JATMAN Ucapkan Bela Sungkawa atas Wafatnya Muqoddam Tarekat Tijaniyah

Banua.co, JAKARTA – Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyah (JATMAN) mengucapkan bela sungkawa atas wafatnya Muqoddam Tarekat Tijaniyah, Buya Ahmad Anshari bin Hasan Basri Al Banjari (23/11).

Baca Juga: Menjelang Wafat, Buya Ahmad Anshari: Saya Akan Dijemput Rasulullah SAW.

Hal ini disampaikan Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al- Mutaba’ah An Nahdliyah (JATMAN) secara tertulis yang ditandatangani oleh Rois ‘Am Jatman Habib Luthfi Ali Bin Yahya, Katib ‘Am K H Ahmad Zaini Mawardi, Plt Mudir ‘Am Habib Umar Mithohar, dan Sekretaris Jenderal DR KH Mashudi.

“Turut Berbela Sungkawa atas Wafatnya KH. AHMAD ANSHORI Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Qur’an dan Muqoddam Thoriqoh Tijaniyah Kalimantan Selatan pada hari Senin, 23 November 2020 M / 8 Rabi’ul Akhir 1442 H, Jam 09.00 pagi”.

Baca Juga: Biografi Habib Luthfi Bin Yahya.

Untuk diketahui, Buya K H Ahmad Anshari bin Hasan Basri Al-Banjari adalah seorang muqoddam Tarekat Tijaniyah yang mendirikan dan mengasuh lebih dari 60 zawiyah yang tersebar dari Kalimantan hingga Sumatera, pengasuh pondok pesantren, penulis buku agama, pengusaha, dan pendakwah.

FB IMG 1606154543463 - JATMAN Ucapkan Bela Sungkawa atas Wafatnya Muqoddam Tarekat Tijaniyah
Buya Ahmad Anshari bersama anak-anak santri tahfizh yang diasuhnya.

Pria kelahiran Banjarmasin pada 16 November 1956 ini juga dikenal sebagai pengusaha travel biro untuk pembe­rang­katan haji dan umrah.

Selain itu, Buya Anshari, demikian ia akrab disapa jama’ahnya, juga dikenal sebagai pendakwah. Namun dakwah­nya sebatas sebagai menjadi khatib Jum’at, pengajian khusus, serta khutbah nikah. Sebab, ia lebih menitikberatkan mem­bina umatnya, ikhwan Tijaniyah.

Buya Anshari juga dikenal sebagai penulis buku-buku keagamaan yang andal. Diantaranya Syarah Qosidah Burdah yang rencananya sebanyak 162 Jilid.

Sementara, Tarekat At-Tijaniyah sendiri adalah salah satu tarekat yang diakui sah dan muktabar oleh Nahdlatul Ulama.

Keabsahan ini telah dibahas dan diputuskan dalam Muktamar Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ke III tahun 1928 di Surabaya, kemudian diperkuat lagi dengan Muktamar NU ke VI tahun 1931 di Cirebon.

Tarekat yang didirikan oleh Syekh Ahmad At-Tijani ini dikenal dengan Sholawat Fatih yang masyhur diamalkan oleh kaum Muslimin, tidak terbatas Ikhwan Tijani saja.

Khusus ikhwan Tijaniyah yang sudah berbaiat, mereka mendapat amalan wiridan yang terdiri dari istighfar, sholawat, dan dzikir.

Ada tiga tipe wiridan Tarekat Tijaniyah, yaitu Wirid Lazim, Wirid Wazifah, dan Wirid Haylalah.

Reporter: Rohmiah.

Editor: Shakira.

Baca Juga: Sejarah Perkembangan Tarekat Tijaniyah di Banua Banjar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *