Habib Abdullah Alaydrus dan Sejarah Marga Alaydrus

Sejarah habaib marga Alaydrus berhulu pada Al Habib Abdullah Alaydrus. Beliau seorang yang terkenal sebagai wali ghauts, pendiri tarekat Aydrusiyyah. Para habaib dan ulama menyematkan gelar “Syamsus syumus” (Mataharinya matahari) dan “Muhyin nufus” (Penghidup jiwa) kepadanya. Prinsip tarekatnya Peraslah badanmu dengan mujahadah, sehingga keluar darinya minyak murni” dan “Siapa menyingsing lengan bajunya, pastilah ia akan mendapatkan ilmu rahasia”.

Oleh : Khairullah Zain *)

Foto saya 150x150 - Habib Abdullah Alaydrus dan Sejarah Marga AlaydrusBila ingin mengenal sejarah habaib marga Alaydrus atau ingin mempelajari tarekat Aydrusiyyah, maka mau tidak mau harus mengenal sejarah orang yang pertama kali mendapat gelar Aydrus.

Orang pertama yang mendapat gelar Alaydrus adalah Abdullah bin Abu Bakar bin Abdurrahman Assegaf. Suatu kali ada yang bertanya kepada al-Habib Abdurrahman Asseggaf, apa makna Alaydrus, gelar yang disematnya pada cucunya yang bernama Abdullah. Leluhur Assegaf ini menjawab, “Rais al-Awliya”, atau pimpinan para wali.

Dari gelar Alaydrus yang disematkan oleh Al Habib Abdurrahman Assegaf inilah kelak semua keturunan al-Habib Abdullah mendapat gelar marga tersendiri, yaitu marga Alaydrus, tidak diberi gelar Asseggaf sebagaimana keturunan al-Habib Abdurrahman lainnya. Walaupun memang setiap Alaydrus pasti keturunan Assegaf dan berhak menyandang gelar nasab tersebut.

Demikian diantara cerita yang pernah penulis dengar dari guru penulis, Abah Guru Sekumpul.

Gelar yang disematkan al-Habib Abdurrahman Asseggaf kepada Abdullah kelak menjadi kenyataan. Cucunya tersebut kelak dikenal sebagai seorang sufi agung, diakui sebagai pimpinan para wali di zamannya. Namun tentu saja hal ini tidak didapat dengan serta merta dan bim salabim. Beliau juga menuntut ilmu hingga ‘alim dan kemudian bermujahadah ala para sufi.

Kepada Abah Guru Sekumpul, selain menyimak secara talaqqi kajian kitab “Fath ar-Rahim ar-Rahman”, sebuah manuskrip manaqib Habib Abdullah Alaydrus Al Akbar yang disusun Shahib al-Hamra, penulis juga menerima tarekat Aydrusiyyah. Tarekat yang menurut penulis unik, karena dzikir lisannya dilantunkan double dalam satu nafas. Wirid minimal adalah setiap selesai sholat melafalkan 24 kali “Laa Ilaaha Illallah”, 24 kali lafazh “Allah”, dan 24 kali “Hu”. Masing-masing dibaca double setiap nafas, sehingga setiap dzikir dilafalkan dalam 12 nafas. Adapun level menengah adalah 120 kali atau 240 dzikir dan level atas 12 ribu kali atau kalau ditotalkan 24.000 dzikir dalam sehari semalam.

Baca Juga : Kisah Sufi dari Sekumpul, KehendakNya Itulah yang Aku Kehendaki

Mujahadah Habib Abdullah Alaydrus

Guru Tashawuf Habib Abdullah Alaydrus adalah pamannya sendiri, al-Habib ‘Umar al Muhdar. Sementara ayahnya, yang senantiasa berada di maqom “as-sakr” sehingga dikenal dengan julukan “as Sakran”, yaitu Abu Bakr bin Abdurrahman as Seggaf, wafat ketika usianya baru 10 tahun. Dua tahun pasca wafat kakeknya al-Habib Abdurrahman as Seggaf. Al-Habib Umar al Muhdhar lah yang mengasuhnya dan sekaligus menjadi pembimbingnya dalam menjalani Tashawuf.

Habib Abdullah Alaydrus diriwayatkan menjalani mujahadah ketat dalam suluknya. Beliau pernah berpuasa setiap hari –terkecuali hari yang diharamkan puasa- selama tujuh tahun. Selain berpuasa selama 7 tahun, Al-Habib Abdullah Alaydrus juga mengurasi makan. Beliau berbuka hanya dengan 7 butir kurma dan sedikit roti yang diberikan ibunya. Itupun semata menjaga agar ibunya yang telah menyiapkan roti tidak kecewa.

Selain itu, Habib Abdullah Alaydrus juga mengurangi tidur. Diriwayatkan beliau pernah tidak tidur baik siang ataupun malam selama 20 tahun. 

Diantara nasehat Habib Abdullah Alaydrus tentang mujahadah:

Peraslah badanmu dengan mujahadah, sehingga keluar darinya minyak murni” dan “Siapa menyingsing lengan bajunya, pastilah ia akan mendapatkan ilmu rahasia”.

Namun, tentu saja bukan sebatas mujahadah tanpa ilmu. Bukan sekedar beribadah tanpa mengikuti aturan-aturan syariat. Habib Abdullah Alaydrus sangat perhatian terhadap kitab-kitab ilmu susunan para ulama. Beliau –karena seringnya membaca- hafal kitab Ihya ‘Ulumiddin susunan al-Imam al-Ghazali.

Habib Abdullah Alaydrus dikenal dengan statemennya, “Jangan tinggal di suatu kampung yang di sana tidak ada orang membaca kitab Ihya”.

Mujahadah yang dilakukan Habib Abdullah al-‘Ayderus bukanlah demi mendapatkan suatu kedudukan (maqom), apalagi sekedar mengincar fadhilat atau khasiat suatu amaliah. Beliau melakukan mujahadah untuk mendidik nafsunya agar benar-benar menjadi “Hamba Allah”. Hal ini tergambar dari kalamnya, “Tidaklah seseorang benar-benar menjadi hamba, sehingga tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari lisannya kecuali dengan izin Tuhannya. Tidaklah seseorang benar-benar menjadi hamba, sehingga ia membersihkan hati dari makhluk seluruhnya”. Dan “Siapa yang menghendaki kemurnian rabbani, maka hendaklah berjuang di tengah malam. Waktu akhir malam adalah umpama belerang merah, menakjubkan, lembut, halus, bahkan hampir tidak terasa”. 

Habib Abdullah Alaydrus Diangkat Menjadi Pemuka

Ketika Habib Abdullah Alaydrus berusia 25 tahun, paman yang sekaligus gurunya, al-Habib Umar al Muhdhor wafat. Ketika itu, para pembesar Bani ‘Alawi Hadhramaut mendatangi al-Habib Muhammad Jamalul Lail untuk menjadi pengganti al Habib Umar al Muhdhor, sebagai pemimpin mereka. Namun, al-Habib Muhammad yang dikenal sebagai ahli ibadah hingga dijuluki Jamal al Lail (Keindahan Malam) menolak dan menyuruh agar mencari yang lain saja. 

Para pembesar Bani ‘Alawi kemudian istikharah, meminta petunjuk kepada Allah tentang siapa yang layak diangkat menjadi pemuka. Hingga Allah membukakan dada mereka untuk menunjuk Habib Abdullah Alaydrus, meski usianya masih sangat muda. 

Usia 25 tahun, Habib Abdullah Alaydrus tentu saja menolak dan memohon agar mereka tidak menjadikan dirinya sebagai pemuka. Masih banyak para habaib yang lebih sepuh, lebih berilmu, lebih banyak ibadah dan karomahnya. Namun, penolakan ini malah membuat para pembesar Bani Alawi semakin bulat, bersepakat menunjuknya sebagai pemuka Bani Alawi. Kesepakatan yang tidak bisa lagi beliau tolak.

Sufi yang Tampil Elegan 

Habib Abdullah Alaydrus dikenal sebagai seorang sufi yang tampil elegan. Menempati rumah mewah, membalut tubuh dengan pakaian mahal dan berkelas, serta memilih isteri wanita tercantik, adalah diantara yang disebutkan dalam riwayat tentangnya. Sehingga, dengan penampilan semacam itu, Habib Abdullah al-‘Ayderus sebagai pemuka Bani Alawi tidak dipandang remeh oleh penguasa. Bahkan para penguasa di zamannya segan dan merendah di hadapannya.

Dibalik itu, beliau adalah seorang yang sangat pemurah dan rendah hati. Suka duduk dengan fakir miskin dan berbagi harta kepada mereka. Beliau pandai menempatkan diri sedang berhadapan dengan siapa. Membedakan penampilan ketika berkumpul dengan penguasa, ulama, dan kaum papa.

Baca Juga : Di Mana Akhlak Nabawiyah Hari Ini?

Screenshot 20200505 231929 1 714x1024 - Habib Abdullah Alaydrus dan Sejarah Marga Alaydrus
Kitab “Majmu’ Sulthan al-Mala al-Imam Abdullah bin Abu Bakr Alaydrus

 

Karya Tulis Habib Abdullah Alaydrus

Dalam perjalanan menuju Tarem, sekembalinya dari as-Syehr, Habib Abdullah Alaydrus mengalami sakit. Sakit yang kemudian mengantarkan pulang ke hadirat Tuhan, Allah Azza wa Jalla. Wali besar yang kepadanya berhulu sejarah marga Alaydrus ini dilahirkan pada lahir Dzulhijjah 811 H dan wafat pada hari Ahad, 12 Ramadhan 865 H dalam usia 54 tahun. Jasadnya kemudian di bawa ke Tarim dan di makamkan di pemakaman Zanbal di hari ke 14 bulan Ramadhan.

Sebagai seorang pendiri tarekat, Habib Abdullah Alaydrus juga meninggalkan karya tulis beberapa kitab-kitab kesufian. Namun, karena isinya cenderung lebih sulit untuk diajarkan ke kalangan awam, maka kitab-kitab karyanya tidak seterkenal seperti kitab-kitab susunan al-Habib Abdullah al Haddad. 

Diantara karyanya adalah Al-Kibrit Al-Ahmar, kitab yang lebih layak dikonsumsi oleh kalangan awam/pemula. Sementara Risalah Lathifah fi at-Tashawuf yang mengupas tentang mujahadah, ahwal, dan maqomat kesufian, dan kitab Risalah fi Dukhul al-Khalwat al-‘Arba’iniyyah yang membahas tentang adab-adab khalwat empat puluh hari, cenderung ditujukan untuk kalangan tertentu saja. Yaitu orang-orang yang sudah membulatkan tekad untuk menempuh jalan kesufian (suluk) dan memiliki pembimbing (mursyid). Kecuali itu, beliau juga men-syarah beberapa qosidah susunan gurunya, al-Habib ‘Umar al-Muhdhor.

Belakangan, karya-karya Habib Abdullah Alaydrus dibukukan dalam sebuah kitab kompilasi berjudul “Majmu’ Sulthan al-Mala al-Imam Abdullah bin Abu Bakr al-‘Ayderus”, dicetak dan dibagikan secara gratis di Hadhramaut. Tentu saja ini adalah kabar baik untuk siapa saja yang ingin menggali dan mengambil sebagian ilmu yang beliau wariskan. Khususnya untuk habaib marga Alaydrus. Karena seorang wali tidaklah mewariskan kewaliannya kepada keturunannya. Kewalian, juga keilmuan akan turut bersama ketika wafatnya. Yang tersisa hanya apa yang ia tuliskan dan pernah ajarkan kepada murid-muridnya. Maka, kitab-kitab para ulama mesti diburu untuk dipelajari oleh siapa saja yang ingin mendapat warisannya.

Syailillah Yal ‘Aydarusi, Syailillah Syamsus Syumusi, Syailillah Muhyin Nufusi, Al-Madad Yal ‘Aydarusi.

*) Penulis adalah Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar.

Imam Abdurrahman Assegaf dan Sejarah Marga Assegaf
Sejarah Habaib Marga Al Habsyi dan Keturunannya.
Habaib Marga Al Kaff, Sejarah dan Keturunannya di Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *