Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (1)

Banua.co – Menelisik sosok dan ajaran para sufi dari generasi awal hingga al-Ghazali. Tulisan pertama dari empat bagian.

Hajriansyah 150x150 - Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (1)Oleh: Hajriansyah (Budayawan dan Penulis Kalimantan Selatan)

YANG PERTAMA menggunakan kain wol kasar (shuf) sebagai pakaian adalah, Sufyan Tsauri (w. 135 H), Abu Hasyim al-Kufi (w. 150 H, orang yang pertama disebu Sufi) dan Jabir bin Hasyim (w. 190 H). Suatu komunitas keagamaan dengan ciri pakaian kasar ini terbentuk karena pengaruh Hasan al-Bashri (21-110 H/ 642-728 M) yang cukup luas di Bashrah dan Kufah.

Demontrasi melalui pakaian yang diidentikkan dengan para “gelandangan” (fuqara’) itu untuk menunjukkan kesederhanaan dan menghindari sifat-sifat keduniaan, vis a vis dengan kemewahan yang ditampakkan para pembesar Dinasti Umayah.

Perluasan wilayah Islam pada masa Bani Umayah sudah menjangkau tidak hanya Damaskus dan Mesir, bahkan lebih dari itu hingga ke Maghrib (Afrika Barat) dan Spanyol di sebelah barat, dan negeri-negeri bekas kekuasaan Dinasti Sasaniyah di sebelah timur.

Pada masa ini sebagian wilayah Bizantium dan hampir seluruh Persia sudah takluk dan menjadi bagian dari Daulah Islamiyah. Kesuksesan besar inilah yang menyebabkan sikap bermewah-mewah itu niscaya dipertontonkan di hadapan kaum muslimin yang beragam rupa ketika itu.

Menurut Fazlur Rahman, tidak hanya disebabkan oleh penguasa, para sufi juga bertindak demikian karena menyikapi pertentangan keagamaan yang keras yang ditimbulkan oleh golongan Khawarij.

Golongan ini menilai orang-orang telah meninggalkan ajaran Rasulullah dan berpaling dari Allah, mengkafirkan semua orang yang berlawanan dengan mereka. Juga karena dominasi fuqaha, dalam kaitannya dengan kolaborasi mereka bersama para penguasa dalam menentukan (penyeragaman) hukum yang “dipaksakan” secara menyeluruh untuk semua kalangan.

Pertentangan yang makin melebar ini menyebabkan debat keagamaan terbuka dan pertentangan yang lebih keras di tingkat politis kekuasaan. Hal yang demikian membuat kaum sufi awal memilih sikap zuhud, meneladani ‘uzlah yang dilakukan Rasulullah Saw menjelang pewahyuan pertama di gua Hira’.

Sikap hidup Rasulullah yang sangat sederhana dalam kesehariannya menjadi teladan bagi para sahabat dan tabi’in, yang benar-benar menjadikannya uswah hasanah (contoh terbaik) dalam kehidupan mereka.

Hal di atas berlangsung hingga masa awal Dinasti Abasiyah, di peralihan abad kedua hingga ketiga Hijriyah. Jika dilihat lebih seksama, dalam hal ini para sufi turut berkontribusi terhadap suksesi kekhalifahan Abasiyah, mereka terlibat dalam kampanye anti (kemewahan)—beberapa bahkan terlibat dalam peperangan menjatuhkan—Bani Umayah. Ada dua aliran yang mengemuka dalam pemikiran tasawuf pada masa awal ini, yaitu mazhab Baghdad dan mazhab Khurasan.

Khurasan sendiri merupakan basis perlawanan terhadap Dinasti Umayah, selain dua tempat penting lainnya, Kufah dan Hamimah.

Mazhab Baghdad lebih sederhana pemikirannya, mengutamakan ketenangan (shahw) dan amaliah, sedangkan mazhab Khurasan terkenal dengan kecenderungan kemabukan-puitis (sakr) dan cenderung filosofis.

Di Mesir Dzunnun al-Mishri (w. 245 H/ 859 M) mengungkapkan paham ma’rifah (gnostik)-nya dan sikap wara’ yang ekstrem. Ia-lah yang dikenal paling awal mengenalkan kondisi dan tahapan-tahapan spiritual yang dikenal sebagai maqamat dan ahwal.

Dikatakan oleh al-Qusyairi dalam ar-Risalah, nama lengkap Dzunnun adalah Abul Faydh Tsauban bin Ibrahim al-Mishri. Ayahnya berasal dari bangsa Naubi (Naubah/ Nubia). Ia seorang tokoh langka dalam tingkah laku, ilmu, kewara’an dan adab pada masanya. Khalifah al-Mutawakkil pernah memanggilnya karena keluhan beberapa orang. Dzunnun yang memenuhi panggilan itu malah kemudian menasihati khalifah, yang membuat al-Mutawakkil menangis dan mengembalikan Dzunnun secara terhormat.

Di antara ucapan-ucapan Dzunnun yang terkenal adalah, “Pangkal pembicaraan ada empat hal: mencintai Allah Yang Mahaagung, membenci kekikiran, mengikuti wahyu, dan takut bergeser”; “Di antara tanda-tanda orang mencintai Allah Swt, orang tersebut akan mengikuti jejak kekasih Allah, Muhammad Saw, dalam akhlak, perbuatan dan perintah serta sunnahnya”.

Bersambung ke Bagian Kedua: Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *