Profesor Fahmi Al Amruzi Bicara Anak Zaman Now di Webinar Fakultas Syariah IAID Martapura

Banua.co, MARTAPURA – Professor Fahmi Al-Amruzi menjadi narasumber di webinar “Merekonstruksi Pola Pikir Mahasiswa di Zaman Milenial” yang digelar DEMA Fakultas Syariah IAI Darussalam, Sabtu (14/11).

Professor Fahmi Al-Amruzi memaparkan langkah-langkah mahasiswa di era milenial.

Guru Besar UIN Antasari dan IAI Darussalam yang juga pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) wilayah Kalsel ini mengawali pemaparannya dengan menerangkan bagaimana masyarakat milenial tersebut.

“Banyak kalangan menyebut anak-anak muda zaman now sebagai generasi milenial, dengan tanda-tanda, keakraban penggunaan media komunikasi dan teknologi digital serta peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi,” ujarnya.

Tentu saja dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, sambung Prof Fahmi, generasi ini memiliki banyak peluang untuk bisa berada jauh dibanding generasi sebelumnya.

“Karakteristik lain dari generasi milenial adalah memiliki sifat yang lebih toleran terhadap sesamanya, hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin cepat, di mana anak muda zaman now dapat berinteraksi dengan manusia dari berbagai belahan dunia,” jelasnya.

Globalisasi membuat generasi milenial menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan, lanjut Prof Fahmi. Wawasan mereka terhadap keberagaman pun menjadi lebih luas, sehingga timbul sifat toleran yang cukup tinggi dari generasi ini.

Kemudian Prof Fahmi menerangkan pentingnya keaktifan dalam berkreatifitas dan inovatif bagi generasi milenial.

“Untuk menjadi anak muda zaman now yang kreatif, aktif, dan inovatif perlu membiasakan diri dengan pola hidup: Perbanyak membaca buku, menggunakan internet dan media sosial secara bijak, bersikap terbuka terhadap berbagai pengalaman baru, dan membangun ide dan visi ke depan,” paparnya.

Nah, kata Prof Fahmi, mahasiswa dituntut kritis. Selama ini, mahasiswa selalu identik dengan “Agent of change” atau agen sebuah perubahan sosial.

“Tantangannya bagaimana generasi mahasiswa zaman now ini memanifestasikan sifat kritisnya itu, tidak hanya mengkritik, tetapi harus menjadi bagian dari problem solver yang mampu membawa perubahan,” kata Prof Fahmi.

Melatih untuk berpikir kritis terhadap sesuatu dan menawarkan solusi yang masuk akal perlu dijadikan titik fokus pembelajaran bahkan penilaian.

Berpikir kritis, membuat orang mampu menyeleksi segala informasi yang ada, tekun dan menjadi generasi milenial yang bermutu menjadikan pemuda dan pemudi bangsa yang berintegritas dan berdaya saing.

“Generasi mahasiswa milenial memiliki tantangan berbeda dengan generasi sebelumnya, yaitu bagaimana mereka bisa berkarya dengan cara-cara yang inovatif serta menghasilkan suatu hal yang berguna  bagi masyarakat luas,” Jelasnya

Terakhir, Prof. Fahmi menjelaskan mengapa mahasiswa peka terhadap masalah kemasyarakatan.

Ada lima factor, kata Prof Fahmi, mengapa mahasiswa peka terhadap masalah kemasyarakatan:

  1. Sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat.
  2. Sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda.
  3. Kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi di antara mereka.
  4. Mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda.
  5. Seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat.

Reporter: Ahmad Sanusi

Editor: Ibnu Syaifuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *