Al-Habib Ali Masyhur Bin Hafizh, Mufti dan Nafas Tarim Hadramaut

Banua.coBila adiknya, Al-Habib Umar bin Hafizh dikenal sebagai da’i yang mendunia, maka Al-Habib Ali Masyhur adalah mufti dan nafas kota Tarim Hadhramaut.

Oleh : Khairullah Zain

Foto saya 150x150 - Al-Habib Ali Masyhur Bin Hafizh, Mufti dan Nafas Tarim Hadramaut

Hari ini, 26 Mei 2020, dunia Islam kembali berduka. Seorang ulama dari kalangan Bani ‘Alawi, Habib Ali Masyhur bin Hafizh wafat.

Al-Habib Ali Masyhur termasuk salah seorang ulama besar Tarim yang sejak tahun 2000 M /1421 H diangkat sebagai Pimpinan Majlis Fatwa Tarim, Hadhramaut, Yaman.

Bila adiknya, Al-Habib Umar bin Hafizh dikenal sebagai da’i yang mendunia, maka Al-Habib Ali Masyhur adalah mufti dan nafas kota Tarim Hadhramaut.

Lingkungan Keluarga

Lahir pada 13 Ramadan 1358 H / 5 November 1939, Al-Habib Ali Masyhur tumbuh di lingkungan keluarga yang saleh dan berilmu. Ayahnya, Al-Habib Muhammad bin Salim adalah seorang ulama yang gigih berdakwah. Sementara kakeknya, Al-Habib Salim bin Hafizh seorang “musnid” atau ulama yang mengumpulkan banyak sanad.

Meski berasal dari klan As-Seggaf, yaitu dari putra Al-Habib Abdurrahman As-Seggaf yang bernama Abdullah, keluarga besar mereka kelak dikenal dengan klan baru, Bin Syekh Abu Bakar Bin Salim. Hal ini karena keturunan as-Seggaf ke-5, yaitu Al-Habib Abu Bakar Bin Salim menjadi ulama besar yang sangat terkenal di kota Inat, Hadhramaut, sehingga mendapat julukan “Shahib Inat” (Penguasa Inat).

Al-Habib Abdurrahman as-Seggaf sendiri dikenal dengan julukan “Al-Muqaddam ats-Tsani” (pemuka kedua) di Hadhramaut. Sepanjang sejarah para saadah Bani Alawi di Hadhramaut, hanya dua orang yang bergelar “Al-Muqaddam”, pertama Al-Habib Muhammad bin Ali, kakek buyut Al-Habib Abdurrahman as-Seggaf sendiri yang dikenal dengan “Al-Faqih Al-Muqaddam”. Kedua Al-Habib Abdurrahman as-Seggaf sebagai “Al-Muqaddam ats-Tsani”.

Baca Juga : Mengenal Leluhur Al-‘Ayderus

Menuntut Ilmu

Al-Habib Ali Masyhur mulanya menuntut ilmu kepada ayah dan kakeknya sendiri. Kemudian kepada para ulama kota Tarim, diantaranya Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Syahabuddin dan Al-Habib Umar bin Alwi Al-Kaf.

Mulanya, beliau menghafal Al-Qur’an di Mi’lamah Abu Murayyim Tarim, setelahnya melanjutkan pendidikan ke Rubat Tarim pada tahun 1365 H / 1946 M. 

Beberapa ulama yang menjadi guru Al-Habib Ali Masyhur di Rubat diantaranya Syekh Mahfudz bin Utsman, Syekh Salim bin Sa’id Bukair, Syekh Abdullah Bazagaifan, Syekh Taufiq bin Faraj Aman dan Al-Faqih Soleh bin Awad Haddad.

Selepas dari Rubat, tahun 1377 H / 1957 M beliau diperintah ayahnya untuk menimba ilmu kepada Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar bin Salim di kota Syihr, Hadhramaut.

Setahun di Syihr, Al-Habib Ali Masyhur kembali ke Tarim untuk mengajar di al-Ma’had al-Fiqh Tarim. Juga belajar kepada para ulama di Tarim. Ini berlangsung hingga tahun 1382 H /1962 M.

Sementara, sejak 1375 H / 1955 M, beliau mulazamah di majlis kakeknya Al-Habib Salim bin Hafizh.

Mengembangkan Dakwah

Tahun 1982 H / 1962 M, Al-Habib Ali Masyhur hijrah ke lembah Dau’an. Di sana beliau selain mengajar dan berdakwah, juga membuka madrasah-madrasah. 

Selama 13 tahun di Dau’an, yaitu hingga tahun 1395 H / 1975 M, banyak manfaat yang diberikannya kepada masyarakat Dau’an.

Ketika tinggal di Dau’an inilah Al-Habib Ali Masyhur berangkat ke Haramain untuk menunaikan ibadah haji, menziarahi makam Nabi, juga menuntut ilmu kepada para ulama.

Beberapa ulama yang ditemuinya untuk belajar dan mengambil sanad diantaranya Syekh Muhammad al-‘Arabi Alat-Tibbani, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki, Sayyid Muhammad Amin Kutbi, dan Syekh Hasan bin Muhammad Massyath serta para ulama lainnya.

Baca Juga : Mengenang Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki

Nafas Tarim

Setelah beberapa tahun di Dau’an, Al-Habib Ali Masyhur terpanggil untuk berbagi manfaat di tanah kelahiran. Kecuali itu kondisi dan situasi politik Yaman Selatan yang dikuasai komunis juga menuntutnya untuk mempertahankan keberlangsungan dakwah di Tarim. Sehingga pada tahun 1395 H /1975 M beliau memilih pulang dan tinggal di Tarim.

Kerasnya pemerintah komunis yang menguasai Yaman Selatan ketika itu membuat tradisi keagamaan di Tarim sempat terhenti. Para ulama terancam hidupnya. Bahkan ayahnya, yaitu Al-Habib Muhammad bin Salim diculik dan dibunuh kelompok komunis.

Al-Habib Ali Masyhur kelak berjuang meniupkan kembali nafas tradisi keagamaan, pendidikan dan dakwah keagamaan di Tarim. Majlis-majlis ilmu bernafas lagi. 

Tahun 1412 H /1992 M Al-Habib Ali Masyhur berjuang membuka kembali lembaga pendidikan yang sempat vakum, Rubat Tarim.

Bersama adiknya Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim, Al-Habib Ali Masyhur juga berjuang membuka lembaga pendidikan baru di Tarim, Darul Musthofa.

Pembangunan Darul Musthafa dimulai pada bulan Syawal tahun 1410 H / 1990 dan peresmian pertama pada hari Selasa Tanggal 29 Dzulhijjah 1411 H / 1991 M bertepatan dengan hari wafat Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz ibn Abu Bakar bin Salim, dan peresmian kedua pada bulan Muharram 1417 H / 1997 M.

Selain membangun lembaga pengkaderan, menggiatkan majlis ta’lim, beliau juga memperhatikan dakwah ke pelosok. Beliau memotivasi dan mengirim pada da’i muda untuk berdakwah ke berbagai pelosok Hadhramaut.

Kecuali itu, demi menyelamatkan warisan ilmiah para ulama Tarim,  beliau giat memburu dan meneliti manuskrip-manuskrip kitab-kitab susunan para ulama. Kelak manuskrip-manuskrip ini dikumpulkan di perpustakaan Al-Ahqaf.

Kegigihannya dalam berdakwah dan menghidupkan tradisi keagamaan dibalut dengan bekal keilmuan, membuat beliau diangkat menjadi Imam Masjid Agung Tarim sejak tahun 1395 H dan diangkat sebagai pimpinan Majlis Fatwa Tarim sejak 1421 H / 2000 M.

Hari ini, Selasa 03 Syawal 1441 H bertepatan 26 Mei 2020, Al-Habib Ali Masyhur pergi meninggalkan kita semua. Mufti dan nafas Tarim ini dipanggil kembali ke sumber asalnya, Hadhrat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Raaji’uun.

Semoga Allah menerima semua amal ibadahnya, mengampuni semua kesalahannya, dan memberikan tempat terbaik di sisiNya.

Kita semua patut berduka.

Baca Juga : Memaknai Wafatnya Ulama; Bagaimana Sikap Kita Seharusnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *