Dokter Diauddin Badruddin, Anak Ulama Besar yang Memilih Sukses dengan Cara Berbeda

Menjadi bermanfaat tidak mesti jadi ulama. Mungkin begitu kalimat yang bisa dipetik dari perjalanan hidup seorang dr. Diauddin Badruddin. Putra ulama besar Tuan Guru H Badruddin ini memilih berkarir di dunia kesehatan, jauh berbeda dengan jalan Sang Ayah.

Meski demikian, anak beringin tetaplah beringin. Dia akan tumbuh besar dengan caranya. Jika Tuan Guru H. Badruddin adalah seorang ulama karismatik sekaligus politikus handal, Dokter Dia –begitu akrab dia disapa- tak kalah. Dia karismatik di jalurnya.

Tuan Guru H. Badruddin Tengah.Foto Istimewa 300x201 - Dokter Diauddin Badruddin, Anak Ulama Besar yang Memilih Sukses dengan Cara Berbeda
Tuan Guru H. Badruddin (Tengah).Foto-Istimewa

Puluhan jabatan telah diembannya sejak muda, dari organisasi kemahasiswaan hingga organisasi pesantren dan kedokteran.

Tapi dengan rendah hati dia menyebutkan motto hidupnya, “Semua yang terjadi adalah takdir terbaik dari Allah Ta’ala untuk kita.”

Dari motto itu setidaknya dapat dipahami, dokter yang sedang anda baca riwayat hidupnya ini adalah seorang santri yang tidak berambisi besar. Dia tidak mengharuskan dirinya menjabat sebagai pimpinan di kemudian hari.

Bahkan menurut ceritanya, dia mengambil jurusan kedokteran pun karena didorong oleh guru-gurunya. Sempat ada penolakan dari segelintir keluarga. Mereka menyayangkan dirinya memilih menjadi dokter ketimbang menapaki jalan yang dirintis sang ayah, kakek, dan datuknya yang menjadi ulama.

Namun seiring perjalanan waktu, keluarga besarnya akhirnya bersyukur dan bangga dengan profesi yang diembannya. Toh, menjadi dokter juga profesi yang tak kalah mulia.

Siapa Dokter Dia?

Dokter Dia bernama Lengkap Diuddin. Akrab disapa dengan Dokter Dia. Lahir di Martapura 23 September 1977. Saat ini memiliki empat anak bersama pasangannya yang juga praktisi kesehatan, dr. Meta Soraya.

Dokter Dia..Foto Istimewa 300x198 - Dokter Diauddin Badruddin, Anak Ulama Besar yang Memilih Sukses dengan Cara Berbeda

Pendidikan

Dokter Dia di masa kecilnya mengenyam pendidikan di TK Pembina. Lulus dari Taman Kanak-kanak tersebut, dia kemudian dimasukkan ke SD Jawa Laut 1 dan MIS Nurul Islam. Selesai di tingkat dasar, dia melanjutkan ke MTs Mu’allimin Darussalam.

Jika biasanya pelajar Madrasah Tsanawiyah melanjutkan ke Madrasah Aliyah, dr Dia saat itu malah masuk ke SMA PGRI 1 Martapura. Namun seolah tak ingin kehilangan ilmu pengetahuan agama, dia kembali menimba ilmu tersebut di Pondok Pesantren Darussalam setelah lulus di SMA tersebut.

Meski lulus di Pesantren Darussalam, Dokter Dia kemudian masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Tak puas, dia kembali melanjutkan studinya ke Magister Kesehatan Masyarakat FK ULM.

Pekerjaan

Saat ini, Dokter Dia menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Di sisi lain, dia juga membuka praktek untuk melayani warga yang tidak sempat memeriksakan kesehatannya ke puskesmas atau rumah sakit.

Sebelumnya, Dokter Dia pernah bertugas menjadi dokter di Puskesmas Aluh-aluh, dokter di Puskesmas Mataraman, dokter Puskesmas Martapura Timur, Kabid Penunjang RSUD Ratu Zalecha, dan Wakil Direktur Pelayanan Medik.

Organisasi

Selain menjalani sebagai pembelajar dan mengabdi di dunia kesehatan, Dokter Dia juga aktif dalam dunia organisasi. Berikut daftar jabatan organisasi yang pernah atau sedang diembannya;

  • Wakil Ketua PC NU Kabupaten Banjar
  • Ketua Lazisnu Kabupaten Banjar
  • Direktur Radar Banjar Peduli
  • Ketua IDI Kabupaten Banjar
  • Ketua Ikatan Alumni FK ULM
  • Kepala UDD PMI Kabupaten Banjar
  • Dewan Pengawas Yayasan PP Darussalam Martapura.

Sosok yang memiliki segudang ilmu dan pengalaman ini, memiliki cerita di balik kesuksesannya. Seperti apa ceritanya, simak wawancara Tim Banua.co dengan Dokter Dia berikut:

Assalamu’alaikum Dokter, sibuk apa sekarang?

Wa’alaikumsalam Wr Wb. Sekarang saya menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Selain itu, ya ada buka praktik pelayanan kesehatan.

Dokter Dia.Foto Istimewa 300x168 - Dokter Diauddin Badruddin, Anak Ulama Besar yang Memilih Sukses dengan Cara Berbeda

Dokter, bisa diceritakan kenapa dulu memilih kuliah di jurusan kedokteran?

Sebenarnya mengalir saja, tidak ada niat. Sama sekali tidak ada bayangan mau kuliah ke mana, bahkan tidak tahu ada fakultas kedokteran saat itu. Jadi karena di sekolah ada guru yang tahu dan ada tawaran dari FK Unlam untuk yang berprestasi supaya didaftarkan di FK Unlam. Akhirnya, saya didaftarkan oleh pihak sekolah mengikuti tes masuk PMDK, semacam penerimaan mahasiswa jalur prestasi. Saya lupa singkatannya waktu itu.

Seingat saya orang yang bisa masuk jalur itu hanya siswa yang rangking 1-10 di sekolahnya. Alhamdulillah saya termasuk dalam kategori itu. Dari sekian banyak yang mendaftar, saya salah satu dari 40 calon mahasiswa yang lulus di jalur tersebut.

Jadi didaftarkan oleh pihak sekolah, kemudian dipanggil tes, dan lulus. Kelulusan itu pun diberitahu oleh pihak sekolah. Saya ingat, almarhum nenek masih ada waktu itu, beliaulah yang memberi kejutan dengan mengucapkan selamat kepada saya. Tapi saya kebingungan, selamat atas apa? ternyata saya lulus di Fakultas Kedokteran.

Apa kendala Dokter, ketika masuk di Fakultas Kedokteran?

Di masa awal-awal masuk kedokteran, ada keluarga yang menyayangkan kenapa saya kuliah di jurusan kedokteran. Karena latar belakang keluarga dari pihak ayah dan ibu adalah keluarga ulama besar, sehingga mestinya lebih cocok memperdalam ilmu agama. (Ayah: Tuan Guru H. Badruddin, sedangkan ibu adalah anak dari Tuan Guru H. Husin Ali).

Namun seiring waktu, akhirnya semuanya bangga karena punya keluarga dokter.

Bagaimana kesan dan tanggapan orang tua ketika sukses menjadi dokter?

Kesan dan tanggapan orang tua ketika sukses dan aktif menjadi Dokter secara tersurat atau terang-terangan sih tidak pernah langsung diucapkan. Tapi jelaslah pasti semua orangtua akan bangga kalau anaknya sukses. Jadi kalau anaknya baik, sukses pasti orang tua akan bahagia.

Apa rencana dokter ke depan?

Saat ini saya menjalani hidup dengan sebaik-baiknya sambil melihat peluang. Karena Allah selalu menunjukkan jalan, tinggal kita saja yang mesti jeli melihat peluang tersebut.

Untuk rencana ke depan, saya ingin menjalankan aksi-aksi sosial lebih banyak lagi.

Dokter Dia Foto Istimewa 1 300x196 - Dokter Diauddin Badruddin, Anak Ulama Besar yang Memilih Sukses dengan Cara Berbeda

Siapa sosok yang menginspirasi dokter?

Tokoh yang menginspirasi sebetulnya banyak. Saya termasuk orang yang mudah kagum. Kalau melihat orang-orang sukses, apalagi kalau orang sukses dengan penuh perjuangan walaupun bukan orang ternama. Misalnya, ada tukang becak yang punya anak 7 orang dan semuanya bisa sekolah dan sukses.

Tapi kalau dibilang tokoh yang bisa disebut menginspirasi adalah almarhum Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Kalau waktu kecil suka membaca tokoh–tokoh heroik seperti Salahudin al Ayyubi.

Selain sebagai dokter, apakah anda juga punya pengalaman organisasi?

Sampai saat ini, saya banyak sekali memegang jabatan-jabatan, bahkan banyak yang tidak diminta. Dulu pernah jadi Ketua BEM, di partai politik ada. Untuk saat ini, saya menjabat sebagai Kepala Unit Donor Darah, Ketua IDI Kabupaten Banjar, Ketua Ikatan Alumni FK Unlam, Direktur Radar Banjar Peduli dan lain-lain.

Sebagai seorang dokter, masalah yang dihadapi tentu banyak. Bagaimana dokter menyikapi tantangan seperti itu?

Motto hidup saya: Semua yang terjadi adalah takdir terbaik yang ditentukan Allah kepada kita. Karena itu, jika menghadapi tantangan, enjoy aja. Tidak perlu bereaksi berlebihan. Kita meyakini mampu menghadapinya Insya Allah mampu.

Mind set itu penting dan kita harus meyakini “La yukallifullahu naafsan illa wus ‘aha”, bahwa apa pun tantangannya, itu semuanya pasti kita mampu menghadapinya. Apa pun itu, tantangan hidup dan lain-lain.

Jika ada seminar atau pelatihan. Dengan segudang pengalaman di dunia organisasi, agama, politik, dan kesehatan, Dokter biasanya diundang sebagai nara sumber di bidang apa?

Keahlian bidang kedokteran dan keahlian di bidang hipnoterapi/peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Seperti bagaimana cara mengelola pikiran.

Dokter, sebagai santri senior, adakah pesan-pesan Dokter untuk kami agar bisa sukses seperti dokter?

dokter dia.foto istimewaa 300x198 - Dokter Diauddin Badruddin, Anak Ulama Besar yang Memilih Sukses dengan Cara Berbeda

Santri harus siap  untuk menghadapi tantangan perubahan zaman, perubahan yang begitu dinamis dan cepat. Caranya harus melek teknologi, rajin membaca, dan mengikuti perkembangan.

Santri juga harus kreatif, rajin ikut berorganisasi, karena dengan rajin berorganisasi santri akan ketemu banyak orang. Jadi, dia bisa membuka wawasannya lebih luas lagi dan dapat menambah pengalaman. Pengalaman itu sangat berharga ketika nanti ke dunia luar, setelah lulus pesantren.

Untuk para santri semangat, jangan minder, walaupun kita terlihat kampungan atau culun dengan memakai sarung, tetap semangat, kita punya nilai lebih dibandingkan yang lain.

Saya sangat meyakini bahwa santri punya nilai lebih dibandingkan yang lain, dan kemungkinan sukses itu lebih besar dibandingkan yang lain. Karena santri sudah ditatar dan ditempa di pesantren.

Untuk sukses kuncinya bukan hanya di IQ, tetapi juga SQ.  Kalau bisa dibilang ilmu, amal dan adab/akhlak. Santri harusnya menang di akhlak. Jadi ini kekuatan kita para santri dibandingkan yang lain.

Bagaimana tanggapan dokter tentang pelaksanaan hari Santri di Kabupaten Banjar tahun ini?

Dokter Dia Foto Istimewa 300x182 - Dokter Diauddin Badruddin, Anak Ulama Besar yang Memilih Sukses dengan Cara Berbeda

Alhamdulillah peringatan hari santri tahun ini masih bisa kita laksanakan walaupun di tengah pandemi. Ini membuktikan bahwa santri itu punya kreatifitas dan membuktikan bahwa manusia punya kemampuan adaptasi yang hebat.

Jadi di tengah keterbatasan pengumpulan massa berkegiatan dan lain-lain di pandemi, kita masih bisa melaksanakannya tentu dengan kegiatan-kegiatan yang tidak melanggar protokol kesehatan. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang kreatif, yang punya visi,  punya pengetahuan yang mampu untuk beradaptasi secara cepat.

Ini juga bukti bahwa santri tidak kalah dengan yang bukan santri (sekolah umum). Berkaca dari itu, kita yakin santri kita akan menjadi tonggak kepemimpinan di masa depan.

Apa Harapan  untuk peringatan Hari Santri di Kabupaten Banjar ke depan?

Harapan ke depan, hari santri ini lebih meriah lagi dan punya kesiapan yang lebih matang. Melibatkan lebih banyak pondok pesantren, bisa merangkul pondok-pondok pesantren,  supaya mereka lebih merasa memiliki terhadap hari santri ini.

Reporter: Rohmiah

Editor: Ibnu Syaifuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *