Kenali Perbedaan Risywah (Suap) dengan Hadiah

Banua.co – Sudah selayaknya setiap muslim mampu mengenali perbedaan antara risywah (suap), hibah, hadiah, dan sedekah. Karena secara kasat mata, empat kategori ini sama-sama berupa pemberian. Namun, sejatinya ada perbedaan.

Secara hukum, perbedaannya jelas sebagaimana diterangkan dalam nash, baik dalam ayat suci al-Qur’an ataupun al-Hadits. Risywah atau suap dihukumkan haram alias dilarang, sedangkan sedekah hukumnya sunnah, adapun hadiah maka terkadang dianjurkan.

Imam an-Nawawi dalam Raudhah at-Thalibin mengatakan:

قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقا والهدية جائزة في بعض فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين

“Kami telah menyebutkan bahwa risywah haram secara mutlak. Adapun hadiah boleh di sebagian kondisi. Maka yang menjadi tuntutan adalah perbedaan antara hakikat keduanya, padahal pemberi (risywah dan hadiah) sama-sama senang pada (memberikan) keduanya. Adapun cara membedakan antara keduanya ada dua jalan”.

Cara pertama mengenali perbedaan antara risywah, hadiah, dan sedekah menurut Imam an-Nawawi adalah sebagaimana dijelaskan Qodhi Yusuf bin Ahmad (Wafat 405 H):

أحدهما ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلقة

“Cara pertama sebagaimana dijelaskan Ibnu Kaj (maksudnya Qodhi Yusuf bin Ahmad), bahwa yang namanya risywah adalah yang mensyaratkan atas yang menerimanya memutuskan hukum dengan tidak benar, atau menegah dari memutuskan hukum yang benar, sedangkan hadiah adalah pemberian secara mutlak (tanpa adanya syarat)”.

Adapun cara kedua mengenali perbedaan antara risywah, hibah, hadiah, dan sedekah adalah sebagaimana dijelaskan al-Imam al-Ghazali:

والثاني قال الغزالي في الإحياء المال إما يبذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة وإما لعاجل وهو إما مال فهو هبة بشرط ثواب أو لتوقع ثواب وإما عمل فإن كان عملا محرما أو واجبا متعينا فهو رشوة وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة وإما للتقرب والتودد إلى المبذول له فإن كان بمجرد نفسه فهدية وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد فإن كان جاهه بالعلم أو النسب فهو هدية وإن كان بالقضاء والعمل فهو رشوة

“Imam al-Ghazali mengatakan dalam Ihya, bahwa harta terkadang diberikan karena ada tujuan balasan di akhirat, maka ini namanya qurbah dan sedekah. Terkadang diberikan pula untuk tujuan balasan di dunia. Balasan di dunia ini bisa berupa harta, maka ini dinamakan hibah, dengan syarat balasan atau akan terjadinya balasan. Bisa pula balasannya berupa perbuatan. Maka jika balasannya berupa perbuatan yang diharamkan, atau perbuatan yang telah diwajibkan atasnya (misal sudah memang tugasnya), maka (pemberian harta atasnya) dinamakan risywah. Namun, jika balasan (yang diharapkan tersebut) perbuatan yang mubah (bukan haram, bukan pula kewajiban/tugas), maka dinamakan ijarah (upah) atau ji’alah (sayembara). Dan terkadang pemberian harta tersebut karena mengharap kedekatan atau kecintaan dari yang diberi. Maka jika semata-mata yang diharapkan adalah kedekatan atau kecintaan itu dari pribadinya, pemberian disebut hadiah. Adapun jika yang diharapkan supaya dengan kedudukan (orang yang diberi) mencapai suatu tujuan atau kepentingan, maka jika kedudukan tersebut karena ilmu atau nasab mulia, maka disebut hadiah, namun bila yang diharapkan berupa keputusan hukum atau kebijakan pejabat, dinamakan risywah”.

Baca Juga: Tasawuf, Posisi Penting al-Imam Al-Ghazali.

Untuk lebih jelasnya, kita uraikan kembali perbedaan antara risywah, hibah, hadiah, dan sedekah tersebut:

1. Risywah: Pemberian harta karena mengharapkan balasan berupa melakukan perbuatan yang diharamkan, atau perbuatan yang memang sudah tugas dan kewajibannya untuk melakukan (sudah digaji), atau berupa keputusan/kebijakan hukum yang tidak sesuai dengan kebenaran.

2. Hibah: Pemberian harta dengan mengharapkan balasan diberi harta pula.

3. Ujrah dan Ji’alah: Pemberian harta karena mengharapkan balasan berupa perbuatan mubah (yang diperbolehkan), misal membantu pekerjaan dan semacamya.

4. Hadiah: Pemberian harta karena mengharapkan terjalinnya kedekatan dan kecintaan karena pribadi yang diberi, atau karena faktor luar berupa ilmu dan nasab mulia.

Dengan demikian, meski sama-sama berupa pemberian, ada perbedaan yang jelas antara risywah, hibah, hadiah, sedekah, ujrah, dan ji’alah.

Baca Juga: Termasuk Kewajiban Suami Menyediakan Rokok untuk Isteri!

Penulis: Khairullah Zain.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *