Habib Abdullah Al-‘Ayderus, sang Wali Agung.

Selain berpuasa selama 7 tahun, Habib Abdullah al-‘Ayderus juga mengurangi makan. Beliau berbuka hanya dengan 7 butir kurma dan sedikit roti yang diberikan ibunya. Itupun semata menjaga agar ibunya yang telah menyiapkan roti tidak kecewa. Selain itu, juga mengurangi tidur. Diriwayatkan beliau pernah tidak tidur baik siang ataupun malam selama 20 tahun. Prinsipnya, “Peraslah badanmu dengan mujahadah, sehingga keluar darinya minyak murni” dan “Siapa menyingsing lengan bajunya, pastilah ia akan mendapatkan ilmu rahasia”.

Oleh : Khairullah Zain *)

Suatu kali ada yang bertanya kepada al-Habib Abdurrahman as-Seggaf, apa makna Al-‘Ayderus, gelar yang disematnya pada cucunya yang bernama Abdullah, anak dari putranya yang bernama Abu Bakr. Leluhur as-Seggaf ini menjawab, “Rais al-Awliya”, atau pimpinan para wali. Dari gelar inilah kelak semua keturunan al-Habib Abdullah disematkan gelar al-‘Ayderus, tidak diberi gelar as-Seggaf sebagaimana keturunan al-Habib Abdurrahman lainnya. Walaupun memang setiap al-‘Ayderus pasti keturunan as-Seggaf dan berhak menyandang gelar nasab tersebut. Demikian diantara cerita yang pernah penulis dengar dari guru penulis, Abah Guru Sekumpul.

Gelar yang disematkan al-Habib Abdurrahman as-Seggaf kelak menjadi kenyataan. Cucunya tersebut kelak dikenal sebagai seorang sufi agung, diakui sebagai pimpinan para wali di jamannya. Namun tentu saja hal ini tidak didapat dengan serta merta dan bim salabim. Beliau juga menuntut ilmu hingga ‘alim dan kemudian bermujahadah ala para sufi.

Kepada Abah Guru Sekumpul, selain menyimak secara talaqqi kajian kitab “Fath ar-Rahim ar-Rahman”, sebuah manuskrip manaqib Habib Abdullah al-‘Ayderus al-Akbar yang disusun Shahib al-Hamra, penulis juga menerima tarekat al-‘Ayderusiyyah. Tarekat yang menurut penulis unik, karena dzikir lisannya dilantunkan double dalam satu nafas. Wirid minimal adalah setiap selesai sholat melafalkan 24 kali “Laa Ilaaha Illallah”, 24 kali lafazh “Allah”, dan 24 kali “Hu”. Masing-masing dibaca double setiap nafas, sehingga setiap dzikir dilafalkan dalam 12 nafas. Adapun level menengah adalah 120 kali atau 240 dzikir dan level atas 12 ribu kali atau kalau ditotalkan 24.000 dzikir dalam sehari semalam.

Baca Juga : Kisah Sufi dari Sekumpul, KehendakNya Itulah yang Aku Kehendaki

Mujahadah Ketat

Guru Tashawuf Habib Abdullah al-‘Ayderus adalah pamannya sendiri, al-Habib ‘Umar al-Muhdar. Sementara ayahnya, yang senantiasa berada di maqom “as-sakr” sehingga dikenal dengan julukan “as-Sakran”, yaitu Abu Bakr bin Abdurrahman as-Seggaf, wafat ketika usianya baru 10 tahun. Dua tahun pasca wafat kakeknya al-Habib Abdurrahman as-Seggaf. Al-Habib ‘Umar al-Muhdhar lah yang mengasuhnya dan sekaligus menjadi pembimbingnya dalam menjalani Tashawuf.

Habib Abdullah al-‘Ayderus diriwayatkan menjalani mujahadah ketat dalam suluknya. Beliau pernah berpuasa setiap hari –terkecuali hari yang diharamkan puasa- selama tujuh tahun. Selain berpuasa selama 7 tahun, Al-Habib Abdullah al-‘Ayderus juga mengurasi makan. Beliau berbuka hanya dengan 7 butir kurma dan sedikit roti yang diberikan ibunya. Itupun semata menjaga agar ibunya yang telah menyiapkan roti tidak kecewa.

Selain itu, Habib Abdullah Al’Ayderus juga mengurangi tidur. Diriwayatkan beliau pernah tidak tidur baik siang ataupun malam selama 20 tahun. Prinsipnya, “Peraslah badanmu dengan mujahadah, sehingga keluar darinya minyak murni” dan “Siapa menyingsing lengan bajunya, pastilah ia akan mendapatkan ilmu rahasia”.

Namun, tentu saja bukan sebatas mujahadah tanpa ilmu. Bukan sekedar beribadah tanpa mengikuti aturan-aturan syariat. Habib Abdullah al-‘Ayderus sangat perhatian terhadap kitab-kitab ilmu susunan para ulama. Beliau –karena seringnya membaca- hafal kitab Ihya ‘Ulumiddin susunan al-Imam al-Ghazali. Bahkan, al-‘Ayderus dikenal dengan statemennya, “Jangan tinggal di suatu kampung yang di sana tidak ada orang membaca kitab Ihya”.

Mujahadah yang dilakukan Habib Abdullah al-‘Ayderus bukanlah demi mendapatkan suatu kedudukan (maqom), apalagi sekedar mengincar fadhilat atau khasiat suatu amaliah. Beliau melakukan mujahadah untuk mendidik nafsunya agar benar-benar menjadi “Hamba Allah”. Hal ini tergambar dari kalamnya, “Tidaklah seseorang benar-benar menjadi hamba, sehingga tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari lisannya kecuali dengan izin Tuhannya. Tidaklah seseorang benar-benar menjadi hamba, sehingga ia membersihkan hati dari makhluk seluruhnya”. Dan “Siapa yang menghendaki kemurnian rabbani, maka hendaklah berjuang di tengah malam. Waktu akhir malam adalah umpama belerang merah, menakjubkan, lembut, halus, bahkan hampir tidak terasa”. 

Selanjutnya, Klik Habib Abdullah Al-‘Ayderus Diangkat Menjadi Pemuka


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *