Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (2): al-‘Adawiyah, al-Muhasibi, al-Baghdadi

Banua.co – Menelisik sosok dan ajaran para sufi dari generasi awal hingga al-Ghazali. Dalam tulisan kedua dari empat bagian ini diulas sosok Rabi’ah al-‘Adawiyah, Harits al-Muhasibi dan Junaid al-Baghdadi.

Hariansyah 2 150x150 - Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (2): al-'Adawiyah, al-Muhasibi, al-BaghdadiOleh: Hajriansyah (Budayawan dan Penulis Kalimantan Selatan)

SEBELUMNYA di Basrah, seorang sufi wanita, Rabi’ah al-‘Adawiyah (w. 185 H/ 801 M), mengungkapkan kecintaannya yang besar kepada Sang Maha Cinta melalui syair-syairnya. Manifestasi dari “keyakinan” yang semacam ini hampir tidak ada pada masa sebelumnya, mengingat Rabi’ah mengambil jalan yang cukup ekstrem dalam kecintaannya sehingga tidak menerima pasangan dalam hidupnya kecuali Allah.

Dalam syairnya yang masyhur Rabi’ah menyatakan:

Tuhanku/ Kalau aku mengabdi-Mu karena takut akan neraka-Mu/ Maka bakarlah aku di neraka Jahannam/ Dan kalau aku mengabdi-Mu karena inginkan surga-Mu/ Maka tampiklah aku dari surga itu/ Adapun kalau aku mengabdi-Mu karena/ cintaku pada-Mu/ maka janganlah tampik aku, Tuhanku/ dari melihat keindahan wajah-Mu.

Tokoh besar lainnya adalah Harits al-Muhasibi (w. 243 H/ 857 M), lahir di Bashrah dan meninggal di Baghdad. Ia awalnya berpaham Mu’tazilah, kemudian menjadi sufi, mengabdikan dirinya untuk menegakkan ajaran Islam yang sebenarnya (melalui sunnah) dengan disertai kesadaran dan kehidupan batin yang mendalam.

Inti dari ajaran al-Muhasibi bukanlah penolakan terhadap kehidupan lahiriyah, tetapi penjagaan yang terus menerus atas kesucian niat dan kritik-diri (muhasabah), terutama yang menyangkut penipuan diri (nafsu), kebanggaan dan menganggap diri sendiri sebagai paling saleh.

Diriwayatkan oleh Junaid al-Baghdadi, yang merupakan murid al-Muhasibi, bahwa suatu hari ia berjalan bersama gurunya. Di tengah jalan mereka merasa lapar, Junaid mengajak al-Muhasibi ke rumahnya dan menghidangkan makanan, yang dibawa dari pesta perkawinan orang kaya. Setelah memakan sesuap, al-Muhasibi tiba-tiba keluar menuju suatu gang, memuntahkan makanan itu lantas pergi begitu saja.

Beberapa hari kemudian Junaid menemuinya dan menanyakan perihal tersebut. Al-Muhasibi mengatakan bahwa sebenarnya saat itu ia lapar dan ingin menyenangkan muridnya dengan ikut makan. Namun kemudian ia merasa bahwa yang dimakannya mengandung syubhat (tidak jelas asal-usulnya), sehingga ia memuntahkannya.

Junaid kemudian menawarinya lagi makan, berupa makanan kering yang kurang layak dibandingkan sebelumnya, dan ia memakannya. Kemudian al-Muhasibi berkata, “bila engkau menyuguhkan makanan kepada seorang faqir (sufi), hidangkanlah makanan kepadanya seperti makanan ini”.

Junaid al-Baghdadi (w. 298 H) adalah seorang tokoh sufi yang terbesar dari mazhab Baghdad. Selain al-Muhasibi, gurunya yang paling dekat adalah pamannya, Sari al-Saqathi (w. 253 H/ 867 M). Di dalam tradisi beberapa tarekat selain Junaidiyah, seperti Kubrawiyah dan Samaniyah, selalu menisbahkan sanad keilmuan mereka melalui jalur Junaid al-Baghdadi lalu ke Sari al-Saqathi, ke Ma’ruf al-Karkhi (w. 200), ke Dawud al-Tha’i (w. 165 H), ke Habib al-‘Ajami, ke Hasan al-Bahri, ke Sayyidina Ali ibn Abi Thalib ke Rasulullah Saw.

Junaid adalah seorang faqih (ahli ilmu agama) dan telah berfatwa di halaqahnya sejak ia masih berumur 20 tahun. Di antara perkataannya yang masyhur adalah:

“Seorang salik haruslah bersikap seperti wayang dalam berhadapan langsung dengan Tuhan, manakala di tangan gurunya ia harus bersikap seperti mayat di tangan orang yang memandikannya”.

Ucapan-ucapan al-Baghdadi yang lain ialah: “Tuhan menuangkan kebajikan-Nya ke dalam hati seseorang sebanyak hati orang itu menyediakan ingatannya kepada Tuhan”; “Jangan lupa engkau melihat kesalahan hatimu. Lupa kepada Tuhan lebih menakutkan daripada masuk ke dalam neraka”; “Apabila kamu bertemu seorang faqir, janganlah dimulai dengan memperbincangkan ilmu pengetahuan (Ketuhanan), tapi mulailah dengan sikapmu yang lemah lembut, karena ilmu itu membuat mereka liar, sedang sikapmu yang lemah lembut membuat mereka jinak”.

Baca juga: Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *