 32 tahun berkuasa mengkampanyekan jeleknya orang komunis. Maka lengkaplah sudah alasan menuduh bahwa Covid-19 ini memang kerjaan orang komunis, dan China-lah yang menjadi kambing hitamnya.

Maka dengan mudahlah mereka mencap Covid-19 ini kerjaan orang komunis yang ingin menghancurkan Islam. Ramai-ramailah ulama nusantara, berikut santrinya mengghibah, tentang China yang komunis, dan tentang komunis yang jahat. Tentang China komunis yang akan menjajah. Tentang orang-orang di negeri ini sesungguhnya adalah orang komunis tersembunyi, dan seterusnya. Demikianlah mozaik perilaku ulama nusantara dalam menyikapi wabah covid-19.

Nampaknya pemahaman ajaran agama yang belum sempurna, seperti firman Allah SWT yang disampaikan Rasul SAW saat Haji Wada’. Islam yang berdimensi Iman dan Ihsan, tentang aqidah wa syari’ah, tentang maqashidu asy-syari’ah, yang telah banyak dibahas para ulama terdahulu melalui kitab-kitab klasik. Karena itu sungguh ironi jika ada ulama kita tiap hari kerjanya cuma menebarkan berita bohong, menebarkan permusuhan dan kebencian. Tak hanya itu, ada pula yang memprovokatori umat mendobrak pagar mesjid. Apakah ini sudah sejalan dengan doktrin Islam? Jika ulamanya saja sudah demikian, apa yang akan melanda santrinya. Tentu lebih dahsyat, sehingga aura Islam menjadi berkelindan dengan spirit permusuhan dan kebencian. 

Islam akhirnya menjadi tak ramah lagi. Islam terlalu jauh melenceng dari nilai perjuangan yang diwariskan rasulullah, sahabat, tabi’it dan tabi’it tabi’in, serta para ulama klasik yang berhasil menebarkan wajah Islam yang damai. Mozaik buruk inilah yang harus ditata ulang. 

Baca Juga : Cara Cerdas Tuan Guru di Martapura Meredakan Gejolak Pemberontakan.

Lembaga pendidikan seperti pesantren harus menyadari semua ini. Begitu juga lembaga pendidikan tingginya, termasuk Ma’had Aly. Agar ke depan kita tak lagi menghasilkan figur ulama kontroversial, yang membikin wajah Islam terlampau sangar, penuh kebencian. Islam ke depan adalah, Islam fundamental revolusioner, yang akan hadir secara santun, yang manfaat untuk seisi alam ini. Wallahu a’lam bis-shawab.

*) M Syarbani Haira, Ketua Dewan Syuro Mesjid As-Su’ada, Universitas NU Kalsel.

 Baca Juga: Menyukuri Pandemi Covid-19, Sisi Lain Takdir Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *