Syifa Ramadhina: Saya Bercadar dan Saya Kader NU

Banua.co, MARTAPURA – Saya bercadar dan saya kader NU, kata Syifa Ramadhina. Wanita kelahiran tahun 1998 ini adalah salah satu pengurus Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) PKPT Institut Agama Islam Darussalam.

Ramainya kontroversi film My Flag yang dituduh menghinakan cadar membuat banua.co tertarik memperbincangkan pengamalan bercadar sekaligus ber-NU dengan Syifa.

IMG 20201102 171752 1 1024x608 - Syifa Ramadhina: Saya Bercadar dan Saya Kader NU
Syifa Ramadhina, salah seorang kader NU yang kesehariannya memakai cadar.

Simak perbincangan banua.co berikut ini:

Assalamu’alaikum Syifa.

Wa’alaikumussalam wr wb.

Mohon maaf, sebelumnya kalau kami boleh tahu nama lengkap anda.

Syifa Ramadhina.

Anda kader NU?

Iya, saya kader NU dan saya bercadar. Hehehe.

Bagaimana sejarahnya anda memutuskan memakai cadar?

Mulanya saya tidak bercadar. Ketika saya masuk Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darussalam ada beberapa santriwati memakai cadar. Dari situ ketertarikannya.

Kenapa anda tertarik?

Saya melihat mereka nampak lebih tenang.

Berapa lama anda menyantri di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darussalam?

Tidak lama. Saya kan alumnus Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud Kandangan. Kemudian masuk Diniyah Darussalam sebentar. Setelahnya saya memilih kuliah di IAID Darussalam.

Kok bisa masuk Diniyah, kemudian berhenti dan memilih kuliah?

Mulanya saya tidak ingin kuliah. Makanya masuk Diniyah. Tapi kemudian niat untuk kuliah muncul. Toh masih di bawah naungan Darussalam juga.

Kenapa anda tidak ingin kuliah?

Pesantren saya dulu kan sistem boarding school. Isinya perempuan semua. Jadinya setelah lulus saya agak risih bila harus satu ruang kelas dengan pria. Makanya tidak tertarik untuk kuliah di sini. Maunya dulu kalau kuliah di Mesir. Namun karena tidak kesampaian, akhirnya saya memilih IAID Darussalam.

Bagaimana perasaan anda ketika memutuskan memakai cadar?

Awalnya saya ragu juga, khawatir tidak bisa kontinyu, hanya karena ikut-ikutan saja. Karenanya, mula-mula saya memakai masker dulu.

Berapa lama itu?

Hampir satu tahun saya memakai masker.

Cadar ini kan masalah khilafiyah. Kenapa anda memilih pendapat yang mewajibkan cadar?

Saya merasa lebih terjaga aja dengan cadar ini. 

Apa yang anda alami setelah memutuskan memakai cadar?

Setelah memakai cadar, saya merasa ada yang membentengi saya. Ada nilai-nilai identitas yang harus dijaga nama baiknya.

Ada yang mengatakan wanita bercadar lebih baik dari yang tidak memakai cadar. Bagaimana pendapat anda?

Tidak mesti juga. Semua kan tergantung masing-masing orangnya.

Anda ini kan aktivis Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama. Bagaimana reaksi teman-teman anda di organisasi?

Rekanita IPPNU tidak pernah mempermasalahkan cadar ini. Kebetulan di IPPNU Kabupaten Banjar bukan hanya saya yang bercadar, ada juga beberapa rekanita lain.

Jadi, pengurus IPPNU tidak mempersoalkan cadar ini?

Tidak sama sekali. Bebas saja mau memakai cadar atau tidak.

Bagaimana dengan pengurus NU lainnya?

Seluruh pengurus NU di sini, baik dari syuriah, tanfidziah, hingga lembaga dan banom tidak ada yang mempermasalahkan cadar.

Oh iya, ada pesan untuk para wanita yang bercadar?

Pesan saya, jangan terhasut opini fitnah bahwa NU anti cadar. Karena saya adalah kader NU dan pengurus Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama. Saya memakai cadar.

Baik Syifa, terimakasih atas kesediaan anda meluangkan waktu untuk wawancara.

Sama-sama.

Baca Juga: Maaf, Terpaksa Kurenggut Cadarmu: Film My Flag dan Kontroversinya.

Reporter: Shakira

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *