Memaknai Wafatnya Ulama, Bagaimana Sikap Kita Seharusnya

Banua.co – Memaknai wafatnya ulama, berbagai ungkapan belasungkawa selalu mewarnai aneka media. Portal-portal berita mewarnai lamannya dengan memberitakan wafatnya ulama. Media sosial, sebagai sarana ekspresi tidak luput menjadi luapan rasa kehilangan. Aneka postingan menghiasi dindingnya. Sejatinya, bagaimana kita memaknai wafatnya ulama dan mesti bersikap ketika ditinggal wafat oleh seorang ulama?

Oleh : Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Memaknai Wafatnya Ulama, Bagaimana Sikap Kita SeharusnyaKita semua mengakui bahwa wafatnya ulama adalah sebuah musibah bagi umat Islam. Karena ulama adalah pewaris Nabi. Wafatnya ulama berarti hilangnya pewaris Nabi.

Wafatnya ulama adalah musibah bahkan ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam dalam sabdanya :

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama”

Hadits diatas ditakhrij al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’.

Sebagai musibah dalam agama yang diibaratkan oleh Nabi laksana bintang yang padam, wajar bila kita bersedih ditinggal wafat seorang ulama.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam sendiri menyatakan bahwa tidak bersedih dengan wafatnya ulama pertanda kemunafikan. Imam Al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi dalam Kitab Tanqih Al-Qaul mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ

Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik, munafik, munafik”. 

Musibah ini akan dirasakan terutama oleh para pecinta ilmu, orang-orang yang peduli dengan warisan kenabian.

Seorang Tabi’in, perawi yang haditsnya tersebar di Kutubus Sittah, Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah pernah berkata, sebagaimana dikutip Imam Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Awliya,

إني أُخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي

Sesungguhnya aku diberitakan mengenai wafatnya seorang ahlus sunnah, seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku”.

images 81 1 - Memaknai Wafatnya Ulama, Bagaimana Sikap Kita Seharusnya

Baca Lanjutannya, Klik: Wafatnya Ulama Bermakna Diangkatnya Ilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *