Mengelola Rindu di Tengah Badai Pandemi

Banua.co – Ramadan dan Pandemi benar-benar menjadi momentum sangat baik untuk menyelami kemudian mengukur dalamnya kerinduan yang dimiliki seorang hamba, hingga akhirnya ia mampu mengukir prestasi ketika keduanya beranjak pergi.

Ramli Jauhari 200x300 - Mengelola Rindu di Tengah Badai PandemiOleh: Muhammad Ramli Jauhari*)

Syahdan, hingga saat ini si COVID-19 belum juga beranjak, sekalipun Ramadan nan suci sudah memasuki hari keenam. Riuh redam kegembiraan batin akhirnya berbanding lurus dengan kondisi raga, edisi ke 1441 kali ini mempunyai cerita tersendiri, berbeda dengan edisi sebelum-sebelumnya. Sekalipun banyak hal yang tak sama, nyatanya perkara rindu tetap saja berlaku sama bagi dan milik siapapun, tanpa terkecuali.

Rindu sering dianggap bagian tak terpisahkan dari romansa. Menurut KBBI, romansa memiliki arti novel atau kisah prosa lainnya yang berciri khas tindakan kepahlawanan, kehebatan, dan keromantisan dengan latar historis atau imajiner. Perkara rindu, selalu menarik untuk didiskripsikan secara luas, semakin bebas justru semakin menarik. Bagi sebagian individu, rindu adalah candu, sebagian yang lain, rindu adalah pilu. Bukan untuk dihindari, justru seharusnya dikelola sebaik mungkin, agar rindu menjadi syahdu, sekalipun untuk sementara jawabannya bukanlah temu.

Perindu dapat dikatakan sebuah profesi yang mampu diperankan oleh banyak kalangan, bahkan setiap individu mempunyai kesempatan untuk disinggahi, memiliki, menjadi lakon serta merasakan peran tersebut. Diundang ataupun tidak, hadirnya rindu bukan untuk dihindari tetapi dikelola dengan bijak. Bisa saja rindu memakan korban, namun akan berakhir indah jika rindu menghasilkan perubahan. Karena sejatinya yang abadi adalah “perubahan” itu sendiri.

Rindu Milik Hamba

Bulan suci menjadi media terbaik bagi makhluk untuk cooling down, merefleksikan diri dari segenap gairah yang bersifat duniawi, memperbesar porsi ukhrawi dari jatah waktu serta kesempatan yang masih diberikan Sang Khalik. Memaksimalkan setiap detik yang tersedia dengan bentuk kebaikan yang beragam, menjadikan setiap waktu lebih bermakna dari sekedar rutinitas biasa. Iman dan ihsan menjadi duet terbaik dalam suasana saat ini, paduan nada yang dihasilkan dari keduanya menjadi alunan merdu.

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan), secara istilah syar’i adalah “keyakinan dalam hati, perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dalam melakukan ketaatan dan berkurang dalam maksiat”. Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Sedangkan ihsan secara bahasa berarti kesempurnaan atau terbaik, bentuk aktualisasinya adalah “seseorang yang menyembah Sang Khalik seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Dia melihat perbuatannya”. Rasa selalu dalam pengawasan dan diawasi merupakan faktor penting untuk mencapai kondisi sadar, yang pada akhirnya akan melahirkan sikap takwa.

Kualitas kebaikan yang dilakukan seorang hamba ditentukan oleh dukungan kuantitas rindu yang ia miliki, tentu pula mesti dibarengi dengan pengelolaan yang baik. Perkara kualitas tidak dapat lepas dengan seberapa kenalnya seorang hamba terhadap Tuhannya. Maksud kenal di sini bukan sekedar tahu sebatas nama, kemudian diukur dari intensitas menyebutnya dalam banyak kesempatan, itu tidaklah cukup.

Bersumber dari salah satu artikel yang termuat di portal NU Online, salah satu ungkapan yang sangat masyhur di kalangan praktisi tasawuf Islam dari dahulu hingga sekarang adalah:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Artinya: “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

terlepas bahwa ungkapan tersebut masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, seperti Imam An-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Az-Zarkasyi, Ibnu Athaillah, dan lain-lain, yang telah melakukan penelitian serius terkait ungkapan tersebut.

Terkait persoalan otentisitas, An-Nawawi menegaskan bahwa ungkapan itu tidak mempunyai validitas yang kuat sebagai Hadis Nabi. Dari hasil diskusi ilmiah di kalangan para ahli diatas, keterangan yang tersimpulkan bahwa ungkapan tersebut berkemungkinan besar bukanlah Hadis Nabi, melainkan hanya perkataan salah seorang ulama yang bernama Yahya bin Muadz Ar-Razi.

Penulis ingin menjadikan titik fokus bukan pada perdebatan status ungkapan tersebut, tetapi terhadap kandungan makna. Masih dari sumber yang sama, Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa maksud mengenal adalah ketika seseorang mengetahui bahwa sifat-sifat yang melekat di dalam diri seorang hamba, merupakan kebalikan dari sifat-sifat Tuhan, Allah SWT.

Ketika ia mengetahui bahwa dirinya akan hancur, niscaya ia akan sadar bahwa Allah mempunyai sifat baqa’ (abadi). Begitu juga ketika ia mengetahui dirinya diliputi oleh dosa dan kesalahan, maka ia akan menyadari bahwa Allah bersifat Maha Sempurna dan Maha Benar. Selanjutnya, orang yang mengetahui kondisi dirinya sebagaimana adanya, maka ia akan mengenal Tuhannya sebagaimana ada-Nya. Wallahu a’lam

Ramadan dan Pandemi benar-benar menjadi momentum luar biasa, sarana yang sangat baik untuk menyelami kemudian mengukur dalamnya kerinduan yang dimiliki seorang hamba, hingga akhirnya ia mampu mengukir prestasi ketika keduanya beranjak pergi. Tentunya dengan nilai raport yang berbeda-beda. Kehadiran keduanya patut untuk disyukuri, perbedaannya adalah jika yang pertama selalu diharapkan kembali pada edisi mendatang, maka yang kedua hanya sekedar disampaikan ucapan terimakasih lalu cukup atas sekali saja kedatangannya.

Rindu Milik Semesta

Saat ini seluruh negara serentak dibuat tertegun oleh pandemi, sekalipun si pelaku sendiri tidak bergeming sedikitpun dengan beragam sikap yang ditunjukkan oleh penduduk dari makhluk ciptaan Tuhan yang terhampar luas berupa daratan dan lautan ini, yang dikenal dengan sebutan bumi. Dari hari ke hari, pandemi menjadi bahan diskusi yang memenuhi seluruh ruang dan waktu. Bahkan dampak yang ditimbulkan sudah berada pada level mengkhawatirkan, hampir semua sisi kehidupan ikut tergerus.

Semesta pada dasarnya adalah makhluk juga, karena ia merupakan hasil ciptaan. Maka dengan demikian, tentunya ia pun memiliki standar yang menjadi tolok ukur penting dalam hal terjaganya stabilitas. Semesta dalam banyak kesempatan sering menunjukkan bentuk kejenuhan, kegelisahan ataupun kegembiraan, demikian pula kerinduan.

Penulis menemukan sebuah postingan dari salah satu fanpage (halaman) di Facebook yang berjudul “Semesta, Senja dan Jingga”. Penggalan dari rangkaian kata didalamnya dapat menjadi gambaran untuk kemudian menjadi refleksi bersama tentang kondisi semesta saat ini.

Semesta, Senja dan Jingga.

Tidak selamanya senja milik jingga, karena ada kalanya senja itu kelabu, jadi siapa pemilik senja itu? Pemilik senja adalah semesta, karena saat senja menjadi jingga atau kelabu, semesta selalu setia menemaninya.

Jenuh, lima huruf yang penuh dengan kebingungan, kamu tahu? Saat jenuh datang, kan ada yang tersakiti dan ada yang tersenyum gembira, semesta terasa tersakiti saat senja lupa akan semesta, pemilik senja yang sebenarnya, sedangkan jingga? Dia kan senang saat dekat dengan senja, karena saat senja berwarna jingga, ada keindahan yang tercipta, sampai senja pun lupa siapa pemiliknya yang sebenarnya.

Senja berbahagialah bersamanya, jingga sang pengindah senja, semesta kan menunggu walau harus teracuhkan”.

Rindu Milik Pengembara

Pengembara selalu memiliki cerita-cerita heroik atas goresan langkah yang mereka buat, langkah tersebut sengaja mereka torehkan, karena berangkat dari rasa sadar bahwa dalam hidup penting memiliki banyak pencapaian untuk diceritakan kelak di usia tua. Label dan jiwa pengembara secara lahiriah sebenarnya telah tersematkan secara otomatis kepada setiap individu, karena didorong oleh keinginan memiliki legacy yang baik di masa yang akan datang, hal yang demikian merupakan impian sekaligus rindu yang harus terselesaikan.

Secara umum, legacy diterjemahkan sebagai warisan. Tentunya bukan warisan dalam arti harfiah berupa fisik seperti benda, properti, uang, dana dan sebagainya. Legacy adalah warisan berupa nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi suri teladan bagi orang-orang yang ditinggalkan. Sebagian pendapat ada pula yang mengatakan bahwa legacy adalah sesuatu yang ingin orang lain mengingat apa yang telah dilakukan untuk kebaikan bagi tempat atau lingkungan dimana ia tinggal.

Kehidupan adalah ruang kembara yang luas dan juga bebas. Saat hidup terasa nyaman, sering terlupakan tentang legacy apa yang ingin ditinggalkan apabila kelak sudah tidak ada lagi di alam kehidupan, meninggalkan dunia yang saat ini dijalani. Seolah-olah ingin menikmati kehidupan untuk diri sendiri saja dulu, karena menganggap waktunya masih lama sehingga belum memikirkan tentang peninggalan yang bernilai bagi generasi selanjutnya.

Tidak ada yang kekal atau abadi dalam hidup ini, semua mengalami perubahan, sekali lagi, sejatinya yang abadi adalah “perubahan” itu sendiri. Baik itu usia, maupun pekerjaan. Semua ada batasnya, ada waktunya. Kita harus meninggalkan ataupun bahkan ditinggalkan, semuanya berlalu tanpa bisa diprediksi oleh manusia itu sendiri.

 Rindu Milik Penikmat

Cara menikmati rindu itu memiliki berbagai macam narasi, tergantung apa yang sedang dirindukan. Seorang perindu acap kali memiliki energi dan ekspresi tak terbatas, ada yang dapat dipahami oleh orang lain dan ada pula yang hanya dapat dipahami orang yang sedang mengalami kerinduan itu sendiri. Hal demikian tentu wajar, karena rindu itu erat kaitannya dengan sesuatu yang bersifat rahasia.

Orientasi kerinduan yang positif haruslah bermuara pada hal-hal yang bernilai manfaat untuk kehidupan maupun untuk kepentingan secara luas, tidak hanya untuk pribadi. Seseorang akan rela berlama-lama dalam kondisi yang sama, karena hanya dengan cara itulah, dibarengi kesabaran yang kuat, ia akan mencapai puncak kepuasan dan kenikmatan yang memenuhi ruang batinnya. Karena mahar untuk menebus rindu sedang berlaku disana, saat itu juga harus ditunaikan dengan sikap konsisten.

Rindu yang baik adalah rindu yang dikelola dengan bijak. Rindu yang baik adalah rindu yang dinikmati dengan arif. Rindu yang baik adalah rindu yang disyukuri, dimaknai dan dipelajari kehadirannya. Tidak ada cara lain.

langitkan cita dengan pribadi membumi
Kalimantan Selatan, 29 April 2020

*) Penulis adalah Ketua Pengurus Koordinator Cabang PMII Kalimantan Selatan 2017-2019, Penikmat Rindu dan Beragam Varian Kopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *