Ini Kisah Abah Guru Sekumpul Meneriaki Langit, Ada Apa?

Banua.co, MARTAPURA – Karomah Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) selalu menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan. Keistimewaan Ulama karismatik asal Martapura, Kalimantan Selatan tersebut seolah tidak ada habisnya diceritakan.

Satu cerita menarik dituturkan Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar, Ustadz Khairullah Zain.

Ulama muda Martapura ini mengingat peristiwa yang dia saksikan di kisaran tahun 1994 atau 1995. Kala itu dirinya sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan kost di Sekumpul.

Hari itu, lanjut Ustad Khairullah, hari Sabtu. Abah Guru Sekumpul menggelar majelis atau pengajian khusus wanita.

“Biasanya kalau hari Sabtu, sebagian dari kami para santri yang mondok (kost) di Sekumpul memilih tidak masuk sekolah di Darussalam dan kami lebih memilih ikut mendengarkan pengajian Abah Guru Sekumpul. Meskipun pengajian tersebut khusus untuk kaum perempuan, namun kami bisa menyimak lewat siaran TV Ar Raudhah,” kenang Ustadz Khairullah Zein.

Setiap Sabtu itu, sambung Ustadz Khairullah, pengajian khusus kaum perempuan jamaahnya selalu membludak. Jumlah jamaah yang hadir jauh melebihi pengajian khusus kaum pria yang diadakan pada Minggu sore.

“Meski pengajian baru dimulai pada pukul 08.00 pagi, Musholla Ar-Raudhah sudah dipenuhi sejak selesai shalat Shubuh. Hal ini dikarenakan banyaknya jamaah yang menginginkan masuk ke Musholla Ar-Raudhah,” ujar Alumni Ulya Ponpes Darussalama angkatan 1998 itu.

Musholla Ar-Raudhah dan halamannya hanya mampu memuat beberapa persen dari jamaah. Sisanya tersebar di berbagai lokasi. Ada yang di rumah penduduk, pelataran, dan lainnya.

“Sebagian besar tidak mendapat tempat bernaung. Bila hujan turun, jelas mereka akan basah kuyup,” kata Ustadz Khairullah.

“Nah, pada hari itu, saya menyaksikan langit mendung, matahari terhalang awan gelap, dan saya menyakini sebentar lagi akan turun hujan dengan deras. Tiba-tiba, di sela-sela pengajian Abah Guru Sekumpul berteriak: Hei langit, jangan hujan di sini. Kami masih pengajian!”

Anehnya, langit seolah gentar dengan teriakan beliau. Awan yang tadinya hitam, perlahan terurai.

“Hujan tidak turun hingga akhir pengajian,” pungkas Alumnus Ma’had Aly Darussalam tersebut.

Baca Juga: Abah Guru Sekumpul Kasyaf Sejak Masih Muda? Warga Keraton: Aku Menyaksikannya

Baca Juga: Ajaib! Disimpan Selama 22 Tahun, Rambut Abah Guru Sekumpul Berubah Jadi Tak Biasa

Reporter: Ahmad Sanusi

Editor: Ibnu Syaifuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *