Ditolak Madrasah Bergengsi, Ternyata Wali Quthbul Ghauts

Ditolak masuk madrasah bergengsi tidak mematahkan semangat pria ini. Bahkan, kelak ia menjadi seorang wali agung sepanjang sejarah, Wali Quthbul Ghauts atau pimpinan seluruh wali.

Oleh: Khairullah Zain

Wali Quthbul Ghauts ini lahir pada Senin, 1 Ramadan 470 Hijriah. Ayahnya wafat ketika ia masih dalam kandungan usia 6 bulan. Harta yang diwariskan pun tidak seberapa, karena ayahnya termasuk orang yang ekonominya sederhana.

Kendati demikian, ia bertekad untuk menjadi seorang ulama. Karenanya ia meninggalkan kampung halamannya, demi bisa menuntut ilmu di lembaga pendidikan bergengsi yang reputasinya tinggi, Madrasah An Nizamiyah di Baghdad. 

Madrasah An Nizamiyah sangat terkenal ketika itu. Banyak para tokoh ulama mengajar di sana. Seorang ulama besar yang dikenal menguasai bermacam bidang ilmu, yaitu Imam Muhammad bin Muhammad Al Ghazali, pernah menjadi pimpinan di madrasah ini. 

Sayang sekali, ketika mendaftarkan diri ingin belajar di Madrasah An Nizamiyah, ia harus menahan kecewa karena tidak diterima. Kala itu madrasah An Nizamiyah dipimpin oleh Imam Ahmad Al Ghazali, adiknya Imam Al Ghazali.

Namun, semangat menuntut ilmunya tidak patah. Ia lantas memilih belajar di luar madrasah. Ia mendatangi beberapa ulama dan mengajukan diri menjadi murid mereka. Ia malah merasa beruntung, karena dengan tidak belajar di madrasah bisa lebih bebas untuk berkhalwat dan tafakkur.

Beberapa nama ulama besar tercatat menjadi gurunya. Diantaranya Syekh Ibn Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al-Farra, Abu Sa’ad al-Mukharrimi, dan para ulama lainnya.

Kepada mereka ia menimba ilmu mulai dari ilmu-ilmu ushul hingga menguasai perbedaan pendapat antar ulama.

Karena kecerdasannya, kelak salah seorang gurunya, yaitu Abu Sa’ad al-Mukharrimi tertarik membangunkan madrasah kecil untuknya. Ternyata madrasah tersebut berkembang hingga tidak mampu menampung banyaknya peminat.

Banyak murid-muridnya kelak yang menjadi ulama besar. Syekh Ibnu Qudamah Al-Hanbali penyusun al-Mughni dan al-Hafizh Abdul Ghani penyusun ‘Umdatul Ahkam hanya sekian kecil diantara murid-muridnya yang sukses menjadi ulama besar dan terkenal.

Ia memang sangat mencintai murid-muridnya. Membimbing mereka dengan sungguh-sungguh dan kasih sayang. Seorang muridnya, Ibn Qudamah, menceritakan pengalamannya:

“Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian kepada kami. kadang ia mengutus putranya yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam sholat fardhu”.

Sebagai seorang guru, ia pernah berkata:

“Seorang guru tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter ini telah mendarah daging dalam dirinya, dua karakter dari Allah yaitu menjadi seorang sattar (suka menutup aib) dan ghaffar (pemaaf), dua karakter dari Rasulullah yaitu penyayang dan lembut, dua karakter dari Abu Bakr yaitu jujur dan dapat dipercaya, dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar, dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun malam, dua karakter dari Ali yaitu cerdas dan pemberani”.

Bukan hanya mengajar di sekolah, kelak ia juga memberi fatwa kepada masyarakat. Ia mampu menjawab pertanyaan dari semua madzhab. Ia jua meninggalkan warisan karya tulis. Tercatat ada 17 judul karyanya yang telah dipublikasikan. Meski sebagian bukan karangannya, namun catatan murid-muridnya atas kuliah-kuliah yang pernah disampaikannya.

Ia juga mempunyai jalur nasab emas. Ayahnya keturunan ke 10 Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Nama ayahnya Abi Sholeh bin Janky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Sedangkan ibunya adalah keturunan ke 12 Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Namanya Ummul Khair Fathimah binti Abdullah ‘Atha bin Mahmud bin Kamaluddin Isa bin Abi Jamaluddin bin Abdullah Sami’ Az-Zahid bin Abu Ala’uddin atau Imam al-Jawwad bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal ‘Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib

Dengan demikian, pada dirinya mengalir dua darah mulia cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaih wa Aaalih wa Sallam.

Usia 91 ia wafat, tepatnya pada 11 Rabi’ul Akhir 561. Ia meninggalkan 20 putra dan 29 putri dari empat orang isteri.

Kelak, ia dikenal bukan hanya sebagai ulama, tapi sebagai seorang wali agung alias Wali Quthbul Ghauts. Karena ia juga mendirikan tarekat terbesar sepanjang sejarah, yaitu tarekat Qodiriah, sesuai dengan namanya Abdul Qodir al-Jailani. Tarekatnya kemudian berkembang dan bercabang menjadi banyak tarekat.

Iya, tokoh kita ini adalah Quthbul Maqom wa al-Ghautsul A’zhom asy-Syaikh Abdul Qodir al-Jailani.

Baca Juga: Kisah Sufi dari Sekumpul.

Baca Juga: Amaliah Utama Abah Guru Sekumpul.

Editor: Shakira.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *