Resmi, Peringatan Haul Syaikh Muhammad Nafis Ditiadakan

Banua.co, TABALONG – Peringatan haul Syaikh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari yang sedianya jatuh pada hari Sabtu (5/12) pekan depan akhirnya ditiadakan.

Keputusan peniadaan acara peringatan haul ini terungkap setelah pihak pengelola makam Syaikh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari mengeluarkan surat pada Kamis (26/11).

IMG 20201127 WA0003 - Resmi, Peringatan Haul Syaikh Muhammad Nafis Ditiadakan
Makam Syaikh Muhammad Nafis

Peniadaan acara peringatan haul penyusun kitab Tasawuf Ad Durrun Nafis yang bermakam di Desa Binturu Kecamatan Kelua ini berdasarkan hasil rapat panitia, masyarakat sekitar, pemerintah desa dan pemerintah Kabupaten Tabalong pada Senin (23/11).

Dalam rapat tersebut disepakati Haul alAkbar Syaikh Muhammad Nafis ke 208 tahun 2020 ditiadakan.

“Mari kita saling berusaha menjaga sikap dan perilaku untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa berdampak negatif untuk banyak orang”, tulis surat resmi yang dikeluarkan oleh Panitia Pengelola Makam Syaikh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari.

IMG 20201126 WA0058 - Resmi, Peringatan Haul Syaikh Muhammad Nafis Ditiadakan
Surat Keputusan Panitia Tentang Peniadaan Haul

Surat ini ditandatangani oleh Ketua Panitia Pengelola Makam Syaikh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari, H Khairani dan sekretarisnya Erpan Suwandi.

Sebelumnya beredar pamflet dimedia sosial bahwa peringatan Haul Syaikh Muhammad Nafis ke 208 ini diadakan pada Sabtu (5/12) dengan mengundang penceramah KH. Muhammad Kurnain.

Pada tahun-tahun sebelumnya acara haul Syaikh Nafis dipadati oleh ribuan jamaah yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan.

Syaikh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari merupakan ulama yang sezaman dengan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan).

Nasab Syaikh Muhammad Nafis bersambung hingga Sultan Suriansyah yang merupakan Sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dengan demikian Syaikh Muhammad Nafis bisa disebut pangeran karena ada darah bangsawan di dalam dirinya.

Syaikh Muhammad Nafis tidak menyukai hingar bingar dunia istana. Sebab itulah ia hijrah dari Martapura ke daerah Kelua, tepatnya di Desa Takulat, untuk mendakwahkan ilmu agama yang ia tuntut selama belajar di Haramain (Makkah dan Madinah.red).

Berkat kegigihannya berdakwah, pada abad ke 18 dan 19 daerah Kelua dikenal sebagai pusat penyebaran agama islam di bagian utara Kalimantan Selatan.

Baca Juga: Beberapa Haul Akbar yang Ditiadakan Akibat Pandemi Covid-19.

Baca Juga: Resmi, Putra Abah Guru Sekumpul Keluarkan Imbauan Terkait Haul 2020.

Reporter: Muhammad Abdillah.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *