Akhlak Nabawiyah, Urgensinya bagi Kehidupan Umat Manusia

Apa yang kita lihat hari ini; pembunuhan, peperangan, pemberontakan, kezaliman, kerusakan, saling adu kekuasaan, dari mana sumber semua ini? Apa yang kita saksikan hari ini; eksploitasi orang miskin dan kelas proletar, serta menganggap hina orang miskin, darimana datangnya semua ini? Dari sebab hilangnya akhlak! Maka krisis semesta hari ini sejatinya adalah krisis akhlak.

Oleh : Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri *)

Habib Ali 1 300x300 - Akhlak Nabawiyah, Urgensinya bagi Kehidupan Umat ManusiaKenapa kita harus berbicara tentang Akhlak Nabawiyah? Apakah karena kita seorang muslim? Apakah karena kita menyaksikan keesaan Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah? Benar, kita bicara Akhlak Nabawiyah karena kita seorang muslim. Namun bukan semata karena kita muslim saja. Tapi karena junjungan kita Nabi Muhammad Saw datang sebagai prototipe kesempurnaan manusia dalam berakhlak baik.

Setiap akhlak yang baik dan lembut, kau pasti menemukan bahwa junjungan kita Muhammad Saw adalah makhluk paling sempurna perannya dalam akhlak tersebut. Beliau adalah rujukan dan standar akhlak mulia. Adalah prototipe akhlak yang halus. Sebab inilah Allah Swt mengatakan tentang akhlak Nabi Muhammad Saw,

و إنك لعلى خلق عظيم

Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS`Al-Qalam : 4)

Manakala kita berbicara tentang prinsip-prinsip Akhlak Nabawiyah, sudah pasti maksudnya kita membicarakan tentang akhlak yang baik. Karena ada yang dinamakan akhlak baik dan ada akhlak buruk. Ada manusia yang berakhlak buruk, semoga kita dijauhkan dari akhlak demikian. Pada kita ada akhlak buruk yang membutuhkan untuk dirubah.

Ringkasnya, bila kita mengatakan Akhlak Nabawiyah maka yang dimaksud adalah akhlak yang baik, lembut, yang menghampirkan kepada Allah Swt.

Kajian kita kali ini adalah tentang prinsip-prinsip Akhlak Nabawiyah. Maksud kita dengan majlis ini adalah bahwa kita terikat dengan matriks akhlak dan format akhlak yang baik. Kenapa? Karena umat manusia hari ini, perhatikan ini, umat manusia hari ini hidup krisis akhlak. Semesta hari ini kehilangan hakikat akhlak. Padahal, ketika hakikat akhlak ini raib, semesta tergradasi. 

Apa yang kita lihat hari ini; pembunuhan, peperangan, pemberontakan, kezaliman, kerusakan, saling adu kekuasaan, dari mana sumber semua ini? Apa yang kita saksikan hari ini; eksploitasi orang miskin dan kelas proletar, serta menganggap hina orang miskin, darimana datangnya semua ini? Dari sebab hilangnya akhlak! Maka krisis semesta hari ini sejatinya adalah krisis akhlak.

Sementara, rahasia risalah junjungan kita Muhammad Saw, diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Disinilah letak manhaj kita. Ketika Rasulullah Saw mengatakan, “aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia”. 

Rasulullah tidak mengatakan bahwa “aku diutus untuk mendatangkan akhlak”, atau “aku diutus untuk mengajarkan akhlak”, atau “aku diutus untuk mengagas akhlak”. Tetapi Rasulullah berkata “aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”. Mengapa demikian? Karena pondasi akhlak mulia erat kaitannya dengan fitrah manusia. Kita telah membicarakan tentang fitrah ini.

Baca Juga Kajian Sebelumnya : Akhlak, Tabiat, Insting, Fitrah, dan Adab, Apa Bedanya?

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini membawa sifat fitrah, yaitu akhlak yang baik. Di kemudian hari akhlak ini bisa melenceng, berubah dan membesar dalam diri manusia. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia berada, pendidikan yang ia dapatkan, pergaulan, pertemanan, perkumpulan, daerah tinggal. Setelah itulah terjadi perubahan dan perbedaan akhlak di antara manusia. Maka ketika Nabi mengatakan, “untuk menyempurnakan akhlak mulia”, itu karena pada dasarnya akhlak yang baik telah ada pada diri manusia sejak fitrahnya. Muslim atau non muslim.

Tentang hal ini, Rasulullah Saw bersabda :

الناس معادن كمعادن الذهب و الفضة فخيارهم فى الجاهلية خيارهم فى الإسلام إذا فقهوا

Manusia itu ibarat benda yang terbuat dari unsur logam, seperti emas atau perak. Manusia yang baik pada masa jahiliyah menjadi baik pula pada masa memeluk Islam; dengan catatan, apabila mereka itu berilmu.

Ketika Rasulullah menyematkan sifat “khairiyah” (kebaikan) pada masa Jahiliyah dalam hadits ini, pertanyaannya, mungkinkah seseorang baik sementara ia hidup pada masa Jahiliyah? Jawabnya iya. Hanya saja, perintah kebaikan yang disebutkan pada syariat belum sampai kepadanya atau belum dibebankan. Maka manakala dakwah Islam sampai kepadanya, ia akan langsung berada dalam kebenaran. Sebab itulah, yang terbaik pada masa Jahiliyah, menjadi terbaik pula pada masa Islam, bila ia berilmu.

Dengan demikian, kenapa Nabi Muhammad mengatakan “untuk menyempurnakan akhlak”? Karena akhlak yang baik telah ada pada setiap manusia. Ini sebab pertama.

Sebab yang kedua, bahwa Al-Habib shallallahu ‘alaih wa aalih wa shahbih wa sallam diutus ke dunia, didahului oleh para rasul yang diutus sebelumnya. Datangnya Rasulullah Saw sebagai penyempurna bangunan risalah yang datang dari langit.

Rasulullah Saw bersabda :

إن مثلى و مثل الأنبياء من قبلى كمثل رجل بنى بيتا فأحسنه و أجمله إلا موضع لبنة من زاوية فجعل الناس يطوفون به و يعجبون له و يقولون هلا وضعت هذه اللبنة قال فأنا اللبنة و أناخاتم النبيين 

Perumpamaanku di tengah para nabi-nabi seperti seorang laki-laki membangun rumah. Maka ia membaguskan dan menyempurnakannya, kecuali satu bata belum dipasang pada dindingnya. Lalu manusia mengelilingi bangunan tersebut dan mereka kagum darinya. Dan mereka berkata ‘alangkah indahnya,  seandainya dipasang sempurna tempat bata ini’. Maka aku penutup bata itu dan aku adalah penutup para nabi.

Apa hubungan Rasulullah dengan para pendahulunya, para rasul lainnya? Apa peran para rasul dengan risalah? Simak pada kajian selanjutnya : Di Mana Akhlak Nabawiyah Hari Ini?

*********

*) Tulisan ini berasal dari kajian tematik Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri dalam program “Syajarah at-Thayyibah”. Diterjemahkan oleh Rahmat Ilham dan editing oleh Khairullah Zain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *