Wadah Tinta Ini Saksi Sejarah Syekh Arsyad Al-Banjari

Banua.co, MARTAPURA – Sebuah wadah tinta menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ulama besar dari Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Wadah ini saksi sejarah pembuatan tinta untuk ulama yang produktif ini menulis kitab-kitab karyanya.

IMG 20201015 WA0044 1 300x272 - Wadah Tinta Ini Saksi Sejarah Syekh Arsyad Al-Banjari
Wadah Pembuatan Tinta Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Meski pada zaman itu tinta untuk menulis masih termasuk barang langka. Seorang penulis harus membuat sendiri tinta untuk keperluannya. Hal ini tidak menyurutkan Datuk Kalampayan, sebutan lain Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, melahirkan karya-karya besar yang menjadi rujukan umat Islam hingga saat ini.

Baca Juga: Ini Penampakan Baju Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Menurut penuturan Abdul Samad Effendi, seorang dzuriat Datuk Kalampayan dari jalur Qodhi Haji Mahmud, putra Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, moyangnya-lah yang membuat tinta untuk Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menulis.

Moyang Abdul Shomad Effendi membuat tinta untuk Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari jelaga damar, yang kemudian mencampur dengan kimia tertentu dalam sebuah wadah.

“Damar dibakar hingga menghasilkan jelaga. Kemudian jelaga itu yang dikumpulkan untuk bahan membuat tinta”, terang Fendi, nama panggilannya.

“Masih ada bahan lain sebagai campurannya, yaitu semacam cuka (asam sulfat, red.)”, tambah alumnus Pondok Pesantren Datuk Kalampayan Bangil ini. 

Fendi menunjukkan sebuah wadah berbahan keramik simpanan keluarganya yang menjadi saksi sejarah perjuangan nenek moyangnya untuk mendakwahkan Islam.

“Wadah ini warisan turun temurun”, tutur Fendi kepada banua.co.

IMG 20201015 WA0047 1 296x300 - Wadah Tinta Ini Saksi Sejarah Syekh Arsyad Al-Banjari
Wadah Pembuatan Tinta Untuk Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Keramik berdiameter 30 cm ini menurutnya berasal dari Siam Thailand.

“Wadah ini buatan Siam Thailand”, jelas Fendi.

Moyangnya tidak hanya mewariskan wadahnya sebagai saksi sejarah, namun juga ilmu membuat tinta secara tradisional tersebut. 

“Saat ini yang mewarisi ilmu pembuatan tinta adik perempuan saya”, akunya.

“Memang zaman dahulu ada keluarga lain yang mencoba membuat tinta serupa, namun tak pernah berhasil”, tambahnya.

Mendengar cerita Abdul Shomad Effendi seraya menyaksikan saksi sejarah perjuangan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dalam berdakwah dengan tulisan, menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa tidak ada halangan bagi setiap orang untuk berkarya. Selama ada kemauan, selalu ada jalan.

Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang untuk menulis harus membuat sendiri tintanya, seolah mengajarkan kepada kita hari ini, agar jangan menjadikan keterbatasan peralatan sebagai alasan tidak menulis.

Editor: Zain1979.

Baca Juga: Ajaib! Setelah 22 Tahun, Rambut Abah Guru Sekumpul Berubah Jadi Tak Biasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *