Begini Cara Abah Guru Sekumpul Mengislamkan Orang

Banua.co, MARTAPURA – Cara Abah Guru Sekumpul mengislamkan orang patut diteladani bagi siapa saja yang membimbing orang masuk dalam agama Islam.

Semasa hidupnya, Abah Guru Sekumpul sering membimbing orang yang ingin masuk Islam. Biasanya setelah selesai pengajian ada saja non muslim yang beliau bimbing mengucapkan syahadat.

Namun, tidak sekedar membimbing mengucapkan dua kalimat syahadat beserta maknanya, ternyata cara Abah Guru Sekumpul mengislamkan orang juga disertai dengan membimbing muallaf untuk melakukan tabarri. Hal ini sebagaimana dikemukakan Ustadz Khairullah Zain kepada banua.co, Minggu (1/11/2020).

“Saya kerap menyaksikan, setiap ada yang masuk Islam, cara Abah Guru Sekumpul mengislamkan tidak hanya membimbing melafalkan dua kalimat syahadat, tapi juga tabarri,” ceritanya.

“Tabarri adalah janji untuk melepaskan semua ajaran dan agama selain ajaran dan agama Islam,” sambung ustadz yang aktif menghadiri pengajian Abah Guru Sekumpul di sepuluh tahun terakhir masa hidupnya.

Ditanya apa hukumnya melakukan tabarri, alumnus lembaga pengkaderan Ahli Fikih Ma’had ‘Aly Darussalam ini mengemukan beberapa pendapat ulama.

“Kalau kita baca dalam Al Hawi Al Kabir susunan Imam Mawardi, ada tiga pendapat ulama terkait tabarri ini,” katanya.

“Pendapat pertama mengatakan tabarri ini wajib. Jadi menurut pendapat ini, meski setelah mengucap dua kalimat syahadat seorang non muslim sudah diakui sebagai muslim, namun ia wajib melakukan tabarri. Adapun pendapat kedua, tabarri ini hukumnya mustahab atau sunnat,” jelasnya.

“Namun menurut Imam Syafi’i, tabarri ini tergantung orangnya. Bila yang masuk Islam itu dari kalangan penyembah berhala atau mengingkari adanya kenabian, maka berjanji melepaskan semua ajaran selain ajaran agama Islam hukumnya mustahab,” terangnya.

“Akan tetapi, bila sebelumnya ia berasal dari kalangan beragama dan mengakui adanya kenabian, maka tabarri ketika masuk Islam hukumnya wajib,” lanjutnya.

“Cara Abah Guru Sekumpul mengislamkan non muslim ini layak untuk kita teladani, karena lebih ihtiyath atau hati-hati. Yaitu dengan membimbing muallaf untuk berjanji melepaskan semua ajaran agama selain ajaran Islam,” tutup Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Banjar ini.

Editor: Ibnu Syaifuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *