Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (3): al-Bustami dan al-Hallaj

Banua.co – Menelisik sosok dan ajaran para sufi dari generasi awal hingga al-Ghazali. Dalam tulisan ketiga dari empat bagian ini diulas sosok Abu Yazid al-Bustami dan Husein ibn Mansur al-Hallaj.

Hajriansyah 150x150 - Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (3): al-Bustami dan al-HallajOleh: Hajriansyah (Budayawan dan Penulis Kalimantan Selatan)

ABU YAZID al-Bustami (188-261 H/ 804-875 M) adalah sufi yang banyak diikuti karena ajarannya tentang Fana’.

Menurut Masignon, doktrin Fana’ Junaid al-Baghdadi lebih bersifat teoretis, sedangkan Fana’ yang terkait dengan Abu Yazid merupakan pengalaman personalnya yang bersifat ekstatik. Dalam hal Junaid, ia tidak menganjurkan ekspresi pengalaman ekstatik yang bersifat terbuka, sebagaimana yang tersirat melalui nasehatnya dalam hal akhlak terhadap murid-muridnya.

Pengikut-pengikut Abu Yazid menamakan diri mereka Taifuri, merujuk kepada nama kecilnya yaitu Taifur bin ‘Isa bin Surusyan. Ia dikenal dengan ungkapan ekstatiknya (syatahat), “mahasuci aku, mahasuci aku, betapa agungnya diriku”.

Ungkapan ini dimaknai oleh para ahli keluar dari mulut Abu Yazid sebagai syatahat, artinya ia dalam kondisi sakr, dalam keadaan tidak sadar-diri sebagai manusia. Ada juga yang menyebut pernyataan ini bagian dari malamati (mencela diri), untuk membuat orang menjauh dan memandang hina kepadanya, agar ia hanya dapat berdua-duaan bersama Sang Pencipta.

Abu Yazid sendiri, seperti disebutkan dalam Kitab al-Luma’, dikenal sebagai sosok yang sangat memperhatikan pemeliharaan/ pelaksanaan aspek-aspek syari’at dan penuh ketaatan dalam menjalankan kewajiban.

Sufi lain yang dianggap ekstrem dan kontroversial, Husein bin Manshur al-Hallaj (244-309 H/ 857-922 M), dihukum mati karena dianggap menyebut dirinya (ana) al-Haqq (Kebenaran, yang merupakan salah satu Nama Allah).

Konon, darah yang mengalir dari lehernya yang dipancung mengeluarkan bau harum. Dengan ini al-Hallaj dianggap benar, hanya saja karena kondisi syatahat membuat orang-orang salah paham kepadanya.

Al-Hallaj dibesarkan dalam lingkungan Sunni-Hanbali, dengan wilayah pinggiran yang dihuni minoritas Syi’ah, di Wasith (dekat sungai Tigris). Sebelum umur 12 tahun ia belajar menghapalkan al-Qur’an dan menjadi seorang hafizh. Ia belajar tasawuf di madrasah Sahl al-Tustari (200-283 H/ 815-896 M).

Ia datang ke Baghdad untuk belajar kepada Junaid, dan sempat berguru kepada ‘Amr bin Utsman al-Makki. Ia banyak mengadakan perjalanan spiritual (rihlah batiniyyah) ke Bashrah, Baghdad, Khurasan, hingga India dan Turkistan, yang pada masa itu berada di bawah daulah Bani Abasiyah yang kekuasaannya makin melemah, setelah kejayaannya pada periode khalifah Harun al-Rasyid (170-193 H/ 786-809 M) dan al-Ma’mun (198-218 H/ 813-833 M).

Pada masa al-Mu’tashim (218-227 H/ 833-842 M), pengganti al-Ma’mun, kekuasaan praktis secara berangsur-angsur berpindah ke tangan para Jendral Turki.

Pada masa al-Watsiq, khalifah menganugerahkan gelar sultan kepada Asyinas, yang memiliki hak dan wewenang yang lebih luas di luar tugasnya sebagai panglima militer. Bahkan dikatakan, seorang budak istana yang mewakili Asyinas juga mempunyai kekuasaan yang besar hingga bisa melantik siapa saja yang disukainya untuk menduduki singgasana khalifah setelah al-Watsiq wafat.

Terhitung ada sembilan orang khalifah dinasti Abasiyah pada masa al-Hallaj, yaitu al-Mutawakkil (232-247 H), al-Muntasir (247-248), al-Musta’in (248-252), al-Mu’taz (252-255), al-Muhtadi (255-256), al-Mu’tamid (256-279), al-Mu’tadid (279-289), al-Muktafi (289-295), al-Muqtadir (295-320).

Intrik-intrik politik yang berkembang di lingkaran kekuasaan, mengingat kedekatan al-Hallaj di antara mereka, berimbas pula pada perdebatan keagamaan yang memunculkan fitnah-fitnah. Ia berkali-kali masuk keluar penjara, karena fitnah dari orang-orang yang tidak suka melihatnya memiliki pengaruh yang besar, tidak saja di antara masyarakat kebanyakan, bahkan hingga ke lingkungan istana.

Louis Masignon, peneliti al-Hallaj yang menerjemahkan Kitab Thawasin (karya al-Hallaj), menulis bahwa di hari-hari terakhir bendahara Nashr dan ibu ratu memohonkan ampun atas al-Hallaj kepada khalifah. Tapi, “intrik-intrik dari kalangan pejabat negara mengalahkan kebimbangan al-Muqtadir yang, pada saat ia meninggalkan sebuah pesta makan, menandatangani surat perintah untuk mengeksekusi al-Hallaj.”

Baca juga: Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (1)
Baca juga: Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *