Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (4): Sang Hujjatul Islam

Banua.co – Menelisik sosok dan ajaran para sufi dari generasi awal hingga al-Ghazali. Dalam tulisan keempat (terakhir) dari empat bagian ini diulas sosok al-Ghazali, sang Hujjatul Islam.

Hariansyah 2 150x150 - Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (4): Sang Hujjatul IslamOleh: Hajriansyah (Budayawan dan Penulis Kalimantan Selatan)

ABAD ke-3 H/ 9 M dalam dunia Islam, adalah dunia di mana pemikiran-pemikiran tentang Ketuhanan menjadi sangat eskploratif dan dinamis. Dalam diskursus teologis, umumnya masa ini ditandai dengan kehadiran paham Mu’tazilah yang semakin cenderung filosofis.

Mu’tazilah mendapat dukungan politis oleh al-Ma’mun dan al-Mu’tashim. Pada masa ini-lah, dan sesudahnya, hidup al-Kindi (w. 873 M) dan al-Farabi (w. 950 M) yang menjadi perintis disiplin filsafat Islam.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111 M) hadir seabad berikutnya sebagai wakil kalangan teolog (mutakallimin) dalam mengkritik para filsuf ini, dengan kitabnya Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat).

Tidak hanya itu, ia juga mengkritik faham Bathiniyah (Syiah Isma’iliyah) atas permintaan Khalifah al-Mustazhhir Billah dengan kitabnya Fadha’ih al-Bathiniyyat wa Fadha’il al-Mustazhhiriyyah. Ia diberi gelar “Hujjatul Islam” karena pembelaannya terhadap sunnah.

Sampai suatu masa, ketika al-Ghazali ditimpa kegelisahan yang sangat besar hingga ia memutuskan untuk meninggalkan pengajarannya di Madrasah Nizhamiyah dan melakukan ‘uzlah. Ia melakukan rihlah bathiniyah ke beberapa tempat hingga ke Damaskus (Syiria) sebagai seorang faqir.

Dalam kitabnya al-Munqidz min al-Dhalal ia menyatakan, selama lebih kurang sepuluh atau sebelas tahun menekuni praktek tasawuf secara intensif. Selama itu al-Ghazali memperoleh banyak pengetahuan yang meyakinkan tentang hakikat sesuatu yang berkenaan dengan akidah, sebagaimana yang dicarinya selama ini.

Al-Ghazali berkesimpulan bahwa metode para sufi adalah metode yang paling tepat untuk memperoleh pengetahuan yang meyakinkan sampai ke tingkat matematis (kepastian). Dalam masa-masa inilah ia melahirkan kitabnya yang paling monumental, Ihya’ Ulumiddin, di samping juga karya-karya lain seperti Jawahirul Qur’an, Bidayatul Hidayah, Al-Qisthasul Mustaqim, Al-Arba’in fi Ushuliddin.

Ihya’ ditulis dengan latar belakang sosial-politik keagamaan masa Abasiyah yang makin lemah dan penuh pertentangan.

Kitab ini sendiri, menurut al-Ghazali, dapat berguna untuk orang-orang yang jumlahnya sedikit. Yaitu, orang yang ingin melakukan amal saleh sesuai dengan ilmu yang benar. Yang ingin menyucikan jiwa dan memperbaiki hati untuk beribadah kepada Allah. Ia menyebutkan:

“Umur itu pendek, akhirat pasti datang, sementara dunia akan berlalu. Ajal itu dekat, sementara perjalanan jauh dan bekal yang dibawa terlalu sedikit, serta bahaya dalam perjalanannya besar, dan sesekali juga buntu. Maka, ilmu dan amal yang ikhlas karena Allah saja-lah yang dapat menolongnya.”

Baca juga: Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (1)
Baca juga: Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (2)
Baca juga: Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *