Bahas Fintek, Muslimat NU: Perlu Format Fikih Modern Berbasis Madzhab Hanafi

Banua.co, BATU – Menyikapi kemajuan teknologi yang salah satunya adalah finansial teknologi atau fintek, Muslimat NU memandang perlu format fikih modern berbasis Madzhab Hanafi.

Hal ini terungkap dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Muslimat NU 2020 yang berlangsung sejak 28 Oktober hingga 1 November kemaren.

Muslimat NU memandang perlu adanya fikih modern dalam menyikapi keuangan modern yang berbasis teknologi atau fintek ini karena dalam fikih klasik belum ada bahasannya. 

“Tetapi kemudian kita melihat bahwa ada kebutuhan efiesiensi, efektivitas dari fikih modern”, kata Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum PP Muslimat NU, Minggu (1/11).

Fikih klasik madzhab Syafi’i yang dianut mayoritas warga NU mensyaratkan adanya transaksi yang jelas di depan mata, transparan dan face to face. Face to face ini tidak terdapat pada transaksi fintek.

“Oleh karena itu sudah kita bangun komunikasi dengan mengundang banyak narasumber. Kalau (madzhab. red) Imam Hanafi memungkinkan untuk bisa membangun satu proses transaksi, jikalau itu aman dan terpercaya”, jelasnya.

IMG 20201102 WA0010 1 - Bahas Fintek, Muslimat NU: Perlu Format Fikih Modern Berbasis Madzhab Hanafi
Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa

Rakernas dan Mukernas Muslimat NU 2020 yang dilaksanakan di Batu, Jawa Timur ini mengangkat fintek sebagai tema bahasan Bahtsul Masail, karena sesuai dengan kondisi saat ini. Kemajuan teknologi merambah hingga ke transaksi finansial.

Sebelum Rakernas dan Mukernas, Muslimat NU telah melaksanakan beberapa kali webinar pendahuluan dan menghasilkan kesepakatan untuk mengangkat fintek sebagai topik bahasan Rakernas dan Mukernas.

“Dan kita mendahului dengan Bahtsul Masail yang dilakukan Muslimat NU. Ini dilakukan dengan beberapa kali webinar dan endingnya adalah kita ingin fintek syariah”, terang Khofifah.

Sementara, Ketua Panitia Daerah Rakernas dan Mukernas, Masruroh Wahid menjelaskan bahwa fintek merupakan inovasi bisnis keuangan berbasis teknologi yang memberikan banyak kemudahan. Kemudahan tersebut baik untuk pengguna jejaring social maupun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui aplikasi daring seperti e-commerce.

“Fintek bersifat sebagai penyedia jasa finansial merupakan efek dari berbagai macam permasalahan transaksi keaungan”, katanya.

Menurutnya, fintek adalah solusi ketika masyarakat yang membutuhkan bantuan finansial tidak bisa dipenuhi atau tidak terjangkau oleh perbankan.

“70% fintek fokus pada memberikan layanan kepada segmen yang tidak dilayani perbankan. Fintek memberikan solusi kemudahan akses kepada masyarakat yang tidak terjangkau oleh perbankan”, terangnya. 

 “Masyarakat modern membutuhkan fikih baru. ‘An taradhin berarti aman, mudah, cepat, efektif, dan efiesien. Yang dijaga adalah kepuasan pelanggan. Kalau mengecewakan, seperti riba, gharar, tadlis, maisir, hukumnya haram”, lanjutnya.

Menyikapi fikih klasik madzhab Syafi’i yang mensyaratkan face to face, akad, khiyar, dan tidak majhul untuk mencapai prinsip ‘an taradhin (saling suka dan senang), Ketua Muslimat Wilayah Jawa Timur ini cenderung memilih Madzhab Hanafi untuk fintek.

“Kepuasan pelanggan menurut Madzhab Abu Hanifah sudah mencukupi konsep ‘an taradhin tersebut. Itulah perkembangan fikih muamalah”, pungkasnya.

Baca Juga: Rais Am PBNU: Era Disruptif Ini, Hanya Dua Pilihan Warga NU.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *