Waspada Belajar Agama di Dunia Maya!

Waspada belajar agama di dunia maya! Kenapa? Begini, kita hidup di mana informasi sangatlah mudah didapati. Segala hal yang berkaitan dengan kabar, berita di seberang pulau atau di seberang benua bisa kita dapatkan dengan sekali klik di layar hape. 

Oleh: Muhammad Abdillah *)

FB IMG 1603701558058 1 150x150 - Waspada Belajar Agama di Dunia Maya!Di dunia maya kita banyak menjumpai ustadz-ustadz dadakan yang tidak diketahui sumber keilmuannya, berguru kepada siapa dan alumni pesantren mana.

Sepemantauan saya, mungkin 50 persen atau lebih pendakwah yang menggunakan Facebook dan Instagram adalah ulama dadakan yang bisa berfatwa semaunya, terutama akun dakwah yang isinya hanya provokasi semata.

Akun-akun dakwah ini menyebarkan kata-kata motivasi menarik perihal agama. Dengan gaya modern dan gambar ilustrasi yang keren, akhirnya akun dakwah ini akhirnya menjadi semacam darul ifta (tempat minta fatwa) di zaman sekarang.

Warganet banyak dikelabui, memilih mempercayai akun dakwah ketimbang kyai kampung atau santri yang baru lulus mondok.

Minus kepercayaan terhadap kyai kampung ini disebabkan karena mereka merasa lebih berilmu. Pun belajar melalui gadget itu lebih mudah ketimbang harus duduk di majlis pengajian selama sejam dua jam.

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Tidak lain alasannya adalah karena manusia modern terobsesi dengan sesuatu yang cepat, ringkas dan mudah. Sehingga melupakan proses panjang dari menuntut ilmu agama. Padahal menuntut ilmu ada aturannya.

Disebutkan dalam kitab Ta’lim Al Muta’allim, Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah berkata, “Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat, Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci, yaitu: kecerdasan, sungguh-sungguh, kesabaran, ada biaya, ada bimbingan guru, dan waktu yang lama.“

Dari perkataan Sayyidina Ali Karramallahu wajhah tersebut bisa diambil poin pentingnya, yaitu dalam menuntut ilmu kita harus memiliki kecerdasan.Sebab jika tidak cerdas kita tidak bisa mencerna ilmu.

Kecerdasan yang dimaksud bisa berarti pemberian dari Allah seperti memiliki kekuatan menghapal atau bisa berarti kecerdasan yang didapat melalui usaha (muktasab). Karena pada hakikatnya semua manusia sudah diberikan Allah kecerdasan, tergantung si penerimanya saja, apakah mau menggunakan kecerdasannya atau menyia-nyiakannya. Misalnya dengan melakukan kegiatan yang merusak otak seperti menjadi pecandu narkoba, peminum alkohol, dan penikmat video porno.

Poin yang kedua dan ketiga adalah bersungguh sungguh dan kesabaran. Jika penuntut ilmu tidak bersungguh sungguh dan tidak sabar saat proses menuntut ilmu, maka hasilnya akan sia sia.

Point yang keempat dari syarat menuntut ilmu adalah adanya biaya. Seorang penuntut ilmu tentu saja memerlukan biaya. Terutama untuk membeli kitab, biaya makan sehari hari, transportasi dan lain-lain.

Point yang kelima, seorang penuntut ilmu sangat memerlukan petunjuk dari guru.

Dalam hal ini kita tidak bisa sembarangan memilih guru. Hendaknya kita berguru kepada orang yang jelas sanad keilmuannya, jelas Ahlussunnah wal Jama’ahnya. Kita musti mengetahui orang yang akan menjadi guru kita pernah mengenyam pendidikan di mana.

Point terakhir dari syarat menuntut ilmu adalah waktu yang panjang.

Dalam dunia pesantren, mempelajari tafsir tidak sebentar. Belajar hadits perlu tahunan. Belajar fikih butuh waktu lama. Padahal sebelumnya, harus mempelajari ilmu nahwu, sharaf dan ilmu alat lainnya.

Jadi menuntut ilmu itu tidak mudah lho Gaes, banyak rintangan yang harus dilewati dan tantangan yang musti dihadapi. Tidak sedikit para penuntut ilmu di pesantren yang terjungkal setelah setahun dua tahun mondok. Memilih berhenti dan keluar dari pondok.

Seorang santri biasanya tidak hanya terkendala dengan biaya saat menuntut ilmu.

Kaum Sarungan ini juga memiliki ujian lain yang lebih berat yaitu tergoda dengan Santriwati! Sungguh ujian yang berat, tetapi hasilnya adalah beruntung dunia akhirat.

Akhirnya bisa kita simpulkan, kalaupun ingin belajar agama di dunia maya, maka kita harus bijak mengenai siapa yang kita ikuti, harus ketat menyaring segala informasi. Pilihlah guru yang benar-benar anda ketahui latar belakang pendidikannya. Plus, jangan tergoda provokasi dan hasutan si penyebar kebencian yang berkedok akun dakwah.

Penting kita ingat selalu, wasiat Syaikh Kasyful Anwar (Pimpinan Periode III Pondok Pesantren Darussalam Martapura) kepada santrinya, “Janganlah kamu belajar ilmu kepada orang yang sombong, suka mencaci maki dan menggibah orang lain. Meninggalkan orang seperti ini adalah menyelamatkan agama”.

Baca Juga: Urgensi Akal dan Nalar dalam Beragama.

*) Penulis adalah santri Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *