Buya Said: Mengenal Rasulullah Cuma Sebagai Makhluk Paling Mulia, Itu Kelas Awam

Banua.co, JAKARTA – Buya Said mengatakan bahwa mengenal Rasulullah cuma sebagai makhluk paling mulia, itu masih kelas awam. Hal ini disampaikan Buya Said Aqil Siradj dalam ceramah maulid PBNU, Kamis (29/10). Kaum santri dan orang NU, harus mengenal lebih dari itu.

“Kalau sampeyan ditanya, Rasulullah itu siapa, ya makhluk paling mulia, manusia paling mulia. Ah, itu jawaban orang awam”, kata ketua umum PBNU ini.

“Kalau kita kader NU, kalau kita orang santri, tidak cukup jawab demikian”, lanjutnya.

Doktor Tashawwuf ini menjelaskan kaum santri dan kader NU harus bisa jawab bahwa Nabi Muhammad adalah “tajalli min tajalliyatillah” (Manifestasi Allah).

Tajalli min ghaibi tajalliyatillah, menjadi Nur Muhammad. Nur Muhammad bertajalli menjadi alam semesta ini”, jelasnya.

“Nur Muhammad itu “tajalli ghaibi” dari a’yanuts tsabitah (entitas laten). Entitas laten tajalli dari Asmaaul Husna. Asmaaul Husnaa tajalli dari Dzat Allah”, lanjut ulama yang pernah menyantri di Krapyak ini.

Buya Said menerangkan bahwa Nur Muhammad berproses, kemudian menjadilah alam semesta ini. dengan demikian Nur Muhammad adalah “ashlul ‘alam” (asal mula semesta. Red). 

“Alam kita ini namanya tajalliyaat, manifestasinya Allah, tanazzulaat, degradasinya Allah, ta’ayyunat, entifikasinya Allah. Tajalliyat, tanazzulat, ta’ayyunat melalui Nur Muhammad”, terang Buya Said.

Buya Said juga mengulas bait  Qasidah Burdah Al Bushiri yang berbunyi:

Setiap mukjizat-mukjizat yang dibawa para Rasul mulia, hanya bagian dari Nur Muhammad karena terhubung dengannya.

“Mukjizat para nabi dan para rasul, apalagi keramat para wali, semuanya dari Nur Muhammad. Tongkat Nabi Musa menjadi ular dan membelah laut. Nabi Isa menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati. Itu semua bersumber dari Nur Muhammad”, ulas Buya Said.

“Semua para nabi itu mengambil bagian dari Nur Muhammad. Para nabi mengambil cuma satu cedok dari lautan Nur Muhammad. Bagaikan laut diambil satu cedok. Para nabi berada di satu titik batas, sementara ilmu Nabi Muhammad masih jauh di depannya. Adanya dunia dan akhirat, adanya Lauhul Mahfuzh, adanya Qolam, semuanya diciptakan dari Nur Muhammad”, lanjut kiai yang hafal Maulid Barzanji ini.

Dalam acara Maulid Akbar yang juga menghadirkan Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz secara online tersebut, Buya Said Aqil Siradj menekankan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sunnah.

Baca Juga: Beri Tausiah Maulid Akbar PBNU, Ini Terjemah Lengkap Nasehat Habib Umar.

“Maulid Nabi itu sunnah taqririyah. Biarin orang mengatakan bid’ah. Saya mengatakan sunnah, ada berkahnya”, katanya.

“Sunnah ada tiga: sunnah qauliyah, sabda Rasulullah. Sunnah fi’liyyah, perilaku dan sikap. Sunnah taqririyah, bukan sabda dan bukan perilaku, tapi orang lain yang melakukan atau mengatakan tapi mendapat legimitasi Rasulullah” terang pimpinan Pondok Pesantren Luhur Ats Tsaqofah ini.

Ceramah lengkap Buya Prof Dr Said Aqil Siradj bisa ditonton di channel YouTube 164 Channel.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *