Sayyid Al Ahdal Ini Memilih NU dan Indonesia

Banua.co, MARTAPURA – Meski ayahnya warganegara Arab, Mahmud Al Ahdal adalah Sayyid yang memilih NU dan Indonesia. Adik Sayyid Ahmad Al Ahdal ini tidak tertarik menuruti jejaknya yang menetap hingga wafat di Saudi Arabia. Mahmud Al-Ahdal lebih tertarik menjadi warganegara Indonesia.

Putra Habib Muhammad bin Ibrahim Al-Ahdal ini lebih menyukai bahkan mencintai budaya Indonesia. Karenanya ia memilih NU sebagai organisasi tempat mengabdi.

Saat ini, Adik Habib Ahmad Al Ahdal ini aktif sebagai wakil bendahara GP Ansor Banjarbaru.

images 2020 10 25T224640.765 - Sayyid Al Ahdal Ini Memilih NU dan Indonesia
Habib Muhammad bin Ibrahim Al-Ahdal, warganegara Saudi Arabia yang akrab dengan Abah Guru Sekumpul.

Secara gen, Sayyid Mahmud memang memiliki darah Indonesia. Ibunya berasal dari Amuntai, Kalsel. Kakaknya sendiri, Habib Ahmad Al-Ahdal sejak masih bayi telah diasuh dan menjadi anak angkat Abah Guru Sekumpul. 

images 2020 10 25T224711.599 - Sayyid Al Ahdal Ini Memilih NU dan Indonesia
Sayyid Ahmad, kakak kandung Sayyid Mahmud Al-Ahdal diasuh dan diangkat anak Abah Guru Sekumpul sejak masih bayi

Sosok Sayyid Mahmud Al-Ahdal menarik untuk kita selami. Apa alasan Sayyid Al Ahdal ini memilih NU dan Indonesia? Karena meski menghabiskan masa kecil dan remaja di Saudi Arabia, ketika di Indonesia malah ia lebih senang seperti orang Indonesia kebanyakan. Kesehariannya lebih suka memakai celana panjang dan kaos dibalut jaket.

Sayyid Mahmud Al Ahdal berprinsip mempertahankan budaya lokal itu sangat penting. Ia mengkritik orang-orang Indonesia yang lebih menyukai budaya Arab. Berikut perbincangan singkat banua.co dengan aktivis muda ini:

Assalamu’alaikum Sayyid Mahmud Al Ahdal

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarkatuh.

Anda masih di PMII ya?

Tidak lagi. Karena saya bukan mahasiswa lagi.

Jadi aktif di mana sekarang?

Sekarang dipercaya sebagai wakil bendahara GP Ansor Banjarbaru. Badan otonom NU.

Sebenarnya Sayyid kelahiran mana?

Saya ini dilahirkan di kelurahan Keraton, Martapura, tahun 1995 silam.

Tapi kok bisa tinggal di Saudi Arabia?

Ibu saya berasal dari Amuntai, namun ayah saya warganegara Saudi Arabia.

Sejak kapan Sayyid tinggal di Saudi Arabia?

Umur 6 tahun saya dibawa ke Saudi Arabia. 

Berapa lama Sayyid tinggal di Saudi?

Saya di Saudi Arabia selama dua belas tahun. Sepuluh tahun di Makkah dan dua tahun di Jeddah.

Jadi Sayyid bersekolah di Saudi?

Iya, saya sekolah tingkat Ibtidaiyah, Mutawassithoh, hingga lulus Tsanawiyah di Saudi. Di sana tingkat menengah atas itu disebut Tsanawiyah, beda dengan di Indonesia. Kalau istilah Aliyah di sana itu setingkat kuliah di Indonesia. 

Setelah itu Sayyid kuliah di mana?

Lulus tingkat Tsanawiyah, saya ambil Bahasa Inggris selama setahun, kemudian ke Indonesia. Di Indonesia saya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Yani, jurusan manajemen.

Apa yang membuat Sayyid tertarik dengan NU?

Sedari kecil keluarga sering bilang kita ini NU. Kemudian saya belajar sejarah, NU termasuk organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sayyid mencintai Indonesia ya?

Dulu itu ditawarkan mau menjadi warganegara Saudi apa Indonesia. Saya memilih Indonesia.

Bagaimana pandangan Sayyid terhadap orang yang mengatakan tidak perlu ber-NU, yang penting Aswaja?

Mungkin karena kurang informasi. Dulu pun Abah Guru Sekumpul masuk dalam struktur juga, sebagai mustasyar (penasehat) dalam kepengurusan PBNU era Gus Dur. Banyak yang lupa hal itu. Kyai-kyai kita dulu pengurus NU juga.

Tapi kan katanya NU dahulu beda dengan yang sekarang?

Perbedaan itu hanya pada gaya kepemimpinannya saja. Karena tantangannya juga berbeda. Tantangan NU hari ini tidak sama dengan tantangan NU jaman dahulu. Karenanya cara menghadapinya juga berbeda. Kalau NU-nya masih sama seperti dahulu.

Ada juga yang mengaku NU tapi tidak suka sama pengurus NU. Bagaimana pandangan anda?

Lebih baik tidak usah sama sekali mengaku NU. Daripada bersifat seperti itu, lebih baik tidak usah mengaku-aku NU.

Selanjutnya, bagaimana pandangan Sayyid tentang budaya Arab yang dipromosikan di Indonesia?

Masalah adat dan tradisi juga banyak yang lupa. Dahulu Abah Guru Sekumpul (selagi muda) pakai koko pakai sarung. Guru Sya’rani Arif pakai koko pakai sarung, Guru Bangil dan guru-guru yang lain juga sama. Yang pakai gamis dan jubah itu dulu kalau misalkan ada tamu dari Arab dan ulama-ulama besar.

Apa harapan Sayyid terhadap NU kedepannya?

Kepengurusan inti NU harus diisi alumni-alumni pesantren. Masuknya orang-orang yang tidak berlatarbelakang agama ke pengurus inti NU, merusak NU dan mematikan NU itu sendiri. Kedepannya pengurus NU harus diisi orang-orang yang mumpuni dalam ilmu agama.

Terimakasih atas waktunya, Sayyid Mahmud Al Ahdal. Mudah-mudahan lain kali kita bisa berbincang-bincang lagi.

Sama-sama.

Baca Juga: Amaliah Abah Guru Sekumpul Sejak Masih Santri Hingga Wafatnya.

Baca Juga: Habib Hasan Syahab: NU Benteng Terakhir Negeri Ini.

Sejarah Habaib Marga Alaydrus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *