Bagaimana Santri Mengambil Peran di Era Internet?

Peran para santri diperlukan, untuk  ikut andil dalam meluruskan hal-hal sesat seperti yang saya contohkan. Menggunakan sosial media sebagai wadah untuk memberikan pemahaman.

Oleh: Yolanda Astriani Najwa *)

IMG 20201024 WA0036 150x150 - Bagaimana Santri Mengambil Peran di Era Internet?Teknologi di jaman sekarang terhitung luar biasa dibandingkan masa lampau. Jika dulu, kita harus mengirimkan pesan lewat surat, dan itu membutuhkan waktu berhari-hari bahkan bisa sampai berbulan-bulan. 

Masa sekarang, dalam kurun kurang dari 10 detik pun pesan bisa tersampaikan. Melalui jaringan internet, kita bisa mendapatkan berita dengan topik apapun dari dalam negeri hingga mancanegara. 

Pun telah diciptakan beberapa aplikasi sosial media yang dapat menghubungkan kita dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Tanpa terkecuali sedikitpun.

Sebab itu, anak-anak generasi milenial di era modern seperti sekarang lebih sering menggunakan ponselnya dibandingkan menyentuh buku. 

Setiap hari, setiap jam, setiap menit, selalu ponsel yang ada digenggaman. Mulai dari bangun pagi, sedang makan, melakukan aktifitas-aktifitas biasa, bahkan ketika sedang ingin buang hajat di toilet pun mereka membawa ponsel, berdalih untuk mengurangi kebosanan selama mengejan. 

Barangkali anda sudah tidak asing lagi dengan aplikasi; Facebook, Whatsapp, Instagram, dan juga Twitter. Menurut data yang saya temukan, nyaris lebih dari separuh penduduk dunia menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut sebagai wadah berkomunikasi dan mencari tahu apa yang sedang terjadi di dunia sekarang.

Tentu saja, dikarenakan sosial media telah digunakan milyaran manusia, kita tidak dapat menanggulangi sebuah berita hoaks ataupun hal-hal yang tidak pantas dibaca dan dilihat berhenti beredar di masyarakat. Mungkin beberapa diantara para pembaca pernah membaca cuitan di Facebook yang bertuliskan, “TANDA-TANDA KIAMAT TELAH DEKAT, TEKAN ANGKA 1 UNTUK MENCEGAH DATANGNYA KIAMAT” atau mungkin pesan Whatsapp, “—kirimkan pesan ini kepada seluruh keluarga dan kerabat anda, niscaya akan dimudahkan rezeki hingga 40 hari kedepan. Jika tidak, maka rezeki akan dihapus oleh Tuhan.” seperti demikian. 

Bagi kita yang mengetahui hal itu hanyalah berita bohong semata, tanpa ambil pusing langsung mengabaikan cuitan atau pesan tersebut. 

Namun faktanya, begitu banyak orang-orang yang mempercayai hingga meyakini hal tersebut. Mengapa bisa? Sebab kurangnya edukasi yang mendalam tentang aqidah keyakinan bahwa hanya Tuhanlah yang mengetahui kapan terjadinya kiamat dan yang mengatur rezeki dari seluruh manusia.

Disinilah peran para santri diperlukan, untuk  ikut andil dalam meluruskan hal-hal sesat seperti yang saya contohkan diatas. Menggunakan sosial media sebagai wadah untuk memberikan pemahaman. 

Karena, meski terdengar simpel dan remeh temeh rupanya hal tersebut bisa menjadi peluru yang akan menghancurkan negara. 

Bagaimana caranya? Orang-orang yang tadi mudah terhasut oleh cuitan dan pesan palsu, bisa saja diracuni oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab—dalam tanda kutip, radikalisme. 

Mereka tahu bahwa orang-orang tersebut sangat tergiur akan nikmatnya surga tanpa harus bersusah payah dalam beribadah. 

Seperti yang kita tahu, tindak radikal atau terorisme itu sendiri sudah sangat merugikan negara. Mereka tak segan-segan berbuat kehancuran, membunuh diri sendiri dan sanak keluarga pun sudah tidak diperdulikan mereka lagi. Beralasan bahwa dengan melakukan hal tersebut akan membawa mereka menuju surga yang abadi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Meluruskan pemahaman sesat menggunakan sosial media, tidak harus dengan berceramah atau menjadi da’i dadakan, cukup memberikan penjelasan kecil kepada orang-orang yang tidak mengetahui bagaimana fiqih, tauhid, dan akhlak bekerja. 

Jika nanti ada yang bertanya mengenai masalah hukum fiqih di sosial media, barangkali santri dapat memberikan komentar pendek tentang jawaban yang telah dipelajari setiap hari di pesantren.

Baca Juga: Santri Banua, Menulislah!

Semoga apa yang saya sebutkan diatas dapat menjadi acuan para santri dalam menjaga NKRI dari ideologi yang kelak riskan menghancurkan bangsa. 

Dari hal-hal kecil tersebut, kelak dimasa depan, bisa saja menjadi hal-hal besar yang sudah tidak mampu diperbaiki kembali. Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. 

Para santri harus bisa menjadi sosok yang tidak hanya menguatkan bangsa melalui jasmani, namun juga mencerdaskan bangsa secara rohani.

*) Penulis adalah santriwati tingkat Wustho (menengah) Pondok Pesantren Darussalam, Martapura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *