Penelusuran Manuskrip I’anatut Tholibin Syekh Ali Al Banjari Menemukan Babak Baru

Banua.co – Kolaborasi Syekh Ali Al Banjari dan Syekh Abdul Majid mungkin saja terjadi. Mengingat keduanya sama-sama murid Syekh Bakri Satha, sama-sama menjalani Thoriqoh Sammaniyah, sama-sama pernah mengajar di Masjidil Haram, dan sama-sama keturunan dari Nusantara.

Oleh: Muhammad Bulkini.

Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari disebut-sebut sebagai seorang ulama yang menjadi juru tulis gurunya, Syekh Bakri Satha, dalam menuliskan kitab I’anatut Tholibin. Hal ini diungkapkan Dr KH Muhammad Husein MAg bin KH Husein Ali bin Syekh Ali Al Banjari (cucu dari Syekh Ali Al Banjari) di Martapura Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Katib Syuriah NU Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan itu menuturkan hal tersebut  berdasarkan cerita ulama dan keluarganya yang pernah berguru dan bergaul dengan Syekh Ali Al Banjari. Namun dia tidak menampik jika ada peran murid Syekh Bakri Satha yang lain dalam penulisan kitab tersebut.

“Mungkin saja ada peran murid Syekh Bakri Satha yang lain,” ujar KH Muhammad Husein ketika disodorkan sebuah tulisan yang mengungkapkan ada kemungkinan peran ulama Jambi dalam penulisan kitab yang terkenal di kalangan santri Nusantara tersebut.

Tulisan itu berjudul “Kontribusi Syekh Abdul Majid Al Jambi dalam Penulisan Kitab I’anah al-Thalibin” (Dipublikasikan pada 17 April 2020). Penulisnya Muhammad Al Adzro’iy. Dia mengaku mendapat informasi dari ulama Jambi bahwa Syekh Abdul Majid Al Jambi juga berkontribusi dalam penulisan kitab tersebut.

Keterangan itu didapatnya dari Ustadz Fadhel (Pengajar di Madrasah As’ad) Jambi yang mendapat informasi dari Tuan Guru Nadjmi Qodir dari KH. Abdul Qodir dari KH. Ibrahim dari Syekh Abdul Majid al-Jambi.

Muhammad Al Adzro’iy mencocokkan keterangan KH Muhammad Husein dalam tulisan saya yang berjudul, “‘Penulis’ Kitab Fenomenal I’anah Ath-Tholibin Ternyata Keturunan Banjar” yang dipublikasikan pada 2018. Dalam tulisan tersebut, penulis mengungkapkan perkataan KH Muhammad Husein: “Kitab asli tulisan tangan beliau itu ada di Sumatera.”

Ungkapan KH Muhammad Husein inilah yang membuat Muhammad Al Adzro’iy menduga manuskrip Kitab I’anah berada di Jambi, Provinsi di tengah Pulau Sumatera, yakni di kediaman (keluarga) Syekh Abdul Majid. Namun dia belum bisa memastikan kebenarannya, karena belum menyaksikan langsung manuskrip yang disebut disimpan keluarga Syekh Abdul Majid.

Kolaborasi Syekh Ali Al Banjari dan Syekh Abdul Majid mungkin saja terjadi. Mengingat keduanya sama-sama murid Syekh Bakri Satha, sama-sama menjalani Thoriqoh Sammaniyah, sama-sama pernah mengajar di Masjidil Haram, dan sama-sama keturunan dari Nusantara.

Syekh Ali Al Banjari - Penelusuran Manuskrip I’anatut Tholibin Syekh Ali Al Banjari Menemukan Babak Baru

Namun informasi lain kembali mengemuka, kitab asli tulisan tangan Syaikh Ali Al Banjari tersebut menurut ulama sepuh Banjarmasin KH Syaifuddin Zuhri berada di tempat Syekh Abdul Karim (ulama Banjar yang menetap di Makkah).

Pernyataan KH Syaifuddin Zuhri yang menyebut manuskrip tersebut berada di Makkah dikuatkan penuturan penulis buku “Ulama-ulama Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz”, Amirul Ulum. Belum lama ini dia bersilaturrahmi ke tempat KH Muhamma Husein.

Ketika bertamu ke Martapura, Amirul Ulum mengungkapkan bahwa manuskrip tulisan tangan Syekh Ali Al Banjari itu kini disimpan di perfustakaan Syekh Mahfudz Tremas, Makkah.

Dari penuturan KH Syaifuddin Zuhri dan kesaksian Amirul Ulum tersebut setidaknya penulis mendapat informasi baru terkait di mana manuskrip asli tulisan tangan Syekh Ali itu berada. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana Amirul Ulum dan KH Syaifuddin Zuhri mengetahui kitab tersebut ditulis Syekh Ali Al Banjari, bukan yang lain? Apakah ada catatan bahwa Syekh Ali adalah juru tulisnya?

Lantas, apakah kitab itu yang dulu dikatakan berada di Sumatera? Ataukah itu kitab yang berbeda? Apakah dalam penulisannya itu Syekh Ali bekerjasama dengan murid Syekh Bakri Satha yang lain? Atau ada muridnya yang lain menuliskannya dalam manuskrip yang berbeda? Bagaimana dengan manuskrip Kitab I’anah yang diduga berada di Jambi? Siapa yang menulisnya?

Ada banyak pertanyaan lain yang menarik untuk ditelusuri kembali. Namun sejauh penyelaman ini, tentu saja tak ada kebenaran yang tak retak, dan kalimat berikut akan menyempurnakannya: Wallahu’alam.

Baca Juga: KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri Ternyata Cicit Pengarang I’anatut Tholibin.
Baca Juga: Benarkah Syekh Kasyful Anwar Murid Syekh Abu Bakar Syatha?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *