Tasawuf, Posisi Penting al-Imam al-Ghazali

Banua. co – Posisi penting al-Imam al-Ghazali yang banyak kita kenal kini bukan di “sana” (kritik terhadap filsafat), tapi dalam dirinya sebagai seorang sufi, yang membela akidah yang benar.

Hajriansyah 150x150 - Tasawuf, Posisi Penting al-Imam al-GhazaliOleh: Hajriansyah (Budayawan dan Penulis Kalimantan Selatan)

MENURUT sebagian orang tradisi filsafat di dunia Islam “habis” pasca al-Ghazali. Dalam kata lain, al-Ghazali dianggap “membunuh” tradisi berpikir radikal (baca: mendasar) ala filsuf. Benarkah demikian? Mungkin ada benarnya, meski terjadinya hanya di sebagian dunia pemikiran kaum Sunni (ahlussunnah wal jamaah).

Tapi yang diserang al-Ghazali (dalam Tahafut al-Falasifah) hanyalah mereka yang tidak mengakui dan merendahkan peribadatan “rutin”, syiar dan syariat Islam, yang mayoritas ulama telah menyepakatinya sebagai hal pokok dalam agama ini. Demikian disampaikan al-Ghazali dalam mukaddimah Tahafut.

Adapun nalar, logika, dan metode-metode pencarian kebenaran (yang berujung pada keagungan Allah) tentu saja juga dipakai oleh Hujjatul Islam ini. Sebagaimana dalam tradisi filsafat sangat wajar mengkritik pemikiran terdahulu, dengan argumen-argumen yang mendasar, Imam al-Ghazali mencoba membongkar (baca: membedah) postulat yang dianggapnya rancu dan inkonsisten, yang terkait dengan metafisika. Terutama tentang Allah dan Hari Akhir.

Ada 20 soal yang dipermasalahkan al-Ghazali dalam Tahafut, yang jika dikelompokkan berkisar pada hal keabadian alam, Allah sebagai pencipta dan sifat-sifatNya, serta kaitan antara langit, tubuh dan jiwa. Hal-hal demikian juga menjadi subjek perdebatan para mutakallimun, yang sebenarnya telah dimulai sejak masa Mu’tazilah, dan terus berkembang serta melibatkan teori-teori filsafat dari Barat.

Adapun sasaran tembak al-Ghazali, adalah orang-orang yang menurutnya merasa lebih mulia dari masyarakat kebanyakan, yang merasa tidak memerlukan agama dan taklid (dengan menentang taklid atas kebenaran para pendahulu Islam) tanpa pembuktian yang mendalam. Mereka ini menurut al-Ghazali adalah orang-orang yang lebih buruk dari orang buta, karena mata mereka juling.

Meski begitu, Sulaiman Dunya dalam pengantar Tahafut menyatakan hendaknya kitab itu tidak dijadikan rujukan kepada pemikiran sejati al-Ghazali. Karena apa yang diyakininya secara benar dan yakin, adalah apa yang terjadi setelah masa kegelisahannya kemudian. Posisi penting al-Imam al-Ghazali yang banyak kita kenal kini bukan di “sana” tempatnya, tapi dalam dirinya sebagai seorang sufi yang membela akidah yang benar.

Sebelum al-Ghazali, para fuqaha cenderung selalu memandang curiga para sufi sebagai ahli bid’ah atau zindiq, yang melenceng dari garis syariat Islam. Mereka dianggap individual dan banyak melakukan ritual yang tidak berdasar, seperti menari, bernyanyi (bersyair) dan banyak “menyiksa” diri dengan peribadatan yang di luar batas kemanusiaan. Ucapan-ucapannya penuh kontroversi, terkait sifat-sifat ketuhanan yang melekat pada manusia.

Wawasan pengetahuan al-Ghazali yang cukup luas, meliputi bidang akidah, syariah, ushul fiqh, bahkan retorika ilmiahnya yang dianggap cukup sebagai hujjah untuk menentang para pembid’ah, telah membuat apa yang disampaikan al-Ghazali melalui Ihya’ Ulumiddin dan beberapa catatannya tentang tasawuf yang lebih mendalam dapat diterima oleh banyak kalangan ulama.

Al-Ghazali sendiri setelah mencapai “puncak” karir dan pemikirannya merasa gelisah dengan dirinya. Dan kemudian, memilih tasawuf sebagai jalan hidup dan pedoman yang layak untuk diajarkan kepada murid-murid dan pecintanya.

Dalam al-Munqidz min ad-Dhalal ia menjelaskan ihwal kegelisahannya terhadap hal-hal yang sebelumnya sangat dikuasainya: teologi, logika, ilmu-ilmu ushul dan syariat. Ia berkata,

“Aku mengalami kegelisahan, sebagaimana kondisi kegelisahan para filsuf, selama kurang lebih dua bulan. Sehingga Allah, kemudian, menyembuhkan ‘penyakit’ ini mengembalikan jiwa(-ku) sehat dan jernih, merasa aman dan yakin. Bukan dengan sistematika argumen dan susunan logika kalam, melainkan dengan cahaya yang Allah yang sinarkan ke dalam hati.”

Tasawuf menjadi pilihan akhir al-Ghazali bukan tanpa sebab. Ayahnya seorang sufi, atau setidaknya mutasawif, dan ketika meninggal ia dua bersaudara (Muhammad dan Ahmad) dititipkan kepada sahabat ayahnya yang juga seorang sufi. Guru tasawufnya, al-Farmadi, adalah murid dari Imam al-Qusyairi pengarang Ar-Risalah, yang merupakan kitab pedoman tasawuf dari generasi awal. Al-Ghazali sendiri banyak mendapat inspirasi, dalam menulis tentang tasawuf, dari al-Muhasibi.

Kegelisahan al-Ghazali mengantarkannya ke pencarian jati diri yang cukup panjang. Kurang lebih 10 atau 11 tahun. Ditempuhnya, dari Baghdad hingga ke Damaskus, Mesir dan Mekkah. Ia mengarang Ihya’, sebuah kitab yang lengkap tentang ibadah, akidah, adat kebiasaan yang dinaungi cahaya Islam, dan tentu saja tasawuf, dalam perjalanan ruhaninya ini.

Setelah sebentar ia kembali mengajar di madrasah Nizhamiyah, atas permintaan anak Nizham al-Mulk, ia pulang ke kampung halamannya dan mengabdikan diri untuk membimbing ruhani para salik yang merindukan ketentraman jiwa.

Apakah tasawuf dalam pandangan Imam al-Ghazali?

Di dalam Raudhah at-Thalibin wa ‘Umdah as-Salikin, ia menjelaskan perkara suluk dan kaitannya dengan tasawuf. Suluk sendiri bagi al-Ghazali adalah pendidikan akhlak, yang berkaitan dengan amal dan pengetahuan (ma’arif, jamak dari ma’rifah), dengan kesibukan lahir dan batin. Tujuannya untuk mempersiapkan wushul (kepada Allah). Dan untuk itu seorang salik harus menghindari ta’wil yang menyesatkan dan menjauhi orang-orang sesat yang mengikuti hawa nafsunya.

Dalam rangka mempersiapkan wushul itulah diperlukan uzlah (menghindari hawa nafsu dan segala hal yang cenderung padanya) dan riyadhah/ mujadahah (berdisiplin dengan amal-amal baik).

Tasawuf dengan demikian berarti, usaha yang sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah, di mana kefakiran, sabar, ridha dan tawakal benar-benar melekat pada diri sufi. Seorang sufi juga adalah seorang zahid, orang yang menghindari kemewahan dunia. Ia hanya mengambil dari dunia sesuai keperluannya.

Al-Ghazali membagi ahli tasawuf kepada tiga tingkatan. Mubtadi’ (pemula), yaitu orang yang melatih dirinya terhadap godaan nafsunya. Mutawassith (di pertengahan), yang membiasakan diri dengan adab-adab. Muntahi (di tingkat akhir), orang yang telah mendapatkan ketenangan dan keteguhan dalam hubungannya dengan Allah. Yang terakhir ini, kata al-Ghazali, meskipun tampak bersama keramaian makhluk, namun hatinya selalu bersama Allah.

Di luar lingkaran tasawuf al-Ghazali, yang menjadi sumber pegangan tasawuf akhlaqi atau ‘amali, ini beredar pula model tasawuf lain yang mengedepankan pandangan teoretis terkait hubungan Khaliq dan makhluk yang bernuansa filosofis. Yaitu, tasawuf yang berkembang di bagian Barat, yang nantinya berpuncak pada sosok Ibnu ‘Arabi, dan di bagian Timur dengan tokohnya Sukhrawardi. Keduanya memiliki pengaruh dan pengikut yang sama besar, bahkan hingga sekarang.

Baca juga: Para Sufi Generasi Awal Hingga al-Ghazali (4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *