Tuan Guru Kasyful Anwar: Jangan Berguru Kepada Orang yang Suka Mencela

Banua.co, MARTAPURA – Diantara nasehat Tuan Guru Kasyful Anwar adalah agar jangan mengaji (berguru) kepada orang suka mencela orang lain.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Risalah Nurul Abshor, yaitu kitab manaqib Tuan Guru Kasyful Anwar susunan Haji Munawwar bin Ahmad Ghazali.

Dalam kitab manaqib tersebut, Tuan Guru Munawwar yang merupakan cucu dari Tuan Guru Kasyful Anwar mengutip nasehat kakeknya terkait menuntut ilmu. Berikut salinannya:

“Hai sekalian saudaraku, janganlah kamu mengaji melainkan ilmu yang menambah gemar kepada akhirat, dan menzuhudkan pada dunia. Dan janganlah kamu mengaji melainkan atas guru yang mengerti, yang takut ia akan Allah Ta’ala, dengan mengerjakan segala yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala dan menjauhi segala yang ditegahnya. Maka setengah daripada yang ditegah adalah sifat takabbur, dan dusta, dan mencela-cela orang, dan memuji dirinya. Maka menjauhi akan yang bersifat yang tersebut, menselamatkan agama”.

Nasehat agar jangan berguru kepada orang yang suka mencela orang lain dari mujaddid Pondok Pesantren Darussalam ini sangat relevan di jaman ini, di mana kadang ada seorang guru atau ustadz yang gemar mencela orang lain, hanya karena hal sepele. Perbedaan pandangan politik misalnya.

Tuan Guru Kasyful Anwar juga mengingatkan kepada orang alim atau ulama, apabila ditanya yang ia tidak tahu agar mengakui secara jujur.

“Seyogyanya bagi orang yang alim, apabila ditanya daripada masalah yang ia tiada mengetahui, bahwa ia mengata ‘tiada aku tahu’. Dan bahwasanya tiada mengurangkan kepadanya daripada martabarnya, tetapi menunjukkan wara’-nya dan sempurna ilmunya”.

Selain dimuat dalam kitab manaqib, nasehat Tuan Guru ini juga dimuat Tuan Guru Munawwar dalam kitab An Nashaihud Diniyah, yaitu kitab kumpulan nasehat-nasehat.

IMG 20201110 WA0095 1 - Tuan Guru Kasyful Anwar: Jangan Berguru Kepada Orang yang Suka Mencela
Nasehat Tuan Guru Kasyful Anwar

Tuan Guru Kasyful Anwar adalah seorang ulama besar dari Martapura, Kalimantan Selatan. Ulama kelahiran 4 Rajab 1304 Hijriah bertepatan 28 Maret 1887 ini dikenal memiliki ilmu yang luas dan dalam. 

Pada tahun 1313 Hijriah beliau berangkat ke kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama.

Selama bermukim di Makkah, selain menuntut ilmu, beliau juga sempat membuka halaqah pengajian di Masjidil Haram selama tiga tahun. Setelah selama 17 tahun di Makkah, pada 1330 beliau pulang ke kampung halaman, Martapura.

Menurut penuturan dari mulut ke mulut, beliau adalah tokoh dibalik layar berdirinya NU pertama di luar Jawa.

Beliaulah yang memerintahkan Tuan Guru Abdul Qodir Hasan untuk menghadiri muktamar pertama NU pada 13 Rabi’uts Tsani 1345 H bertepatan 21 Oktober 1926.

Baca Juga: Pesantren Darussalam Martapura, Kantor NU Pertama di Kalimantan.

Setelah pulang, Tuan Guru Abdul Qodir Hasan mendirikan NU pertama di luar Pulau Jawa. Ketika itu, Tuan Guru Kasyful Anwar mengijinkan Pondok Pesantren Darussalam yang dipimpinnya sebagai kantor NU.

Baca Juga: Ceramah di Unukase, Ini yang Disampaikan Khairullah Zain.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *