Mau Menjadi Santri? Baca Dulu yang Ini…!

Mau menjadi santri? Santri jaman sekarang sudah ada yang jadi dokter, politisi, polisi, tentara, pedagang, bahkan pengusaha lho Gaes. Karena menjadi santri itu hanya awal dari pembelajaran. Tahapan di mana seorang mengkaji ilmu-ilmu yang kelak diharapkan bisa bermanfaat untuk diterapkan –minimal- ke diri sendiri. Syukur-syukur bisa meluas ke masyarakat.

Oleh: Muhammad Abdillah*)

FB IMG 1603701558058 1 150x150 - Mau Menjadi Santri? Baca Dulu yang Ini…!Pernah dengar kata “santri”? Pasti sering ya Gaes. But, kamu tau ga santri itu apa?

Santri itu panggilan khusus bagi mereka yang menuntut ilmu agama di pesantren atau istilahnya “mondok”. Makanya santri –oleh warga banua kita- sering juga disebut dengan istilah “pondokan”. 

Oh iya, kebanyakan orang mengira para santri hanyalah seorang yang pandai dalam bidang agama. Mampu jadi imam, misalnya. Pandai baca doa, ngajarin ngaji, de el el. Apa benar begitu? Kita telaah bersama yuk.

Persepsi seperti ini tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Nah lho!

Baca Juga: Santri Banua, Menulislah.

Santri jaman sekarang sudah ada yang jadi polisi, tentara, pedagang, bahkan pengusaha lho Gaes. Karena menjadi santri itu hanya awal dari pembelajaran. Tahapan di mana seorang mengkaji ilmu-ilmu yang kelak diharapkan bisa bermanfaat untuk diterapkan –minimal- ke diri sendiri. Syukur-syukur bisa meluas ke masyarakat.

Menjadi santri kini sudah trend lho. Bahkan tidak sedikit mereka yang sebelumnya menjadi siswa sekolah umum tiba tiba ingin menjadi seorang santri pesantren. 

Sebagian ada yang berhasil karna memiliki niat yang kuat dan sebahagian lagi mereka banyak yang menyerah karna menjadi seorang santri tak semudah yang mereka pikirkan.

Oh iya, sebelum kamu memutuskan untuk menjadi seorang santri, berikut akan saya bahas beberapa yang musti kamu kenali tentang dunia santri.

Metode Belajar

Metode belajar para santri dari zaman baheula sampai sekarang gitu-gitu aja Gaes. Kalaupun berubah paling pada sarananya aja. Ada dua model pembelajaran dalam dunia santri, yaitu sorogan dan wetonan.

Sorogan adalah metode belajar di mana santri membaca kitab, sementara gurunya menyimak. Membetulkan bila ada yang salah dan memberi keterangan yang sulit dipaham.

Adapun wetonan adalah metode di mana para santri duduk menghadap dan menyimak pelajaran dari guru, yah mirip seperti klasikal biasa. Hanya saja karena yang diajarkan adalah kitab kuning berbahasa Arab tanpa baris dan tanpa terjemah, maka ketika menyimak guru mengajarkan kitab, selain mendengarkan dan mengingat, santri juga mencatat di kitab terjemah kalimat yang belum ia kenali, juga keterangan tambahan dari guru atas teks-teks kitab.

Dua metode pembelajaran ini masih bertahan hingga sekarang lho Gaes. Dengan dua metode inilah pondok pesantren mencetak alumninya. Diantara mereka ada yang menjadi ulama, intelektual dan lainnya, yang kemudian membaur di masyarakat. 

Etika Menjadi Santri

Nah, setelah kalian mengenal apa itu santri. Sekarang, bagaimana kalau kalian menjadi seorang santri.

Baca Juga: Santri dan Pesantren, Benteng Pancasila di Negeri Ini.

Oh iya, saat ini kita hidup di jaman digital, di mana informasi begitu mudah didapatkan. Sedihnya, tanpa ada filter yang menyaring kebenaran informasi tersebut. Bahkan seringkali ada provokasi-provokasi terselubung dibalik informasi yang masuk ke kita. Parahnya, kita kadang terbawa arus provokasi tersebut, padahal isinya hoax belaka.

Nah, kaum santri juga tidak luput dari arus deras ini. Lewat gadget, ragam informasi masuk ke kalangan santri. Memancing emosi dan seringkali memunculkan perdebatan. Politik misalnya, terkadang sesama santri ikut-ikutan berdebat di media sosial, padahal mereka masih pelajar, belum banyak mengerti dan memahami bidang ini.

Seharusnya, seorang santri tidak perlu ikut-ikutan mengomentasi persoalan yang mereka tidak tahu persis. Ada yang lebih penting buat mereka, yaitu belajar. Santri musti mengumpulkan bekal ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya mumpunng masih punya kesempatan menuntut ilmu. Bukan ikut-ikutan latah atau bahkan mirip buzzer dan parahnya tanpa bayaran. Rugi waktu dan biaya, jadinya. Emang kamu dapat pulsa gratisan? 

Santri Boleh Berdebat, Tapi Begini Etikanya.

Kalau mau berdebat, santri tidak dilarang kok. Cuma, idealnya santri harus mampu terlebih dahulu memahami situasi dan kondisi. Bukan menjadi seorang pendebat yang cuma pandai bersilat lidah tanpa referensi dan analisa. Atau malah lebih parah lagi menjadi provokator. Jangan lah…

Santri harus ingat etika yang diajarkan Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah. Ketika menghadapi perdebatan dalam persoalan yang furu’iyah, jangan bersikeras pada “ini salah” atau “hanya ini satu-satunya yang benar”. Santri harus bijak bahwa kebenaran dari manusia tidak sepenuhnya benar. Apa hanya karena orang lain berbeda sudut pandang dengan kita, lantas kita mendebat dan menyalahkannya? Apalagi mencari pembenaran dengan argumen yang mengutip Al-Qur’an dan Hadits. Terlalu mulia menggunakan teks-teks suci tersebut bila hanya untuk pembenaran atas sesuatu yang kita sendiri tidak paham.

Seorang santri musti menghindari perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa selain memnyuburkan sifat riya (pamer kecerdasan) dan ujub (bangga diri) saja. Santri yang bijak harus bisa menyadari kondisi dan posisinya sekarang,yaitu masih seorang pelajar.

Trus, bagaimana bila kita yakin orang lain salah, sementara bila kita bantah akan menciptakan perdebatan panjang?

Seorang santri lebih baik ambil langkah “mawquf” alias no coment. Tidak menerima tapi juga tidak membantah. Toh andaikan ia salah juga, bukan tanggungjawab kita kan? Lagian di negara demokrasi seperti negeri kita ini, setiap orang bebas berpendapat, terlepas benar salah pendapatnya.

Nah, apalagi bila ternyata orang lain itu pendapatnya benar. Untuk yang seperti ini, maka etika santri adalah, “perhatikan apa yang ia katakan, jangan perhatikan siapa ia yang mengatakan”. Selama yang pendapatnya baik dan mengandung kebenaran, maka ambil. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim ada sebuah hadits yang berbunyi, “Hikmah itu umpama barang hilang seorang mukmin. Di mana pun ia menemukan pasti diambilnya”. Bila itu milik kamu, jangan ragu untuk mengambilnya Gaes.

Nah, tertarik menjadi seorang santri? Buruan cari informasi tentang pesantren, biar kamu bisa memilih pesantren mana yang cocok dengan kamu. Oke Gaes? Tambahee Lage. 

*) Penulis adalah santri Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Aktif di organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Banjar.

Baca Juga: Bagaimana Peran Santri di Era Internet Ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *