Terbongkar! Ini Rahasia Santripreneur Sukses Omset Milyaran Perbulan

Membincangkan kesuksesan kaum santri dalam berbisnis, kali ini banua.co mencoba bongkar rahasia santripreneur sukses yang dalam waktu singkat telah meraih omset milyaran perbulan.

Santri kelahiran tahun 1990 ini mengawali bisnisnya dengan modal setengah jutaan, namun dalam waktu kurang dari lima tahun, ia telah menjadi seorang santripreneur sukses dengan omset milyaran perbulan.

Menariknya, kendati telah sedemikian sibuknya dengan dunia usaha, pemilik bisnis Rizkia Fathia Group ini tetap mengabdikan diri sebagai seorang santri dengan aktif berdakwah. Meluangkan waktu dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk kepentingan dakwah adalah bagian dari hidupnya.

Berikut wawancara banua.co dengan Muhammad HR, santripreneur sukses alumnus Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Assalamu’alaikum

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarkatuh

Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk banua.co. Sebelumnya, kalau boleh tahu nama lengkap anda?

Muhammad saja. Namun karena terlalu pendek untuk standar nama jaman ini maka saya biasa disebut Muhammad HR. padahal HR itu singkatan nama ayah saya, Haji Romzi.

Oh, jadi Muhammad HR itu Muhammad Haji Romzi. Oh iya, anda ini terlihat muda. Lahirnya tahun berapa?

Saya lahir 15 Mei 1990.

Sudah berkeluarga?

Sudah. Saya menikah dengan Fathunnisa dan alhamdulillah kami sudah dikaruniai tiga anak.

IMG 20201111 WA0052 1 - Terbongkar! Ini Rahasia Santripreneur Sukses Omset Milyaran Perbulan
“Saya sudah menikah dan kami punya tiga anak”.

Katanya anda ini alumnus Pesantren ya?

Iya, saya mengawali pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Al Wardiyah, kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Darussalam. Setelahnya kuliah di STAI Darussalam. Itu yang sekarang menjadi Institut.

Tidak melanjutkan kuliah lagi?

Sempat kuliah pasca sarjana di UIN, namu karena kesibukan terhenti. Mungkin nanti, insya Allah dilanjut lagi.

Oh iya, anda ini alumni pesantren, tapi kok jadi pebisnis. Kenapa tidak menjadi da’i?

Saya pendakwah juga kok. Saya aktif mengasuh majlis pengajian dan sholawat. Saya juga sering mengisi undangan ceramah. Tapi kita kan juga perlu usaha untuk memperkuat ekonomi. Karenanya saya berbisnis. Kita dakwah kan bukan untuk cari makan, tapi untuk menyiarkan ajaran Islam.

Katanya usaha anda ini omsetnya sudah milyaran ya?

Iya, alhamdulillah, setiap bulan omset saya berkisar 1,5 milyar.

Bisa sebesar itu, memangnya sejak kapan anda berbisnis?

Saya memulai usaha sejak tahun 2016. Ya, masih baru. Mulanya usaha ini rintisan isteri saya. Saya masih kerja di tempat lain. Kemudian saya resign  dan memilih mengelola usaha ini bersama isteri.

Nah, ini menarik. Dengan usia bisnis belum mencapai 5 tahun, anda sudah sukses meraih omset milyaran. Ini memang dari awal sudah modal besar atau bagaimana?

Tidak, awalnya modal kami cuma lima ratus ribuan. Saya ini anak orang sederhana. Selagi sekolah tidak pernah diberi uang jajan, jadi tidak pernah belanja disekolahan. Karena bagi orang tua saya bisa makan aja sudah syukur. Saya ke Darussalam itu jalan kaki. Jam istirahat pulang ke rumah, biar tidak melihat teman-teman jajan ke warung. 

Apa kenangan paling berkesan ketika masih menyantri?

Ketika naik kelas, dahulu itu orangtua saya tidak punya uang untuk belikan kitab. Terpaksa mama saya harus menjual baju yang sudah dipakainya agar dapat duit untuk beli kitab. Selagi kuliah juga, pakaian saya itu belinya kasbah-an (pakaian bekas).

Ajaib juga ya. Apa barangkali Anda ini pekerja keras?

Sebenarnya tidak juga. Saya santai saja. Dibilang pekerja keras, saya masih bisa meluangkan waktu untuk ceramah, mengisi pengajian dan memimpin pembacaan sholawat.

Nah, kalau boleh tahu, apa rahasia sukses anda ini?

Sebenarnya kalau usaha ini yang lebih menonjolnya begini. Santri itu usahanya santai saja. Tapi amaliyahnya yang kuat.

Kalau boleh tahu, amaliah apa yang biasa anda rutinkan?

Ini sudah 8 tahun selalu rutin membaca manaqib Siti Khadijah. Sebelum pandemi Covid-19, saya setiap hari selalu berziarah ke makam Abah Guru Sekumpul. Setiap malam Jumat, semalam penuh saya berjamaah bersama santri membaca sholawat Dalail sampai khatam dan Qosidah Burdah, kemudian disambung baca maulid. Itu saya yang memimpin dan juga mendanai konsumsinya. Belum lagi amaliah-amaliah lainnya yang saya terima dari guru-guru saya. Nah mungkin karena rajin mengamalkan wirid dari guru dan sedekah itulah bisnis jadi cepat berkembang.

Sebelumnya anda pernah berbisnis juga? Misalnya selagi masih santri pesantren?

Tidak pernah. Saya ini benar-benar baru di dunia bisnis. Dulu taunya ngaji kitab saja sembari mengabdi di organisasi.

Oh, anda aktifis organisasi juga? Kalau boleh tahu di mana aktifnya?

Saya pernah menjabat sebagai ketua PC IPNU Kabupaten Banjar, Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor, Wakil Ketua PW IPNU Provinsi Kalimantan Selatan. Saat ini saya Bendahara PCNU Kabupaten Banjar.

FB IMG 1605061256256 1 - Terbongkar! Ini Rahasia Santripreneur Sukses Omset Milyaran Perbulan
“Siapa yang mengurus NU, jangan takut kelaparan”.

Baca Juga: Habib Hasan Bin Syahab: NU Benteng Terakhir Negeri Ini!

Wah mantap banget. Semuda ini anda sudah menjadi bendahara ormas besar tingkat kabupaten. Memang berapa gajinya?

Wah, di NU itu pengurus tidak ada gajinya. Semuanya mengabdi tanpa bayaran. Namun, saya meyakini kalau suksesnya saya ini tidak terlepas dari keberkahan mengabdi di Nahdlatul Ulama. Jangankan yang punya usaha, yang tidak punya usaha saja dijamin tidak akan kelaparan bila menjadi pengurus NU.

Maksudnya ustadz?

Dahulu, seorang kiai bernama Ridwan Abdullah pernah berkata, jangan takut kelaparan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah, bila sampai tidak makan silakan komplain aku, bila aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, tagihlah ke kuburku. Jadi mengabdi di NU itu termasuk amaliah supaya kaya juga.

Wah, ini mantap. Memangnya siapa Kiai Ridwan Abdullah itu?

Beliau salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Lambang NU itu beliau yang bikin. Mulanya beliau istikharah, minta petunjuk lambang apa yang cocok untuk organisasi NU. Kemudian beliau bermimpi melihat sebuah gambar di langit. Nah, setelah bangun, beliau gambar dan jadilah lambang NU yang kita kenal itu.

Oh iya, sebelum menutup perbincangan, sebagai santripreneur sukses dengan omset milyaran, apa tips anda untuk para santri?

Terus fokus belajar. Bila masih nyantri, jangan belajar sambil kerja atau kerja sambil belajar. Ketika orang belajar sambil bekerja kerjanya nggak bakal berhasil dan belajarnya pun nggak bakal berhasil. Jadi kita harus bisa memilih mau fokus belajar nyari Ilmu ataukah bekerja nyari duit.

Ada lagi?

Jangan merasa kecil hati ketika menjadi seorang santri. Karena seorang santri bisa menjadi apa saja. Bisa menjadi presiden seperti “Gusdur”, bisa menjadi wakil presiden seperti KH Ma’ruf Amin, bisa menjadi bupati, bisa menjadi pengusaha. Kalau menjadi ulama, itu sudah jelas aja. Pokoknya, bisa jadi apapun kalau kita seorang santri.

Oke, terimakasih ustadz telah meluangkan waktu berbincang dengan kami. Mungkin lain kali kita akan berbincang lagi tentang dunia usaha saat ini.

Sama-sama. Insya Allah, silakan jadwalkan saja kalau mau wawancara lagi.

Reporter: Rohmiah.

Editor: Shakira.

Baca Juga: KH Hasanuddin Badruddin: NU Harus Dipegang Kader Ulama.

Baca Juga: Jasa Kurir Gomeng, Strategi Bisnis ala Santripreneur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *