Strategi Dakwah Ulama Banua

Mungkin -wallahu a’lam- strategi inilah diantara kunci keberhasilan dakwah para ulama banua. Mereka melakukan analisa sebelum kemudian mendakwahi sesuai dengan realitas.

Oleh: Khairullah Zain.

Foto saya 150x150 - Strategi Dakwah Ulama BanuaMenurut Ali Syariati, untuk membuat analisa masyarakat secara tepat, tidaklah cukup bagi para intelektual untuk hanya mengenal aliran-aliran pikiran Eropa (saya memaknainya secara umum, yaitu aliran pikiran di luar masyarakat setempat) di satu pihak dan realitas masyarakatnya sendiri di pihak lain. Melainkan harus menggunakan istilah-istilah, kebudayaan, filsafat, dan sastra yang berkembang di masyarakat yang sedang diteliti. Lihat, Ali Syariati, Sosiologi Islam, terj. (Yogyakarta: Ananda, 1982).

Ini menarik bila kita sandingkan dengan penekanan Abah Guru Sekumpul agar para da’i berdakwah di kampungnya sendiri.

Demikian pula strategi dzuriat Datuk Kalampayan yang menikah dan menjadi penduduk setempat, sebelum berdakwah di suatu daerah. Bahkan kemudian tinggal hingga wafat dan bermakam di daerah tersebut.

Saya kira, tahapan strategi dakwah ulama banua begini :

1. Sebelum berdakwah kita harus menganalisa kondisi sosial masyarakat di medan dakwah.

2. Untuk menganalisa, harus berdasarkan realitas, baik itu istilah, budaya, filsafat, karakter dan lainnya yang berkembang di masyarakat tersebut.

3. Caranya, bila bukan daerah di mana kita lahir, tumbuh, dan membesar, maka setidaknya harus menjadi masyarakat setempat. Bertempat tinggal dan berinteraksi dalam waktu yang tidak sebentar, untuk kemudian mampu memahami.

Hal ini karena jangankan antar negara, antar daerah dalam suatu wilayah provinsi saja bisa berbeda karakternya, juga tradisi, intelektual, dan sosialnya.

Seorang teman bercerita, dalam suatu pertemuan dengan guru kami Tuan Guru Muhammad Bakhiet, beliau mengatakan, “Lebih mudah memberi pengajian di Barabai ketimbang memberi pengajian di Banjarmasin. Karena yang hadir di Banjarmasin tingkat intelektualnya banyak yang lebih tinggi”.

Secara karakteristik juga ada perbedaan antara jamaah di Banjarmasin yang umumnya masyarakat perkotaan dengan di Barabai yang umumnya masyarakat pedesaan.

Bila hal diatas terkait dengan suatu kelompok masyarakat, maka yang berkaitan dengan perorangan, Abah Guru Sekumpul sering menceritakan bahwa Tuan Guru Samman Mulya, sebelum mendakwahi seseorang beliau terlebih dahulu menemaninya beberapa tahun, untuk mengenali karakternya. Tidak baru kenal serta merta mendakwahi.

Mungkin -wallahu a’lam- strategi inilah diantara kunci keberhasilan dakwah para ulama banua. Mereka melakukan analisa sebelum kemudian mendakwahi sesuai dengan realitas.

Menurut Sampeyan?

Baca Juga: KH Hasanuddin: NU Harus Dipegang Kader Ulama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *