Syekh Ali Jaber Soroti Penggunaan Ponsel di Kalangan Umat Islam

Banua.co, MARTAPURA – Ponsel atau handphone, yang dulunya hanya bisa digunakan untuk berkomunikasi, kini berkembang dengan beragam fitur dan aplikasi. Tak jarang, pemiliknya lupa dengan situasi dan kondisi.

Dikutip dari  channel  Youtube Vertizone TV, Rabu (3/11/2020),  Syekh Ali Jaber menyoroti kebiasaan manusia zaman ini, terutama di kalangan umat Islam.

“Ke mana-mana selalu bawa HP, mau tidur yang terakhir dilihat HP. Bangun tidur yang pertama dilihat HP. Bahkan mau ke WC juga bawa HP. Menurut saya, ya Hp ini musibah akhir zaman karena terlalu mengganggu aktivitas ibadah kita,” kata Syekh kelahiran kota Madinah tersebut.

Dalam video yang berdurasi sekitar 18 menit itu, Syekh Ali bercerita, dia pernah terganggu dengan suara HP jamaah, ketika shalat berjamaah.

” Di samping saya ada orang bunyi HP-nya, pas kita lagi shalat, tapi hanya bunyi sebentar terus mati. Saya kehilangan konsentrasi, karena khusyuk ini kan mujahadah. Tidak lama kemudian, Alhamdulillah saya bisa berusaha kembali untuk fokus dalam shalat,” tutur Syekh Ali Jaber.

Di rakaat kedua, sambung Syekh Ali, HP milik orang tersebut berbunyi lagi. Dia kembali terganggu konsentrasinya.

“Mati sebentar bunyi lagi, tapi orang di samping saya ini tidak bergerak sama sekali untuk mematikan HP-nya. Apa itu khusyuk atau pura-pura khusyuk? Akhirnya saya tegur dengan menggerakkan tangan sayam, tapi dia tetap tidak bergerak.”

HP itu kembali berbunyi dan benar-benar menggangu.

“Akhirnya saya terpaksa batalkan shalat. Saya bilang: Mas matiin HP-nya. Kata dia: Maaf Syekh saya lupa. Sekarang sudah bunyi berkali-kali, kenapa tidak dimatikan? Dia menjawab: Saya belajar kalau tiga kali digerakkan tangan, batal salatnya.”

“Mana dosa yang lebih besar, gerakan 3 kali dalam shalat atau mengganggu ratusan jemaah?” tegas Syekh Ali, “Kalau belajar fiqih harus disesuaikan dengan keadaan tidak semua fiqih bisa diberlakukan dengan setiap keadaan.”

Syekh Ali menyarankan untuk tidak membawa HP ke masjid. Atau jika tetap membawa, pakai mode silent (diam).

“HP ini alat mubah, tapi menjadi sebab membawa kita ke surga atau ke neraka. Apapun yang mubah tergantung isinya gunanya apa, gunanya kebaikan, silaturahim, syiar dakwah, sebarkan kebaikan, sebarkan doa shahih, hadits yang shahih dapat lah pahala, dia menjadi sedekah jariyah bagi kita. Sebaliknya kalau kita sebarkan keburukan, dosa, atau berita hoaks atau fitnah di mana-mana itu membahayakan,” jelas Syekh Ali Jaber.

Syekh Ali menyebut, praktik menshare sesuatu yang tidak baik di HP, bisa menjadi dosa jariyah.

“Dosa Jariyah yaitu menyebarkan sesuatu yang tidak baik dalam HP atau di sosial media kita share ke orang lain atau grup sebelah yang isinya berita hoaks yang belum tabayun, isinya adu domba, isinya kekerasan, atau film-film yang tidak baik isinya atau merusak akhlak. Dosanya akan terbawa hingga hari kiamat nanti,” terangnya.

Untuk itu, Syekh Ali Jaber mengimbau untuk menggunakan HP dengan baik dan tidak menggunakannya untuk berbuat buruk seperti menshare berita bohong.

Reporter: Nur Syifa

Editor: Ibnu Syaifuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *