Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Guru Besar Aswaja Dunia

Banua.coSayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki telah menghimpun bermacam kemuliaan. Kemuliaan ilmu, amal dan nasab keturunan. Beliau seorang sayyid yang akademisi, ahli Hadits dan Fikih, juga pengamal Tashawwuf.

Oleh : Khairullah Zain *)

Suatu kali, di pengajian umum, penulis pernah mendengar Abah Guru Sekumpul mengatakan, “Mudah-mudahan Quthbul Ghauts saat ini Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki”. Wallahu A’lam, walau kalimat tersebut bernada harapan, bisa saja bermakna pernyataan.

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki tidak asing bagi penganut Aswaja. Namanya dikenal oleh hampir semua ulama beraliran Ahlussunnah Waljamaah di berbagai penjuru dunia. Murid-muridnya tersebar di berbagai negara. Baik yang belajar lama di majlis ta’lim yang diasuhnya, menjadi mahasiswa kuliah yang diampunya, ataupun sekedar mengambil ijazah dan sanad-sanad keilmuan darinya. Bisa dikatakan beliau adalah Guru Besar Aswaja Dunia. 

Demikian juga di banua Banjar, sanad Ratib Al-‘Attas yang diamalkan oleh masyarakat banua umumnya menyambung ke Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, baik melalui jalur Abah Guru Sekumpul ataupun Habib Abu Bakr Al-‘Attas Az-Zabidi. Karena dua ulama inilah yang dahulunya mempopulerkan dan membagi-bagi Ratib Al-‘Attas kepada murid-muridnya. Sehingga, secara tidak langsung, banyak muslim banua yang termasuk dalam rantai silsilah murid Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, yaitu sebagai murid dari muridnya.

Di Indonesia, alumni Abuya Muhammad Al-Maliki, demikian beliau dipanggil murid-muridnya, membentuk organisasi bernama Haiah As-Shofwah. Organisasi yang beranggotakan khirrij atau alumni didirikan setelah para ulama dan habaib alumni mengadakan Multaqo Sanawi Li Khirrij Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani ke-XIX yang bertempat di kampus Az-Zahra Boarding School, Jepara pada 10-11 Februari 2010 silam. 

Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Said Aqil Siradj bersama Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki

Sayyid Akademisi yang Ahli Hadits.

Silsilah keluarga Sayyid Muhammad bin Alwi menyambung hingga ke Sayyidina Hasan, putra Sayyidatina Fatimah binti Rasulillah Muhammad bin Abdullah. Dari silsilah inilah beliau, sebagaimana kakek buyutnya, diberi julukan Sayyid.

Sayyid Muhammad lahir pada 1328 H di Makkah. Ayahnya, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki adalah ulama besar Makkah di zamannya. Demikian pula kakek dan buyutnya yang turun temurun menjadi ulama besar, imam dan khatib di Masjidil Haram Makkah.

Kemuliaannya tidak hanya dari nasab, tapi juga ilmu. Guru pertama Sayyid Muhammad adalah ayahnya sendiri. Sebagaimana kebiasaan anak-anak di Makkah, beliau menghafal Al-Qur’an sejak kecil hingga selesai di usia sepuluh tahun. Sekolah formal dimulainya di Madrasah Al-Falah Makkah, hingga lulus tahun 1346 H. Setahun kemudian, yaitu tahun 1347 Sayyid Muhammad diminta untuk mengajar di almamaternya, juga mengisi kajian di Masjidil Haram. Padahal ketika itu usianya baru 19 tahun. 

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki adalah seorang Azhari, sebutan bagi alumni Al-Azhar University. Gelar magister dan doktornya didapat dari universitas Islam tertua di dunia ini. Beliau meraih gelar doktor dalam bidang hadits di usia 25 tahun. Pada tahun 2000 Al-Azhar memberikan gelar kehormatan Guru Besar kepadanya. Sehingga beliau berhak menyandang gelar Profesor Doktor.

Selepas dari Al-Azhar, Sayyid Muhammad melakukan rihlah ilmiah ke berbagai negara demi mengambil warisan ilmiah dari para ulama. Marokko, India, Pakistan, Syiria, adalah beberapa negara yang pernah dikunjunginya untuk menuntut ilmu agama.

Sebagai akademisi, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki pernah menjadi dosen di Kuliah Syari’ah Makkah Mukarramah dan pernah tercatat sebagai anggota pengajar di King Abdul Aziz University.

Kepakarannya dalam bidang ilmu hadits membuat Sayyid Muhammad diberi julukan “Muhaddits Haramain” oleh para ulama di zamannya. Namun, selain itu beliau juga seorang yang fakih dan termasuk rujukan para penganut fikih madzhab Maliki di Makkah.

Sebagai seorang ulama, beliau telah menghimpun bermacam kemuliaan. Kemuliaan ilmu, amal dan nasab keturunan. Beliau seorang sayyid yang akademisi, ahli Hadits dan Fikih, juga pengamal Tashawwuf.

Lanjutannya, Klik Pengabdian Buya Maliki Terhadap Ilmu Agama

Baca Juga : Mengenal Leluhur Al-‘Ayderus, Wali Agung yang Wafat pada 12 Ramadhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *