Buya Said Aqil Siradj: Islam Menghendaki Kebenaran Secara Ilmiah, Bukan Berdasarkan Emosi

Banua.co, JAKARTA – Memberikan taushiah pada peringatan maulid Nabi yang dilaksanakan Fatayat NU, Senin (16/11), Buya Said Aqil Siradj mengatakan bahwa Islam menghendaki kebenaran secara ilmiah, bukan berdasarkan emosi.

“Kebenaran ilmiah bisa ditemukan tidak harus selalu dari sesama orang Islam”, katanya.

Baca Juga: Buya Said: Mengenal Rasulullah Cuma Sebagai Makhluk Paling Mulia, Itu Kelas Awam.

Ketua Umum PBNU ini kemudian mengutip tafsir ayat 43 Surah An Nahl, ‘Maka bertanyalah kepada ahludz dzikr jika kamu tidak mengetahui’.

“Silakan buka kitab-kitab tafsir, siapa yang dimaksud ‘ahlu dzikr’ di ayat tersebut. Muballigh sering mengatakan tanyalah ustadz bila tidak tahu, itu salah. Ahludz dzikr disitu maksudnya ahlul kitab. Silakan baca tafsir. Itu tafsirnya silakan bertanya kepada ahlul kitab, bila kamu tidak mengetahui”, lanjutnya.

Itu artinya, kata Buya Said, Alqur’an membangun masyarakat Islam yang terbuka, yang toleran, yang mampu menerima kebenaran dari manapun.

“Ini agar umat Islam menjadi umat yang bermartabat, dewasa, mampu menerima kebenaran, belajar dan menuntut ilmu dari guru siapapun. Belajar dari non muslim, dari Amerika, dari Jepang, Korea, Australia, tidak harus dari sesama orang Islam”, katanya.

Buya Said menceritakan ketika Nabi Muhammad SAW baru tiba di Madinah, beliau melihat para sahabat di Madinah adalah petani kurma, dan mereka mengawinkan bunga kurma. Nabi berpendapat tidak usah dikawinkan. Para sahabat pun tidak mengawinkan lagi bunga kurma. Ternyata tahun itu hasilnya buruk. Kurma tidak berbuah. Maka Nabi pun mengatakan, “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”.

“Itu artinya Islam menghendaki umatnya segala sesuatu berdasarkan ilmiah. Berdasarkan teknologi. Berdasarkan kebenaran yang berdasarkan ilmu, bukan hanya emosi. Kalau emosi kan, alah kalau Tuhan memberikan buah juga berbuah”, jelas alumnus pesantren Lirboyo ini.

Baca Juga: Inilah Kunci Sukses Rasulullah SAW, Menurut Professor Fahmi Al Amruzi.

Prinsip berpegang pada kebenaran berdasarkan ilmiah bukan berdasarkan emosi itu kemudian diikuti oleh para sahabat dan para tabi’in. Sehingga di generasi para tabi’in, terutama abad ke2 Hijriyah, muncul beberapa ulama yang jenus, pintar, ahli agama maupun ahli ilmu pengetahuan.

“Imam Syafi’i berusaha menggabungkan antara Alqur’an, Hadits dan Akal. Akal ada dua, akal kolektif yaitu Ijmak dan akal individual yaitu Qiyas. Jadilah ilmu Fikih dan Ushul Fikih. Imam Asy’ari menggabungkan antara Nash dan Akal, muncullah teori lima puluh aqaid”, jelasnya.

Ketua Umum PBNU ini juga menceritakan bahwa umat Islam pertama kali belajar ilmu mantiq dan ten categories (maqolat) pada mulanya kepada Yahya atau John, seorang intelektual Kristen.

Yahya ad-Dimasqi adalah putra Georgios, dokter pribadi Khalifah Mu’awiyah yang beragama Kristen. Namun Yahya tidak mau mengikuti ayahnya tinggal di istana khalifah. Ia lebih memilih membuka majlis ilmu Logika Aristotelian kepada umat Islam di Ramallah, Palestina.

Dari majlis ilmu Yahya Ad Dimasqi atau John yang beragama Kristen Ortodoks inilah akhirnya umat Islam mengenal teori ilmu logika dan ten categories.

“NU harus punya prinsip terbuka, dalam arti mencari kebenaran, mengambil kebenaran, sumbernya atau datangnya dari mana saja, asal bermanfaat dan berguna bagi kita semua”, nasehatnya.

Kendati membuka pintu untuk belajar ke mana saja, Kiai Said mewanti-wanti agar tetap mempertahankan agama, tradisi dan budaya semula yaitu Indonesia.

“Tapi kita tidak boleh lepas dari karakter dan kepribadian, jati diri sebagai bangsa Indonesia”, katanya.

Doktor jebolan Ummul Quro University Makkah ini kemudian mencontohkan dirinya, Gus Dur, Gus Mus, Quraish Shihab dan Said Aqil Munawwar. Meski mereka sekolah di Arab tapi pulang bawa ilmu bukan bawa budaya Arab. Ada pula yang sekolah di Barat, seperti Azyumardi Azra dan Yudian Wahyudi yang kuliah di Amerika, pulang tetap menjadi orang Indonesia.

“Ini yang harus kita pegang. Tidak boleh bergeser dari kepribadian kita. Kalau kita ingin terus mengawal keutuhan NKRI atau keberadaan NKRI”, nasehatnya.

“Kalau tidak, jangan-jangan tidak sampai 100 tahun NKRI akan bubar, kalau budaya,karakter tidak kita pertahankan. Ilmu kita ambil dari mana saja, teknologi kita ambil dari mana saja, tapi prinsip dan budaya kita harus kita pertahankan”, wanti-wantinya.

Baca Juga: Ceramah Maulid di Unukase, Ini yang Disampaikan Khairullah Zain.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *