Mahfuzhat (1): Imam Syafi’i Pernah Kesulitan Menghafal

Banua.co – Mulai hari ini Banua.co secara berkala akan menyajikan kutipan-kutipan (quotes) berisi hikmah dari materi pelajaran Mahfuzhat yang diajarkan di banyak pesantren, khususnya pesantren Gontorian. Untuk edisi perdana ini disampaikan kisah Imam Syafi’i yang pernah mengalami kesulitan menghafal pelajarannya.

MENURUT riwayat yang telah masyhur, Imam Syafi’i sudah hafal al-Qur`an sejak dirinya masih berusia 7 tahun  dan konon hafal kitab Muwattha` Imam Malik sejak berumur 13 tahun. Namun nampaknya faqih yang fatwa-fatwanya diikuti oleh umat Islam sebagai madzhab Syafi’i ini pernah mengadu kepada gurunya perihal sulitnya menghafal pelajaran. Entah apakah itu pengalaman dirinya sendiri ataukah bentuk kerendah-hatian Imam Syafi’i guna memancing nasihat dari sang guru, tapi demikianlah yang tergambar dalam materi pelajaran Mahfuzhat.

Mahfuzhat (yang terjaga/ yang dihafal) itu sendiri adalah salah satu mata pelajaran utama yang diajarkan di banyak pesantren, khususnya pesantren Gontorian. Pelajaran ini dipelajari oleh santri-santriwati dari kelas 1 (tingkat SMP/MTs) hingga kelas 6 (niha’i, setingkat kelas 3/12 SMA/MA). Materinya berisikan kutipan-kutipan (quotes) hikmah, nasihat, atau wasiat – kadang berbentuk sya’ir-sya’ir – dari para ulama dan tokoh cendekiawan muslim. Mahfuzhat bahkan diujikan tak hanya dalam ujian tertulis (imtihan tahriri) melainkan juga ujian lisan (imtihan syafahi) di hadapan 2 hingga 6 penguji.

Berikut kutipan dari Imam Syafi’i dimaksud:

قَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ

فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ

وَنُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى لِلْعَاصِي

Berkatalah Imam Syafi’i, semoga Allah meridhainya:
“Aku melapor kepada Waki’ perihal buruknya hafalanku,
maka ia berikan petunjuk agar (aku) meninggalkan maksiat,
dan ia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya,
dan cahaya Allah tidak dihadiahkan kepada pembuat maksiat.”

Diceritakan oleh Mahfuzhat di atas bahwa Imam Syafi’i pernah melapor kepada gurunya yang bernama Waki’ (lengkapnya Waki’ ibn Jarrah al-Kufi) perihal sulitnya menghafal pelajaran. Lalu sang guru menasihatinya agar meninggalkan maksiat. Lebih jauh, guru Imam Syafi’i itu menjelaskan bahwa ilmu laksana cahaya dari Allah.

Sebagaimana fungsi cahaya yang menerangi jalanan di malam gelap, ilmu menuntun kita meniti kehidupan agar sampai ke tempat tujuan yang semestinya. Akan tetapi, hanya orang-orang yang bersih dari maksiatlah yang mendapatkan cahaya Allah atau ilmu itu, sehingga orang-orang yang berbuat keburukan-keburukan akan selalu tersesat dari jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Nampaknya Imam Waki’ sejak awal memahami ada keterkaitan erat antara kecerdasan dan kesucian diri, antara kebodohan dan perbuatan maksiat. Teori ini sudah menjadi kemakluman umum khususnya di kalangan para sufi, bahwa maksiat atau keburukan perilaku dan perbuatan adalah penghalang (hijab) diri kita dari ilmu. Karena itulah, sebelum menyerap pengetahuan sejati mereka terlebih dahulu menyibak tabir penghalang itu dengan latihan-latihan fisik dan batin tertentu, yang umumnya disebut riyadhah.

Dengan demikian, bagi para santri, pelajar, atau mahasiswa, jika mengalami kesulitan menghafal, memahami dan menyerap pelajaran, mungkin sekali itu disebabkan oleh masih adanya maksiat yang kita perbuat. Bagi masyarakat umum yang sedang mempelajari suatu ilmu, jika ilmu itu belum juga memberi kedamaian, mungkin itu karena keburukan-keburukan, baik secara zahir maupun batin, masih melingkupi diri kita, sekalipun ia terkesan baik bahkan mungkin relijius di permukaan.

Nasihat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i ini juga menjadi tips supaya mudah menghafal dan memahami suatu pelajaran. Sederhana sekali, tapi kadang sulit dilaksanakan: tinggalkan maksiat!

ditulis oleh: Yunizar Ramadhani.

Baca Juga: Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Ramadan dan Idul Fitri Tahun Ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *